"Kuliner di Solo Terkenal Mengandung Kolesterol Tinggi"

Salah satu kuliner khas Solo, tengkleng Bu Edy. (JIBI/Solopos - Dok.)
11 Mei 2017 11:30 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Banyak kuliner di Solo yang mengandung kolesterol dan lemak tinggi.

Solopos.com, SOLO — Industri kuliner di Solo mendapat tantangan. Standardisasi kesehatan, kebersihan, serta sertifikasi halal menjadi tuntutan pengembangan industri kuliner untuk menembus pasar internasional.

Menurut Ketua Forum for Economic Development and Employed Promotion (Fedep) Solo, M. David R. Wijaya, selama ini kuliner di Kota Solo terkenal dengan tidak “sehat”. “Kuliner Solo terkenal mengandung kolesterol tinggi, seperti tengkleng, sate kere, nasi liwet dan lainnya,” kata dia dalam workshop Strategi Penguatan Wisata Kuliner Kota Solo di Omah Sinten, Rabu (10/5/2017).

Namun kini seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, menuntut pelaku usaha kuliner untuk berbenah diri. Pelaku usaha diharapkan tak hanya mengedepankan tampilan dan rasa dari hidangan yang dijajakan. Melainkan juga memperhatikan aspek kesehatan dan kebersihan terhadap makanan dan minuman yang dijual. Solo, sebagai daerah yang terkenal dengan destinasi wisata kulinernya diharapkan dapat mewujudkan wisata kuliner dengan cita rasa menarik, higienis, dan sehat.

“Ini menjadi tantangan bagi Solo sebagai destinasi kuliner nomor satu sehingga dapat menenuhi kriteria pasar,” tuturnya.

Saat ini, dia mengatakan belum banyak pelaku usaha kuliner Solo yang memperhatikan kesehatan dari hidangan yang disajikan. Hal ini juga yang membuat banyak wisatawan khususnya mancanegara lebih selektif memilih makanan saat berkunjung ke Solo.  Dia pun mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk mewujudkan kota kuliner sehat sehingga wisatawan baik domestik maupun mancanegara tak ragu-ragu saat berburu kuliner di Solo.

“Untuk mewujudkan kuliner sehat memang diperlukan riset terkait gizi dan lainnya terhadap makanan atau minuman. Selain itu harus melalui pemeriksaan Badan Penelitian Obat dan Makanan (BPOM) dan penerbitan sertifikat khusus,” katanya.

Namun demikian, riset untuk mewujudkan kuliner sehat dapat dilakukan Pemkot Solo bersama pelaku usaha dengan menggandeng lembaga riset yang dimiliki berbagai perguruan tinggi di Solo.  Bahkan dia berharap hal tersebut juga dapat dilakukan terhadap makanan-makanan khas Solo yang dijual dalam bentuk kemasan. Dia yakin bila  kuliner di Solo telah memiliki standarisasi aspek kesehatan akan meningkatkan minat pasar.

“Makanan sehat yang higienis perlu dilakukan. Pasar Eropa saja mulai mengeliminir lemak pada daging, mencari treatment [cara memperlakukan] dan terobosan. Begitu pun di Solo, seperti tengkleng atau Sate Kere ke depan bagaimana tak hanya nikmat tapi juga higienis dan sehat bagi konsumen,” katanya.

Dia menyadari dengan sertifikasi kuliner sehat imbasnya terhadap harga yang jauh lebih tinggi. Namun, ia menyakini secara bertahap masyarakat akan menerimanya. Peran aktif Pemkot untuk menyosialisasikan kuliner sehat kepada warga dan wisatawan sangat diperlukan.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Solo, Daryono mengatakan destinasi wisata kuliner perlu dikembangkan karena kuliner merupakan pos pembelanjaan tertinggi wisatawan. Jumlah perputaran uang pun sangat tinggi, serta mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak.

Adapun enam kriteria destinasi wisata, yaitu kelayakan produk, termasuk berkaitan dengan kebersihan serta kandungan gizi; kelayakan pengemasan; kelayakan pelayanan; kelayakan lingkungan; kelayakan bisnis serta peranan Pemkot dalam pengembangan destinasi wisata.

“Solo sudah merajai wisata kuliner di Indonesia. Sudah saatnya Solo juga bisa go internasional,” katanya.

President Indonesia Marketing Association (IMA) Chapter Solo, Retno Wulandari mengatakan saat ini di Solo semakin banyak bermunculan pelaku-pelaku usaha baru di bidang kuliner. Mereka pun membuat lokasi wisata kuliner baru di Solo dan sekitarnya.

“Kita resum [rangkum] bahwa di Solo ini muncul klaster baru [kuliner] yang menarik, dan kebanyakkan pelakunya adalah anak muda,” katanya.

Hal ini pun mempermudah dunia perhotelan untuk memberikan pelayanan terhadap tamu yang mencari kudapan di Solo. Dengan banyaknya kluster itu, tamu hotel tinggal diarahkan sesuai dengan makanan kesukaannya. Meski memang untuk mewujudkan kuliner sehat tidak mudah, karena khas dalam makanan yang bisa jadi akan berubah.