Permintaan Tinggi, Pedagang Kuliner Gukguk Solo Kehabisan Stok Daging Anjing

28 Februari 2018 07:00 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Pedagang olahan daging anjing mengaku kerap kehabisan stok.

Solopos.com, SOLO — Sejumlah pedagang olahan makanan daging anjing di Solo mengaku beberapa kali pernah kesulitan memperoleh stok daging dari tangan penjagal. Mereka menilai hal itu disebabkan oleh tingginya permintaan daging anjing di kalangan pedagang maupun masyarakat langsung.

Salah satu pedagang olahan makanan berbahan dasar daging anjing asal Kelurahan Gilingan, Yanto, 60, menceritakan dirinya beberapa kali pernah tidak kebagian stok daging anjing dari penjagal.

Alhasil, dia tepaksa tak membuka sementara lapaknya yang berada di dekat Bandara Adi Soemarmo Solo, Boyolali. Dari keterangan yang diperoleh dari sang penjagal di wilayah Kampung Ngemplak, Kelurahan Nusukan, Yanto menyebut, stok daging anjing habis karena banyaknya peminat atau permintaan yang datang terlebih dulu.

“Jadi kalau enggak pesan lebih dulu, bisa kehabisan. Tapi kadang saat pesan pun, barang tidak ada. Pasalnya yang motong juga tidak dapat jatah anjingnya yang rata-rata didatangkan dari luar kota. Ya maklum, permintaannya kan  banyak di sana sini,” kata Yanto saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Senin (26/2/2018).

Yanto menceritakan proses pembelian daging anjing yang selama ini dilakukan, yakni datang langsung ke penjagal. Setelah sampai di tempat penjagal, ia melihat kondisi anjing yang telah dipesan. (baca juga: http://solopos.com/?p=897670" target="_blank">Kampanye di CFD Solo, Pecinta Hewan Ungkap Kekejaman di Balik Menu Daging Anjing)

Jika sudah sesuai dengan pesanan terutama di lihat dari segi berat badan dan kesehatan tubuh, penjagal akan memotong anjing tersebut. Yanto mengklaim penjagal di Ngemplak tersebut selalu memotong anjing dengan cara disembelih. Lagi pula dia juga tidak mau membeli daging anjing yang dibunuh dengan cara dipukul, digantung, ditenggelamkan, atau dilakukan tindakan ekstrem lainnya.

“Ya tidak mau saja. Kasihan juga lah. Mungkin masih ada anjing yang dibunuh dengan cara keji, tapi saya juga tidak tahu di mana. Yang jelas saya tidak pakai. Saya selalu mengolah daging dari anjing dengan cara disembelih. Saya sering melihat langsung proses penyembelihan dan pemotongan anjingnya di penjagal,” papar Yanto.

Ia mengungkapkan harga daging anjing rata-rata dipatok Rp30.000/kilogram (kg) dari tangan penjagal. Daging yang dimaksud di sini adalah seluruh bagian organ tubuh anjing, termasuk tulang dan kulit.

Jadi misalkan anjing yang dibeli tersebut memiliki berat 12 kg, maka pembeli harus membayar uang Rp360.000 kepada penjagal. Yanto menilai kuliner dari bahan dasar daging anjing sulit dipisahkan dari masyarakat Soloraya. Bahkan, menurutnya kini sebagian orang memakan daging anjing bukan lagi untuk mndapat khasiat tertentu, tapi menjadi lauk makan pada umumnya.

Pedagang olahan makanan daging anjing di Nusukan, Vian, juga pernah mengalami beberapa kali kesulitan mendapatkan stok anjing dari pengepul langganan yang datang langsung dari luar daerah. Saat seperti ini ia biasanya mencari pengepul atau pedagang anjing lain.

“Pernah juga pasang surut. Kalau di pengepul langganan di Jawa Barat sedang tidak ada stok, ya pintar-pintarnya kami mencari penjual lain,” terang Vian yang memilih memotong sendiri anjing untuk diolah.

Salah satu penjual olahan makanan daging anjing lainnya asal Kelurahan Gilingan, Dani, berpendapat jika daging anjing yang telah dimasak dengan benar tidak akan berbahaya untuk dikonsumsi.

Dia mengaku belum pernah mendapati pembeli atau pelanggannya yang terkena rabies atau penyakit lain setelah mengonsumsi olahan makanan daging anjing.

“Kalau ada mesti sudah dikomplain dari dulu. Cara memasak kami juga benar melalui beberapa proses bukan asal memasak. Ini saya berjualan sudah turun termurun sejak dari kakek saya dulu dan tidak pernah mendapati masalah atau komplain,” ungkap Dani yang berjualan di Solobaru.

Dani juga beranggapan bahwa orang sebagian orang Soloraya mengonsumsi olahan makanan daging anjing itu sudah menjadi hal yang lumrah.

“Hampir setiap hari pelanggan yang sama yang beli. Kalau makanan dari daging anjing berbaya, warung rica-rica saya mungkin enggak laku lagi. Tapi nyatanya tetap ramai,” tutur Dani.