PASAR KLEWER SOLO : Gagal Dilelang, Bekas Bangunan Kios Darurat Dipakai untuk Rumah Sementara Warga Semanggi

28 Maret 2018 20:46 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Bekas bangunan kios pasar darurat Klewer di Alut Keraton Solo akan dialihkan untuk rumah sementara warga kawasan kumuh Semanggi.

Solopos.com, SOLO -- Setelah dua kali gagal gara-gara tak ada peminat, Pemkot Solo akhirnya membatalkan lelang barang rongsokan pasar darurat Klewer di Alun-alun Utara (Alut) Keraton Solo. Bekas material bangunan tersebut akan dimanfaatkan untuk hunian sementara bagi warga RW 023 Kelurahan Semanggi.

Seperti diketahui, Pemkot Solo berencana menata kawasan kumuh di wilayah Semanggi. Penataan kawasan kumuh di Semanggi dikerjakan bersama pengelola program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) mulai tahun ini.

Setidaknya ada 214 hunian tersebar di wilayah RW 023 Semanggi yang bakal ditata. “Selama kami tata kawasannya, mereka [warga terdampak] akan ditempatkan di hunian sementara,” kata Rudy sapaan akrabnya ketika berbincang dengan wartawan, Rabu (28/3/2018).

Hunian sementara akan dibangun Pemkot dengan memanfaatkan material bekas bangunan pasar darurat Klewer yang kini mangkrak di Alut. Bekas bangunan tersebut gagal dilelang karena tidak ada peminat. (Baca juga: http://solopos.com/?p=896202">Rongsokan Kios Darurat Klewer Tak Laku-Laku karena Kelewat Mahal)

Pemkot telah menggelar tender pembongkaran kios di sisi timur Alut dua kali. Namun lelang itu tidak diminati kontraktor lantaran nilai penawaran terendahnya terlampau tinggi. Pemkot mematok nilai penawaran terendah Rp7.289.105.100 dan uang jaminan sebesar Rp 1,5 miliar pada lelang Mei 2017.

Lelang itu meliputi pembongkaran bangunan rangka baja, atap, dan fondasi. Kemudian Pemkot menurunkan penawaran terendah, namun hasilnya tetap nihil. Kios bekas pasar darurat Klewer tersebut sudah dikosongkan sejak tahun lalu.

Sebagian kios semipermanen sisi barat kini masih digunakan pedagang Pasar Klewer timur. “Daripada kios yang tidak dipakai mangkrak dan belum laku dijual, lebih baik digunakan untuk hunian sementara,” katanya.

Bangunan berbahan besi di bekas pasar darurat itu dinilai masih layak digunakan kembali sesuai kebutuhan pembangunan hunian sementara. Pemkot tinggal mengupayakan tambahan bahan bangunan lain guna melengkapi kekurangannya.

Pemkot juga sudah memiliki sejumlah alternatif lokasi hunian sementara bagi warga tersebut. Ada dua tempat yang akan digunakan, yakni kompleks Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Semanggi dan terminal angkutan kota (angkuta).

Lokasi tersebut diperkirakan Pemkot mampu dimaksimalkan sebagai lokasi hunian sementara bagi 214 keluarga di RW 023 yang menjadi sasaran penataan. “Pekan depan kami akan menggelar rapat untuk membentuk kelompok kerja," katanya.

Koordinator Kota (Korkot) Kotaku Solo, Cornelius Tri Cahyo, mengatakan tahun ini prioritas penanganan kawasan kumuh difokuskan di kawasan Semanggi dengan luas cakupan 30,57 hektare (ha). Pemkot menargetkan Semanggi bisa bebas atau zero kawasan kumuh pada 2019.

“Penataan kawasan kumuh Semanggi menjadi pilot project di Indonesia. Anggarannya saja mencapai Rp150 miliar,” katanya.

Nantinya konsep penanganan kawasan kumuh meliputi perbaikan drainase, sanitasi, perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) hingga sarana dan prasarana infrastruktur lainnya. Terdapat ratusan rumah tersebar di wilayah RW 002, 004, 005, 007 serta 023 yang bakal terdampak dalam penataan kawasan kumuh.