Ingat! Relokasi Rumah di Bantaran Kali Anyar Solo Harus Beres April

Warga bantaran Kali Anyar wilayah Kelurahan Nusukan, Banjarsari, menengok aktivitas alat berat proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 3 (Kali Pepe hulu) di dekat rumahnya, Jumat (30/3/2018). (Irawan Sapto Adhi/JIBI - Solopos)
31 Maret 2018 11:05 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Relokasi warga bantaran Kali Anyar, Nusukan, Solo, harus beres April.

Solopos.com, SOLO—Relokasi warga bantaran Kali Anyar di wilyah Nusukan, Banjarsari, Solo, ditargetkan rampung pada pertenghan April mendatang.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Pokja Relokasi Warga Bantaran Nusukan, Trihono, saat diwawancarai Solopos.com, Jumat (30/3/2018). Saat ini, sekitar 80% dari 194 bangunan rumah di bantaran Kali Anyar wilayah Nusukan telah dibongkar. Sisanya masih berdiri dan dihuni warga.

Dia menampik penyebab utama puluhan rumah di bantaran belum dibongkar karena warga ingin bertahan. Menurut Trihono, warga belum pindah hanya karena belum terdampak langsung proyek Penanganan Banjir Paket 3 (Kali Pepe Hulu).

Sebagian besar warga yang masih menempati rumah di bantaran Kali Anyar adalah warga Kampung Minapadi, Nusukan, yang berada di sisi timur wilayah bantaran. Warga tersebut belum terdampak secara langsung mengingat proyek yang dikerjakan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Sololo (BBWSBS) itu dimulai dari sisi barat ke timur dan baru berjalan hingga Kampung Praon, Nusukan.

Dia menyebut warga di sisi timur wilayah bantaran memanfaatkan kesempatan itu untuk mempersiapkan lebih matang rencana pindah dari bantaran Kali Anyar, misalnya dengan memilah-milah material rumah yang masih bisa digunakan untuk pembangunan rumah baru.

“Sebagian warga belum membongkar rumah di bantaran karena mereka merasa belum terdesak oleh kegiatan proyek,” kata Trihono.

Namun, Trihono tidak menyangkal ada warga bantaran yang belum pindah karena terkendala masalah keuangan. Warga tersebut belum pindah karena tak punya uang untuk indekos atau mengontrak.

Sementara mereka belum bisa tinggal di tempat tujuan relokasi karena belum dibangun rumah baru. Pokja Relokasi Warga Nusukan mengupayakan percepatan penyediaan tanah relokasi sehingga bisa digunakan warga untuk mendirikan rumah baru. Trihono optimistis penyediaan tanah tersebut rampung segera sehingga warga bisa mulai mendirikan rumah.

“Mudah-mudahan bisa selesai sesuai target. Pertengahan April, wilayah bantaran sudah bersih dari rumah,” jelas Trihono.

Warga RT 005/RW 005 Nusukan, Anto, 52, hingga kini masih tinggal di bantaran karena tak punya pilihan lain. Dia belum bisa pindah ke tempat relokasi di Kedunggupi, Sawahan, Ngemplak, Boyolali, karena rumah belum dibangun di sana.

Bahkan, kata Anto, Pokja Relokasi Warga Manahan belum juga menyelesaikan pembagian patok batas lokasi pendirian rumah baru. Dia keberatan pindah ke rumah indekos atau kontrakan karena bisa mengurangi uang simpanan untuk pembangunan rumah baru.

“Saya bertahan saja dulu. Sebenarnya ya sudah tidak nyaman. Suara alat berat begitu mengganggu,” jelas Anto.

Anto pernah ditawari pindah sementara ke Rusunawa di Kelurahan Mojosongo, Jebres, sembari menunggu pembangunan rumah baru. Namun, dia menolak. Anto keberatan dengan biaya yang harus dia tanggung untuk pergi setiap hari dari Rusunawa ke Kedunggupit untuk memperbaiki rumah.

Jarak antara Rusunawa dengan Kedunggupit tergolong jauh. Dia berharap penyediaan tanah relokasi segera rampung sehingga warga bisa mulai membangun rumah baru di sana.