Terganggu Pembongkaran Rumah, Warga Kadipiro Terdampak KA Bandara Solo Adang Alat Berat

Warga RT 001/RW 021 Kadipiro berdiskusi dengan pekerja pembongkaran rumah terdampak proyek KA Bandara, Minggu (8/4 - 2018) sore. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
08 April 2018 20:35 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah warga Kampung Lemah Abang RT 001/RW 021 Kelurahan Kadipiro, Banjarsari, Solo, nekat menyetop paksa operasional alat berat yang digunakan membongkar rumah terdampak proyek pembangunan jalur KA akses Bandara Adi Soemarmo di sekitar tempat tinggal mereka, Minggu (8/4/2018) siang.

Warga melakukan hal itu karena merasa terganggu dengan aktivitas pembongkaran rumah milik warga lain di RT 002/RW 021 Kadipiro yang telah menyetujui tawaran nilai ganti rugi dari Panitia Pelaksana Pengadaan Tanah untuk Proyek Pembangunan KA akses bandara. Selain itu, warga nekat menghentikan operasional alat berat karena kecewa dengan sikap pelaksana proyek yang tak pernah meminta izin dan menyosialisasikan agenda pembongkaran rumah terdampak.

"Mintanya warga RT 001/RW 021 itu ada rembukan dulu. Perlu digarisbawahi, kami mencoba menghalangi pelaksanaan proyek. Cuma, kami meminta dari pelaksana proyek ada ngomong-ngomonglah dengan warga. Yang selama ini terjadi, mereka baru permisi memasukkan alat berat, bukan untuk kerja langsung," kata Ketua RT 001/RW 021 Kadipiro, Muhammad Afandi, saat ditemui Solopos.com di sela-sela menemui pekerja pembongkaran rumah, Minggu.

Afandi menyampaikan jika ada komunikasi sejak awal, warga setidaknya bisa menyampaikan permintaan kepada pelaksana proyek untuk meminimalkan gangguan. Warga menilai yang terjadi sekarang adalah pelaksana proyek terkesan tak melakukan antisipasi itu.

Afandi mencontohkan keluhan warga yakni terganggu dengan adanya debu yang berterbaran saat dilakukan pembongkaran rumah. Warga menganggap debu tersebut bisa dimininalkan oleh pelaksana proyek dengan menyiramkan air ke bangunan dan lingkungan rumah.

"Warga cuma minta kalau kerja dibuat seminimal mungkin dampaknya. Misalnya, sebelum rumah digempur atau dirobohkan, disemprot dulu dengan air atau bagaimana. Jadinya debu tidak berterbangan ke rumah warga di sekitar lokasi pekerjaan. Sayangnya mereka tak pernah permisi termasuk memberi tahu jadwal pembangunan jalur. Kami ini kan menyadari kalau pelaksana proyek disuruh bersih, tidak menyisakan dampak gangguan, jelas tidak mungkin," terang Afandi.

Afandi mengatakan warga akan terus menyetop proses pembongkaran rumah sampai ada kesepakatan dengan pelaksana proyek. Dia menyebut warga pada Minggu siang telah menemui salah seorang pejabat perwakilan pelaksana proyek dan menyepakati akan melakukan pertemuan resmi pada Senin (9/4/2018) malam di Masjid Istiqomah.

Namun berdasarkan pantauan Solopos.com, rencana itu batal setelah datang Lurah Kadipiro Sugeng Budi Prasetyo dan Babinsa Kelurahan Kadipiro yang menawarkan pertemuan bisa digelar secepatnya untuk mendukung pelaksanaan proyek.

Awalnya warga dan Lurah serta Babinsa Kadipiro siap saja menggelar pertemuan pada Minggu sore. Namun, ternyata pelaksana proyek tak bisa hadir dalam pertemuan pada jam itu. Akhirnya pertemuan disepakati dilaksanakan pada Minggu malam di Masjid Istiqomah.

Saat ditemui Solopos.com, Lurah Kadipiro, Sugeng Budi Prasetyo, menyampaikan Pemerintah Kelurahan Kadipiro pada dasarnya hanya mencoba memfasilitasi warga bisa bertemu dengan pelaksana proyek. Dia yakin usulan warga tersebut bisa diakomodasi pelaksana proyek yang diakomodasi Balai Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah itu.

Sementara itu, sejumlah pekerja pembongkaran rumah terdampak KA bandara enggan memberikan komentar karena menganggap ada pejabat yang lebih berwenang memberikan penjelasan.