Warga Kadipiro Terdampak Kereta Bandara Solo Tuntut Setop Pembongkaran Rumah

Warga RT 001/RW 021 Kadipiro berdiskusi dengan pekerja pembongkaran rumah terdampak proyek KA Bandara, Minggu (8/4 - 2018) sore. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
10 April 2018 00:35 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pertemuan antara warga Kampung Lemah Abang RT 001/RW 021 Kelurahan Kadipiro, Banjarsari, Solo, yang terdampak proyek kereta akses Bandara Adi Soemarmo dengan perwakilan pelaksana proyek pembongkaran rumah pada Minggu (8/4/2018) malam tak membuahkan hasil.

Warga merasa kurang pas jika pertemuan tersebut tidak dihadiri Tim Panitia Pelaksana Pengadaan Tanah untuk proyek Pembangunan jalur KA akses bandara. Warga berkukuh meminta pelaksana proyek tidak melanjutkan pembongkaran rumah di sekitar tempat tinggal mereka hingga sampai ada kesepakatan antara warga dengan pelaksana proyek maupun Tim Panitia Pelaksana Pengadaan Tanah.

“Warga sepakat tidak boleh ada pekerjaan alat berat sebelum ada kesepakatan antara pihak proyek dengan warga,” kata Muhammad Afandi, Ketua RT 001/RW 0021 Kadipiro, saat diwawancarai Solopos.com lewat telepon, Senin (9/4/2018) pagi.

Afandi tak bisa ditemui dan tak bisa diwawancarai lebih lanjut dengan alasan sibuk bekerja. Sementara itu, saat dimintai informasi, personel Bintara Pembina Desa (Babinsa) Koramil 02/Banjarsari Kodim 0735/Surakarta yang ditugaskan di Kadipiro, Koptu Mujono, menyampaikan pertemuan warga Lemah Abang dengan perwakilan pelaksana proyek pembongakaran rumah terdampak proyek pembangunan KA bandara di Masjid Istikomah tak mencapai titik temu karena tim pengadaan lahan tak datang.

Warga masih meminta pelaksana proyek untuk menyetop operasional alat berat untuk membongkar rumah. “Sementara belum ketemu titik temunya karena tim pengadaan lahan enggak datang. Pelaksana proyek pembongkaran rumah diminta warga tetap menghentikan aktivitas alat berat karena dianggap mengganggu kenyamanan,” jelas Mujono saat diwawancarai Solopos.com di Kadipiro, Senin siang.

Mujono menyampaikan kini warga menunggu Tim Panitia Pelakana Pengadaan Tanah bersama Balai Perkeretapian Wilayah Jawa Bagian Tengah dan pelaksana proyek pembongkaran rumah maupun pembangunan jalur KA akses bandara untuk sosialsiasi.

Sebelum ada sosialisasi dan kesepaatan, warga akan tetap melarang alat berat beroperasi di sekitar mereka. Disinggung soal apakah permintaan warga salah satunya menyinggung soal pemberian kompensasi oleh Tim Panitia Pelaksana Pengadaan Lahan, Mujono tak menutupi, larinya ke arah sana.

“Intinya pelaksana proyek disuruh mikir warga yang terkena dampak dari proyek. Berarti itu sama juga meminta kompensasi. Warga juga meminta semua prosedur pelaksanaan proyek harus jelas. Kemudian warga menuntut agar didatangkan langsung pimpinan proyek yang instansi bertanggung jawab guna menemui warga,” jelas Mujiono.

Sementara itu berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, warga Kampung Sekip RT 001/RW 023 Kadipiro telah menggelar mediasi dengan perwakilan Balai Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah dan pelaksana proyek pembongkaran rumah terdampak proyek pembangunan jalur KA Bandara pada Senin siang.

Sedikitnya ada lima permintaan warga Sekip yang disampaikan dalam forum, antara lain masjid LDII yang terdampak proyek jangan dibongkar hingga Lebaran, sumur dalam yang terkendala proyek tetap bisa dimanfaatkan, pimpinan proyek agar bisa mempekerjakan warga dalam proyek sesuai dengan keahlian masing masing, tetap disediakan akses jalan warga untuk menembus rumah tetangga, hingga pelaksana proyek mesti memasang zona aman untuk menjaga keselamatan dan kesehatan warga.