Heboh! Buaya Lepas dari Kandang Berkeliaran di Sungai Palur Sukoharjo

Buaya yang ditangkap warga di Kali Sasak, Palur, Mojolaban, Sukoharjo, Selasa (10/4 - 2018). (Istimewa/Polsek Mojolaban)
10 April 2018 17:49 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Warga sekitar Sungai Sasak, Desa Palur, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, heboh dengan kemunculan seekor buaya besar di sungai tersebut, Selasa (10/4/2018).

Belakangan diketahui buaya itu milik keluarga Yuho, warga Dusun Jogobondo, Desa Palur, yang dikenal suka mengoleksi satwa. Buaya itu dilaporkan lepas dari kandangnya pada Selasa pagi.

Informasi yang dihimpun Solopos.com di lokasi, warga langsung berdatangan ke sungai untuk melihat buaya itu. Salah seorang warga, Budi, mengatakan buaya itu panjangnya sekitar 6 meter dan mulutnya menyembul di permukaan sungai.

Secara spontan Budi mencari sebatang bambu di pinggir sungai. Dia bersama aparat kepolisian yang langsung datang ke lokasi begitu mendapat laporkan berupaya menangkap buaya yang lepas dari kandang pada pagi hari itu.

Sebagian warga berada di sisi barat sungai. Sebagian warga lainnya di sisi timur sungai. “Warga mengisolasi buaya dengan menutup aliran sungai menggunakan batu dan bambu. Sudah lebih dari enam jam buaya berkeliaran di sungai,” kata Budi saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa.

Sejumlah polisi mencabut senjata api (senpi) di pinggang mereka. Mereka lantas membidik tubuh buaya yang berenang di sungai. Suara letusan senpi berulang kali terdengar yang memekakkan telinga warga setempat.

Kendati dihujani peluru, buaya itu masih bergerak dan berenang. Bahkan, sesekali buaya itu menyelam di dasar sungai sehingga tak diketahui keberadaannya. “Suara tembakan lebih dari 10 kali. Kena tubuh buaya tapi masih hidup. Mungkin karena saking tebalnya kulit buaya sehingga tidak mati,” ujar dia.

Tak berapa lama kemudian, anggota SAR datang di lokasi kejadian. Mereka membawa jala berukuran besar untuk menangkap buaya tersebut. Lantaran buaya masih hidup, anggota SAR hanya menyebar di pinggir sungai.

Mereka berupaya menangkap buaya dengan mengepung dari empat penjuru mata angin menggunakan jala. “Mulut buaya diikat dengan kain. Sementara anggota SAR dan warga menindih tubuh buaya agar tak bisa bergerak. Butuh lebih dari 10 orang untuk menangkap buaya itu. Buaya masih hidup, tidak mati,” timpal Penjabat (Pj) Kepala Desa Palur, Sugito.

Sementara itu, seorang perawat buaya yang juga keponakan Yuho, Robi, mengatakan kandang buaya terbuat dari batu bata dan besi yang berumur tua. Kandang buaya berdekatan dengan kandang kambing. Kala itu, buaya hendak menggigit kambing di dalam kandangnya. Buaya itu lantas mendorong besi kandang dan akhirnya jebol.

Sejatinya, Robi berniat memindahkan buaya itu ke Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo dua hari sebelumnya. Namun, buaya yang diberi nama Bejo itu lepas dari kandang sebelum dipindah ke kebun binatang.

“Pemilik sebenarnya adalah paman saya. Setelah beliau meninggal, saya yang mengurusi Bejo. Rencananya buaya itu dipindah ke Jurug [Taman Satwa Taru Juruq] namun belum terealisasi. Nanti bakal dikirim ke Jurug,” kata dia.

 

Tokopedia