Warga Lemah Abang Tolak Alat Berat Kereta Bandara Solo

Warga RT 001/RW 021 Kadipiro berdiskusi dengan pekerja pembongkaran rumah terdampak proyek KA Bandara, Minggu (8/4 - 2018) sore. (Solopos/Irawan Sapto Adhi)
14 April 2018 19:20 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO – Warga Kampung Lemah Abang RT 001/RW 021 Kelurahan Kadipiro, Banjarsari hingga Kamis (12/4/2018) siang, masih tak membiarkan alat berat beroperasi di sekitar mereka untuk membongkar rumah yang terdampak proyek pembangunan jalur KA akses Bandara Adi Seomarmo.

Seorang warga RT 001/RW 021 Kadipiro, Suparno, menyampaikan warga akan bersikap seperti itu sampai ada titik temu atau kesepakatan dengan Balai Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah dan tim Panitia Pelaksana Pengadaan Tanah terkait teknis pelaksanaan proyek KA Bandara. Warga sempat mengadakan rapat pada Minggu (8/4/2018) malam guna membahas perihal tersebut. Namun, menurut dia, rapat pada saat itu belum membuahkan kesepakatan lantaran yang datang bukanlah pejabat yang berhak mengambil keputusan. Warga lantas disarankan untuk menyampaikan usulan lewat surat tertulis.

“Sikap warga pun jelas. Harus ada kesepakatan dulu, baru alat berat atau pekerja boleh beroperasi lagi untuk membongkar rumah. Yang disesalkan warga kan pelaksana proyek tak pernah kula nuwun,” kata Suparno saat ditemui Solopos.com di dekat rumah warga RT 002/RW 021 Kadipiro yang baru setengah dibongkar, Kamis.

Suparno menyampaikan pelaksana proyek pembongkaran rumah maupun pembangunan jalur KA Bandara mesti memperhatikan kenyamanan warga yang tidak terdampak langsung. Warga di sekitar lokasi proyek pada Minggu lalu menyetop operasional alat berat karena merasa terganggu dengan dampak debu yang berterbaran hingga masuk ke rumah. Dia menyatakan warga tidaklah ingin meminta macam-macam. Yang utama, warga ingin dampak pembogaran rumah dan pembangunan jalur KA Bandara bisa diminimalisir. Suparto terang-terangan warga juga berharap adanya uang kompensasi dari pelaksana proyek.

“Istilahnya ya untuk beli tisu buat tutup hidung karena banyak debu. Selain itu, ya untuk ganti warga, kan setiap hari harus bersih-bersih lingkungan rumah yang terdampak pelaksanaan proyek,” terang Suparno.

Suparno kemudian membandingkan pelaksanaa proyek pembangunan jalur KA Bandara ini dengan proyek pembangunan Tol Solo-Kertosono (Soker). Menurut dia, warga Kampung Lemah Abang baik RT 001, RT 002, dan RT 003/RW 021 Kadipiro pernah menerima uang kompesasi dari pelaksana proyek pembangunan tol Soker. Nominalnya bermacam-macam disesuaikan dengan jauh-dekatnya rumah warga dengan lokasi proyek. Warga yang menempati rumah di dekat lokasi proyek bisa menerima uang Rp550.000/rumah. Sedangkan warga yang tinggal agak ke selatan diberi uang kompensasi hingga Rp300.000/rumah.

Suparno berharap niali uang kompensasi yang bisa diterima warga atas dampak pelaksanaan proyek pembangunan jalur KA Bandara bisa sama atau lebih besar dari nilai kompensasi yang diberikan pelaksana proyek pembangunan Tol Soker. “Sekarang warga Lemah Abang kan sudah berkurang karena yang terdampak langsung proyek sudah diberi uang untuk pindah. Jadi saya rasa mudah bagi kontraktor memberikan kompensasi kepada warga yang tersisa,” jelas Suparno.

Sementara itu, warga RT 001/RW 021 Kadipiro lainnya, Ny. Aris, tidak menuntut banyak atas dampak pelaksanaan proyek pembangunan jalur KA Bandara. Bagi dia yang terpenting adalah tidak ada dabu yang menganggu saat dilaksanakan pembongkaran rumah terdampak proyek dan pembanguan fisik jalur KA Bandara. Ny. Aris mengulka agar pelaksana proyek bisa rutin menyiram kawasan proyek agar tidak ada debu yang menganggu. Terkait gangguan bising, dia hanya berharap pelaksana proyek bisa meminimalkan dampak pekerjaan.

“Saya yang protes pertama kali terkait dampak pembongkaran rumah terdampak proyek di wilayah RT 002/RW 021. Sepulang dari gereja, saya mendapati kondisi halaman rumah tidak karuan. Saya kemudian lapor ke suami dan ternyata warga lain juga merasa keberatan. Saya protes karena memang anak saya mengidap asma,” jelas Ny. Aris.

Tokopedia