Gusti Moeng Cs Bentuk Yayasan Istana Mataram

Adik Pakubuwono XIII, G.K.R. Wandansari, memberikan penjelasan kepada awak media saat jumpa pers di Sitihinggil Lor, kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Senin (9/4 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
14 April 2018 18:20 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Terusir dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, adik-adik Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi menginisiasi gerakan pembentukan Yayasan Istana Mataram. Yayasan tersebut akan menjadi wadah keturunan Mataram di dunia. Deklarasi gerakan Istana Mataram akan dilakukan bersama delegasi dari 29 negara dan 32 kerajaan di Indonesia pada Jumat (13/4/2018)..

Penggagas Istana Mataram, K.P. Eddy Wirabhumi mengatakan, Istana Mataram merupakan wadah yang diinisiasi oleh orang-orang berdarah Mataram, seperti G.K.R. Wandansari atau akrab disapa Gusti Moeng beserta saudara-saudaranya.

“Di mana kami komitmen menyatukan Mataram di dalam satu wadah. Tahap pertama nantinya adalah melalui gerakan yang kami namai New Era of Economic Culture and Tourism Programs,” katanya ketika dijumpai wartawan di Kantor Pariwisata Keraton, Kamis (12/4/2018).

Eddy mengatakan Forum New Era of Economic Culture and Tourism Programs akan dilaksanakan selama dua hari, yakni pada Jumat-Sabtu (13-14/4) di Hotel Royal Heritage Solo dan Wisma Boga Solobaru, Sukoharjo. Delegasi dari 29 negara seperti Jerman, Spanyol, Inggris, Amerika, Filipina, Singapura, Hongkong, Thailand, Taiwan dan lainnya akan hadir dan mengikuti kegiatan tersebut. Acara tersebut juga akan dihadiri 32 kerajaan yang ada di seluruh Indonesia. Jumlah peserta forum itu mencapai 2.000 orang.

Sesuai namanya, lembaga tersebut nanti akan lebih fokus pada bidang ekonomi, budaya dan pariwisata. Para anggota yang masuk di dalamnya sudah memiliki komitmen untuk menanamkan investasi di Indonesia guna pengembangan tiga bidang tersebut.

Eddy mengaku pembentukan Istana Mataram berangkat dari keprihatinan akan upaya pelestarian kebudayaan terutama yang digawangi Gusti Moeng, para sentana dalem dan kawula dalem lain yang tidak bisa lagi berjalan pascakonflik keraton. Di dalam kondisi itu, dia menilai banyak kerabat yang merasakan keprihatinan sama. Mereka bukan hanya keluarga dinasti Mataram di Tanah Air namun juga penjuru dunia.

“Untuk sektor bisnis yang akan dikembangkan, kita mulai dari bisnis penerbangan meliputi sekolah pilot, penyewaan privat jet, taksi udara, maintenance, sparepart termasuk dimungkinkan membangun privat airport,” katanya.

Selain itu, mereka berencana membangun bisnis di bidang tanaman obat, pertambangan hingga pembuatan objek wisata.

Gusti Moeng menambahkan bahwa apa yang dilakukan Istana Mataram tidak ada hubungannya dengan Keraton Surakarta Hadiningrat. Sedangkan pemakaian nama Mataram merujuk pada pendirinya yang merupakan keturunan Kerajaan Mataram.

“Sehingga punya hak menggunakan nama itu dan secara hukum sudah legal dengan mengantongi izin dari Kemenkum HAM. Dan karena dinasti Mataram, maka tidak menutup kemungkinan mengajak kerajaan yang ada di Nusantara,” katanya.

Harapannya ke depan Istana Mataram juga akan menjadi pusat pendidikan budaya.