Pemkab Karanganyar Tertarik Garap Tradisi Cembengan

Warga di Karanganyar dan sekitarnya menyaksikan cembengan di PG Tasikmadu, Karanganyar, Jumat (13/4 - 2018). (Solopos/Ponco Suseno)
14 April 2018 08:30 WIB Ponco Suseno Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar mengaku tertarik menggarap event atau tradisi cembengan (selamatan penggilingan tebu) di Pabrik Gula (PG) Tasikmadu, Karanganyar, tahun mendatang. Tradisi cembengan dinilai mampu menarik wisawatan dari Karanganyar dan sekitarnya jika digarap secara optimal.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar, Titis Sujarwoto, saat ditemui wartawan di sela-sela tradisi Cembengan di PG Tasikmadu, Jumat (13/4/2018). Titis berharap, tradisi pengilingan tebu di PG Tasikmadu dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan di Bumi Intanpari.

“Kalau ditata lebih bagus, pasti akan menjadi daya tarik tersendiri. Ke depan, kami ingin mengemas [tradisi cembengan] menjadi Cembengan Expo. Ada semacam pameran untuk menengah ke atas juga. Kami melihat, tradisi di sini belum mengangkat [jumlah wisawatan]. Kami berharap, cembengan ini dapat memberikan pancingan yang optimal ke usaha mikro kecil menengah (UMKM) dan semuanya,” kata Titis Sri Jawoto, saat ditemui wartawan di PG Tasikmadu, Jumat.

Baca juga:

Warga Colomadu Tolak Gerbang Tol Diberi Nama Kartasura

Proyek Rel Ganda di Karanganyar Masuk Tahap Penaksiran Kompensasi

Geruduk Gedung DPRD, Buruh Karanganyar Ungkap Borok Perusahaan Nakal

Titis Sri Jawoto mengatakan keberadaan PG Tasikmadu yang lahir 1871 memiliki nilai sejarah yang tinggi. Keberadaan PG Tasikmadu diharapkan dapat mengimbangi PG Colomadu yang saat ini sudah direvitalisasi pemerintah pusat.

“Ketika bicara bisnis, inispirasinya itu Mangkunegara (MN) IV. Ketika bicara nasionalisme dan keprajuritan, insipirasnya MN I. Jelajah histori seperti itu juga sangat menarik. Ini kami sedang mengkaji lebih lanjut [keberadaan pabrik gula di Tasikmadu dan berbagai daerah di Soloraya lainnya terkait erat dengan Kerajaan Mangkunegaran],” katanya.

Manager PG Tasikmadu, Bambang Sutrisno, mempersilakan Pemkab Karanganyar turut mengemas tradisi cembengan di waktu mendatang. Terlepas dari hal itu, manajemen PG Tasikmadu mengaku sudah meningkatkan performa sarana dan prasaran (sarpras) agar penggilingan tebu dapat berjalan optimal. Hal itu seperti meningkatkan power mesin, peningkatan kapasitas pompa, gilingan dari turbin uap menjadi elektro motor, dan lain sebagainya.

“Justru lebih bagus kalau pemkab ingin mengemas cembengan ini agar lebih baik,” katanya.

Tradisi cembengan merupakan selamatan mengawali proses penggilingan tebu di PG Tasikmadu. Sesuai rencana, PG Tasikmadu bakal mematok target menggiling tebu hingga 336.000 ton. Dengan jumlah seperti itu, diharapkan dapat menghasilkan 26.800 ton gula. Berbagai tebu yang didatangkan ke PG Tasikmadu berasal dari beberapa daerah di Soloraya, Ngawi bagian barat, dan Semarang.

Dalam tradisi cembengan terdapat acara tebu temanten. Di kesempatan itu, tebu laki-laki bernama Bagus Baskara dari Pandeyan, Grogol, Sukoharjo dinikahkan dengan tebu perempuan bernama Rara Ayu Parastri asal Suruh, Tasikmadu, Karanganyar. Penonton dari Karanganyar dan sekitarnya antusias mengikuti tradisi cembengan tersebut.