Kartasura Dominasi Lomba Kampung Iklim Jateng

Warga melintas di salah satu sudut kampung yang pagar rumahnya digambari beraneka gambar di Kelurahan/Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, Kamis (12/4 - 2018).(Solopos/Iskandar)
15 April 2018 05:20 WIB Iskandar Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO--Kecamatan Kartasura, Sukoharjo mendominasi lomba rintisan kampung iklim di Sukoharjo. Tiga dari enam desa dan kelurahan yang dinominasikan untuk maju penilaian lomba serupa di Provinsi Jateng berasal dari Kartasura.

“Tahun ini Pemkab Sukoharjo sudah membuat 26 rintisan kampung iklim. Dari jumlah itu Dinas Lingkungan Hidup mengambil enam besar yaitu Desa Tiaran, Bulu; Langenharjo, Grogol; Mandan, Sukoharjo; Kartasura, Ngadirejo dan Kertonatan ketiganya di Kecamatan Kartasura,” ujar Ketua Kampung Iklim Sedahromo Kidul, Sayuran, Manggisan dan Gunung Kuni (Sesamaku) Kelurahan Kartasura, Tri Wahyudi ketika ditemui wartawan di sela-sela penilaian di Kartasura, Kamis (12/4/2018).

Tokopedia

Sebenarnya, ujar dia, masih ada satu desa lagi di Kartasura yang bisa mengikuti lomba rintisan kampung iklim yaitu Wirogunan. Tetapi desa tersebut dinilai terlambat memasukkan aplikasi persyaratan lomba sehingga tak bisa diakomodasi.

Guna menunjang keberadaan kampung iklim, ujar dia, pihaknya menggugah kesadaran warga agar kampungnya nyaman untuk dihuni. Karena itu sesuai konsep kampung iklim yang ideal dia berharap warga melestarikan lingkungan.

Dia menyosialisasikan agar kampung itu tahan terhadap emisi gas rumah kaca. Karena itu pihaknya menggalakkan penanaman pohon sebagai penghijauan, pengendalian bahaya banjir dan kekeringan.

Selain itu pihaknya juga menggalakkan pembuatan biopori, sumur resapan, penampung air hujan, rorak atau lubang sampah dan sebagainya. Untuk ketahanan pangan pihaknya menanam sayur-sayuran dengan memanfaatkan lahan-lahan perumahan.

Karena itu, papar dia, pihaknya mengelola sampah dengan memanfaatkan sampah organik menjadi kompos sebagai pupuk tanaman. Sedangkan pupuk nonorganik bisa dimanfaatkan untuk hal lain yang bernilai ekonomi.

“Untuk sampah nonorganik seperti besi, kaca, plastik, kertas dan sebagainya dimasukkan ke bank sampah. Ini sekaligus sebagai tabungan masing-masing warga,” kata Tri yang juga Lurah Ngadirejo ini.

Langkah ini, ujar dia, juga untuk mendukung program Presiden yang mencanangkan tahun 2020 atau 2030 harus tersaji 10.000 kampung iklim se-Indonesia. Padahal sekarang ini baru kira-kira 6.000. Karena itu tahun ini Sukoharjo menargetkan bisa merealisasi 26 rintisan kampung iklim.

Sementara itu Lurah Kartasura, Didik Istiadi Firianto mengatakan rintisan kampung iklim di Kartasura diawali di Kampung Manggisan. Pihaknya memilih kampung ini karena masih banyak pepohonan besar yang terpelihara dan antusiasme masyarakat dinilai tinggi.

“Warga di sini baik dari generasi muda sampai orang-orang tua laki-laki dan perempuan aktif sekali.”

Harapannya dengan penilaian ini kampung-kampung lainnya akan tertular dan mengikuti program ini. Karena saat ini untuk mencari pepohonan besar di kota dinilai sudah sangat sulit.