Umat Khonghucu Solo Kirim Doa Leluhur lewat Upacara Ching Bing

Umat Konghucu mengikuti sembahyang upacara Ching Bing di halaman rumah duka Tiong Ting, Jebres, Solo, Minggu (15/4 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
16 April 2018 03:35 WIB Suharsih Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Bau dupa menyeruak saat prosesi upacara sembahyang Ching Bing di halaman rumah duka Thiong Ting, Jebres, Solo, dimulai pada Minggu (15/4/2018). Belasan umat Khonghucu khusyuk mengikuti prosesi upacara tersebut.

Sejak pukul pukul 11.00 WIB mereka berkumpul di depan rumah duka. Berbagai sesaji seperti daging, nasi, jajanan pasar, air putih, dan buah-buahan mereka letakkan di meja altar yang terbagi menjadi dua. Meja altar pertama untuk vegetarian dan altar kedua untuk makanan umum.

Tiga jenis daging, yakni ayam, ikan bandeng dan babi menjadi sesajian utama. Baru kemudian buah pisang dan jeruk ditambah buah lainnya juga disajikan. Tak hanya itu sesajian berupa kue wajik, kue kura, dan kue mangkuk, kue moho, dan berbagai kue lainnya tersaji.

Di belakang altar tersebut ditancapkan bendera serta kertas yang ditempel bertuliskan nama para leluhur yang telah meninggal dunia untuk dibacakan doa. Upacara diawali dengan sembahyang di altar Tuhan.

Setelah sembahyang di altar Tuhan dilanjutkan sembahyang di altar kelenteng, altar vegetarian, dan altar makanan umum. Selama sembahyang, umat Khonghucu memanjatkan surat doa.

Sembahyang dan penaikan surat doa dipimpin Rohaniawan Khonghucu Adjie Chandra. Adji Chandra mengatakan upacara Ching Bing bagi masyarakat Khonghucu dikenal juga sebagai kegiatan nyadran.

“Ching Bing dilaksanakan setiap bulan April khususnya tanggal 5 dengan berziarah ke makam para leluhur,” ujarnya.

Ching memiliki arti cerah, terang, dan Bing berarti penghormatan. Maka, Ching Bing diartikan musim yang cerah untuk berziarah ke makam leluhur. Di Indonesia waktu yang tepat untuk berziarah diperkirakan pada April sehingga sembahyang Ching Bing sering digelar pada bulan tersebut.

Sembahyang Ching Bing di Tiong Ting sudah menjadi agenda sejak puluhan tahun lalu. Sembahyang Ching Bing rutin digelar karena tidak semua keluarga etnis Tionghoa mampu menggelar kegiatan tersebut. Selain itu, sembahyang Ching Bing juga untuk merekatkan masyarakat Khonghucu dengan para leluhur.

“Keterkaitan dengan masa lampau itu tidak boleh hilang. Adanya kita karena adanya orang-orang zaman dulu. Jadi tidak bisa melupakan masa lalu,” kata dia.

Selesai upacara bendera serta kertas kemudian dibakar bersama sebagai simbolis mengirimkan doa kepada leluhur. Seusai sembahyang di Kelenteng, umat Khonghucu melanjutkan dengan tabur bunga di makam leluhur atau di tempat lain yang menjadi lokasi pembuangan abu leluhur.

Salah satu umat Khonghucu, Kristanti, memaknai Ching Bing sebagai penghormatan kepada para leluhur. Selain doa, dia mengaku selalu mengirimkan berbagai hal kesukaan dari para leluhurnya. Salah satunya menyiapkan baju-bajuan dan uang kertas yang dibakar untuk dikirim ke leluhur.

“Ching Bing sebagai bentuk penghormatan dan kedekatan kami kepada leluhur. Tidak hanya mengirimkan doa dan barang, namun menyiapkan makanan yang menjadi kesukaan mereka,” tuturnya.