Tolak Libur, PKL Sunday Market Manahan Solo Siap Digeser

Suasana Sunday Market Manahan Solo. (Solopos/Dok)
16 April 2018 22:35 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pedagang kaki lima (PKL) Sunday Market Manahan Solo  meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Solo tak meliburkan kegiatan Sunday Market selama pengerjaan proyek penataan ulang Stadion Gelora Manahan.

Salah seorang PKL Sunday Market, Darmadi, 49, berharap Pemkot Solo tak meliburkan kegiatan Sunday Market selama proyek revitalisasi Gelora Manahan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) berlangsung. Dia rela ditata atau dipindah ke lokasi mana pun di Gelora Manahan asal kegiatan Sunday Market tetap diadakan.

PKL asal Karanganyar tersebut mengatakan ketika pemerintah mulai membenahi bagian Stadion Manahan, dia siap pindah berjualan dari deket patung Panahan ke pinggir Gelora Manahan.

"Saya berharap proyek dikerjakan secara bertahap jadi menyisakan tempat yang bisa digunakan PKL untuk berjualan. Kami mohon kepada pemerintah untuk tidak meliburkan Sunday Market selama proyek. Saya sendiri siap saja untuk digeser-geser," jelas Darmadi saat dimintai tanggapan Solopos.com terkait rencana peliburan Sunday Market, Senin (16/4/2018).

Darmadi juga berharap Pemkot Solo tak memindah PKL Sunday Market ke tempat lain selama pelaksanaan proyek penataan ulang Gelora Manahan. Dia khawatir PKL tak dikembalikan ke Gelora Manahan setelah proyek rampung.

Darmadi trauma dengan pernyataan Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo pada 2016 lalu yang menginginkan Sunday Market pindah dari Gelora Manahan. PKL yang berjualan pakaian tersebut berharap kegiatan Sunday Market bisa dipertahankan untuk seterusnya digelar di Gelora Manahan.

"Misalnya, PKL dipindah sementara ke Alkid Keraton Solo. Setelah proyek rampung, ternyata kebijakan Pemkot berubah, yakni PKL tidak diperkenankan lagi masuk Manahan. Kan repot. Tidak menutup kemungkinan PKL setelah dilepas Pemkot diminta membayar retribusi lebih tinggi ke Keraton. Padahal setelah pindah, kami kehilangan pelanggan," ujar Darmadi.

PKL Sunday Market lainya, Mujiyati, 49, juga berharap bisa terus berjualan di Gelora Manahan setiap Minggu pagi hingga siang. Dia menyebut peliburan kegiatan Sunday Market sangat merugikan dirinya.

Sebagian besar pendapatannya berasal dari hasil berjualan di Sunday Market. Mujiyati tak bisa hanya mengandalkan pendapatan dari berjualan makanan keliling ke kampung-kampung. Dia meminta kepada Pemkot agar kegiatan Sunday Market tak diliburkan hingga terlalu lama.

"Libur sepekan saja sudah berasa sekali apalagi jika sampai berbulan-bulan. Kami berharap Pemkot memikirkan nasib para PKL yang sebagian besar adalah masyarakat kecil. Banyak dari kami selama ini mengandalkan hidup dari berjualan di Sunday Market," jelas Mujiyati.

Saat dimintai konfirmasi terkait jadwal pelaksanaan proyek penataan ulang Gelora Manahan, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Solo, Joni Hari Sumantri, tak berada di kantor, Senin siang.

Sekretaris Dispora Solo, Radik Karyanto, juga tak berada di ruang kerjanya. Kabid Sarana dan Prasarana Olahraga Dispora Solo, Yusroni, menjelaskan Kadispora dan Sekretaris Dispora tak berada di kantor karena ada tugas luar. Kadispora bahkan tengah mengikuti diklat di luar kota. Yusroni sendiri tak bersedia diwawancarai seputar proyek penataan ulang Gelora Manahan karena tak tahu menahu. "Itu yang tahu langsung pimpinan," kata dia.

Ketua Serikat Pekerja Minggu Pagi Manahan (SPMPM) Sunday Market, Joko Santoso alias Yuli de Santos, berencana dalam waktu dekat menemui pejabat terkait guna dimintai kepastian informasi pelaksanaan proyek penataan ulang Gelora Manahan.