Pertanian Klaten: Petani Desa Gempol Beralih Menanam Padi Organik, Ini Alasannya

Warga mengeringkan padi di lantai jemur yang dikelola gabungan kelompok tani Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Klaten, beberapa waktu lalu - Solopos/Taufiq Sidik Prakoso
16 April 2018 12:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Petani di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom. Kabupaten Klaten, mengembangkan produk pertanian organik di lahan seluas 4,6 hektare (ha). Pengembangan diperluas seiring banyaknya petani yang tertarik menjadikan lahan mereka sebagai lahan organik lantaran kondisi tanah kian subur dan lebih menguntungkan.

Ketua Kelompok Tani Dewi Ratih II Desa Gempol, Fauzan Satibi, mengatakan pengembangan pertanian organik bermula ketika dua petani desa setempat mulai meninggalkan unsur kimia untuk lahan pertanian mereka lantaran kesuburan tanah kian menurun. Pupuk kimia mereka ganti menggunakan kompos seperti kotoran ternak atau daun kering.

Pengembangan lahan organik itu berhasil membuat tanah kian subur. Hal itu dibuktikan dengan meningkatnya produksi padi meski tanpa menggunakan pupuk kimia.

“Kalau musim hujan itu produksi padi dikembangkan dengan sistem sebelumnya pasti menurun 50 persen. Tanaman terlihat hijau namun padi enggak ada isinya. Sekarang saja panen organik itu kalau diuangkan Rp6,5 juta per patok [1.800 meter persegi-2.000 meter persegi]. Sementara, yang dikembangkan dengan cara biasa, paling hanya Rp3 juta-Rp3,5 juta per patok,” jelas Satibi saat ditemui di rumahnya, Sabtu (14/4/2018).

Selain itu, biaya produksi bisa ditekan lantaran petani tak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli pupuk kimia. Sebanyak 15 petani lantas ikut mengembangkan lahan mereka menjadi lahan organik. Jumlahnya kian bertambah hingga kini sudah menjadi 26 petani.

“Awalnya itu memang sulit untuk mengajak petani ke organik. Setelah ada program Lazismu [pendampingan pengembangan lahan pertanian organik hingga 16 ha], banyak yang tertarik. Ini bertambah terus. Sudah ada sekitar 30 petani yang siap beralih ke organik,” kata Satibi.

Soal sistem penjualan hasil produksi, Satibi mengatakan dikembangkan melalui kelompok tani. Hasil panen padi pada lahan pertanian organik diolah melalui selepan atau tempat penggilingan beras yang dikelola oleh gabungan kelompok tani (gapoktan). Hal itu dilakukan untuk menghindarkan petani dari sistem pembelian dengan cara ditebas atau sistem ijon.

“Tujuan dari kelompok itu memang agar petani mendapatkan untung. Satu contoh ada teman yang lahan pertaniannya ditawar tengkulak Rp6 juta. Namun, ia memilih diolah di selepan dan dapat hasil Rp7,2 juta,” kata dia.

Kepala Desa Gempol, Nusanto Herlambang, mengatakan lahan seluas 4,6 ha yang dijadikan lahan organik sudah tersertifikasi. Produk yang dikembangkan dari pertanian organik yakni beras raja lele, mentik, mentik wangi susu, serta beras merah. Tahun ini, pengembangan produk organik lainnya yakni beras hitam.

Lahan pertanian organik mulai diperluas. Selama dua tahun terakhir, lahan seluas 8 ha terbebas dari penggunaan pupuk berbahan kimia. Lahan tersebut segera diajukan ke komite sertifikasi untuk mendapatkan sertifikasi organik.

Dari hasil produk pertanian organik, beras raja lele dijual seharga Rp20.000/kg, beras merah Rp20.000/kg, serta mentik wangi susu Rp18.000/kg. Selama ini, hasil produk pertanian organik dijual di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Produk pertanian organik yang paling diminati yakni beras raja lele yang merupakan varietas hasil pengembangan mutasi genetika melalui kerja sama antara pemkab dengan BATAN.

“Kami kewalahan tentang permintaan pasar karena memang keterbatasan produk. Alhamdulillah permasalahan itu dijawab PP Muhammadiyah melalui program Lazismu. Kami mendapat pendampingan dengan pengembangan lahan pertanian organik,” urai dia.

Nusanto menjelaskan pengelolaan pertanian organik dilakukan melalui kelompok tani. Para petani yang lahannya dikembangkan sebagai pertanian organik memasarkan produk mereka melalui kelompok tani.

Nusanto mengatakan pemerintah desa sudah mengalokasikan dana dari APB desa dengan nilai total mencapai Rp668 juta untuk membuat sejumlah fasilitas penunjang kegiatan gapoktan di antaranya pendirian gudang pangan, lantai jemur, kantor sekretariat, rumah tani mandiri, hingga lumbung padi.

Hasil produksi pertanian menjadi salah satu unit usaha BUM desa. Dalam setahun, pendapatan yang diperoleh melalui pertanian organik senilai Rp15 juta. “Itu sudah pendapatan bersih baru dari satu unit usaha. Hasilnya itu yang menjadi pendapatan asli desa,” urai dia.