Sewa Tanah PT KAI Naik, Warga Giritirto Wonogiri Menjerit

Tanah milik PT KAI di Lingkungan Kaloran, Kelurahan Giritirto, Kecamatan Wonogiri. (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
17 April 2018 04:35 WIB Redaksi Solopos Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Aliansi Masyarakat Sekitar Rel Wonogiri (Amsri) yang beranggotakan 570 kepala keluarga di Giritirto, Wonogiri, mengeluhkan kenaikan harga sewa tanah PT Kereta Api Indonesia (KAI)  yang mereka tempat. Menurut warga kenaikan harga sewa terlalu mahal sehingga sulit dijangkau masyarakat.

Ketua Amsri, Saman, saat ditemui Solopos.com di kediamannya di Lingkungan Kaloran, Kelurahan Giritirto, Kecamatan Wonogiri, Senin (16/4/2018), mengaku kenaikan harga sewa tanah PT KAI sangat memberatkan apabila dihitung dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).

“Kenaikan sangat berat sekali kalau dihitung berdasarkan NJOP, kalau kenaikan dilakukan secara mufakat kami bisa terima. Saya dulu hanya Rp182.000 sekarang diperkirakan mencapai Rp5juta untuk 2017 dan selanjutnya. Kalau 2006 sampai 2015 masih nyambung masih kuat membayar,” ujar Saman.

Saman juga menambahkan PT KAI tidak menagih uang sewa sejak 2007. Masyarakat yang hendak membayar sewa tanah menjadi kebingungan hendak bayar ke mana. Pada 2017, PT KAI baru menagih biaya sewa, akibatnya masyarakat harus membayar biaya sewa akumulasi selama 10 tahun. Sewa tanah PT KAI  naik hingga belasan kali lipat dari tarif sebelumnya.

Saman menjelaskan keadaan masyarakat kebanyakan hanya pekerja kasar sehingga sulit untuk membayar sewa tanah yang sangat tinggi. “Saya berharap biaya sewa diringankan sehingga dapat berjalan beriringan, PT KAI asetnya mendapat sewa dan Amsri juga kuat membayar, tidak ada niat untuk tidak membayar, semua akan membayar asalkan biaya sewa disesuaikan dengan kemampuan warga, kalau seperti ini yang jelas warga tidak mampu membayar,” ujar Saman.

Saman siap membayar apabila sewa tanah dikembalikan seperti semula walaupun dengan tunggakan. Ia juga berharap adanya mediasi dengan Bupati Kabupaten Wonogiri dan dari PT KAI.

Sri Saryanti, warga Lingkungan Kaloran, Kelurahan Giritirto, Kecamatan Wonogiri, saat ini telah mendapat surat peringatan pertama untuk membayarkan termin pertama. Ada dua termin yang harus dipenuhi dengan perincian sewa Rp10.487.808, biaya administrasi Rp474.450, dan PPN Rp1.096.225 dengan total Rp12.058.483.

Saryanti mengaku tidak sanggup membayar biaya sebesar itu. Ia hanya seorang janda memiliki toko kelontong yang ia gunakan sebagai tabungan dari uang yang diberikan anak-anaknya.

Pejabat Humas PT KAI Daop VI Yogyakarta, Eko Budiyanto, saat dihubungi Solopos.com, Senin (16/4/2018), mengatakan segala keluhan adalah suatu hal yang wajar karena penyesuaian tarif dari sangat murah menjadi tarif yang disesuaikan kondisi daerah setempat. Sesuai aturan yang berlaku.

“Kalau ada warga yang tidak membayar akan diproses sesuai prosedur berupa surat peringatan pertama hingga ketiga sesuai dengan ketentuan,” ujar Eko Budiyanto.

Ia juga menambahkan kenaikan sewa tanah PT KAI sudah disesuaikan dengan mempertimbangkan NJOP, luasan, dan kemanfaatannya. Ia juga mempersilakan warga yang keberatan membayar tarif sewa tanah bisa melayangkan surat ke kantor pusat PT KAI. (Ichsan Kholif Rahman)