dr Terawan ke Jerman Perkenalkan Cuci Otak, Begini Reaksi IDI

Ilustrasi digital subtraction angiography (Wikipedia)
17 April 2018 15:40 WIB Nur Faizah al Bahriyatul Baqiroh Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Dr Terawan saat ini bertandang ke Jerman untuk memenuhi undangan Rumah Sakit Krankenhaus Nordwest Jerman untuk memperkenalkan metode cuci otak temuannya. Padahal, sebelumnya PB IDI mengimbau Terawan menghentikan metode cuci otak tersebut untuk sementara.

Namun mengenai keberangkatan Kepala RSPAD itu ke Jerman, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ilham Oetama Marsis, mengatakan belum mengetahui detail pasti tentang apa saja yang dilakukan dr Terawan di sana.

"Saya tidak tahu persis karena saya belum dapat laporan dari dr Terawan sendiri, nanti kalau dia kembali dia akan bertemu dengan saya," ungkap Marsis, begitu dia dipanggil saat ditemui di Kantor PB IDI, Gondangdia, Jakarta Pusat, Selasa (17/4/2018).

Seperti yang diketahui, metode Digital Subtraction Angiogram (DSA) atau terapi cuci otak temuan dr Terawan menjadi polemik di kalangan kedokteran indonesia. Pasalnya, metode temuannya tersebut sampai saat ini belum melalui uji klinis di Kementerian Kesehatan.

Puncaknya, dr Terawan dituding melalukan pelanggaran etik yang membuat Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI merekomendasikan pemecatan sementara dr Terawan dari keanggotaan IDI. Saat ini pihak PB IDI masih melakukan penundaan putusan atas rekomendasi MKEK tersebut dikarenakan sudah terlalu banyaknya opini di luar ranah kedokteran mengenai putusan MKEK tersebut.

Oleh karena itu, pada Rabu (8/4/2018), pihak PB IDI sudah melakukan rapat dengar dengan Komisi IX DPR RI dan memutuskan tiga hal. Pertama, Komisi IX DPR mendesak kepada Kementerian Kesehatan membentuk satuan tugas bersama Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk melakukan penelitan teknologi kesehatan terhadap metode Digital Subtraction Angiogram (DSA) sebagai metode terapetik.

Kedua, Komisi IX DPR meminta kepada Kementerian Kesehatan bersama dengan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan IDI untuk segera menyelesaikan permasalahan tentang DR. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad.

Ketiga, Komisi IX DPR mendesak kepada Kementerian Kesehatan membentuk satuan tugas bersama KKI dan IDI untuk bertanggungjawab memberikan penjelasan terkait keamanan metode Digital Subtraction Angiogram (DSA) agar dapat meredam keresahan masyarakat.

Oleh karena itu, Marsis, begitu dia dipanggil meminta agar masyarakat tenang dan membiarkan masalah internal IDI ini terselesaikan dengan baik.

Sebelumnya, Ketua Dewan Perwakilan PB IDI Prof. dr. Errol U. Hutagalung, Sp. OT (K) mengatakan bahwa selama proses penundaan keputusan mengenai rekomendasi pemecatan sementara selama 12 bulan oleh MKEK, dr Terawan diminta menghentikan praktik cuci otak.

"Jadi selama penundaan ini, dokter Terawan tetap anggota IDI, tetap kepala RSPAD Gatot Soebroto, tetap boleh praktik. Cuma, praktiknya pelayanan metode dia [cuci otak] sementara dihentikan dulu sampai ada keputusan dari HTA [Health Technology Assesment] Kementerian Kesehatan," ungkapnya kepada Bisnis/JIBI, di Sekretariat PB IDI, Gondangdia, Jakarta Pusat, Senin (9/4/2018)