PBB dan Bangladesh Pertanyakan Klaim Myanmar Soal Repatriasi Warga Rohingya

Pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh. (Reuters/Danish Siddiqui)
17 April 2018 18:10 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, SOLO – Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Bangladesh mempertanyakan klaim pemerintah Myanmar yang mengaku telah melakukan repatriasi pertama bagi pengungsi Rohingya. Dalam pernyataan resmi, pemerintah Myanmar mengatakan telah memulangkan pengungsi Rohingya dari Bangladesh ke Myanmar, Sabtu (14/4/2018).

Pernyataan pemerintah Myanmar itu membuat Badan Pengungsi PBB (UNHCR) ragu. Sebab, mereka sama sekali tidak diberi tahu soal proses repatriasi tersebut. Bahkan, pemerintah Bangladesh mengaku tidak mengetahui apalagi ikut campur dalam pemulangan pengungsi Rohingya.

"Pemerintah Myanmar mengaku telah memulangkan sejumlah warga Rohingya yang menetap di tanah tak bertuan di sekitar perbatasan. Menurut catatan kami, ada sekitar 6.000 orang Rohingya yang tinggal di sana. Dan sampai saat ini mereka masih bertahan di sana," kata anggota Komisi Bantuan Pengungsi Bangladesh, Abdul Kalam, seperti dilansir CNN, Selasa (17/4/2018).

Abdul Kalam menambahkan, orang-orang yang diklaim telah dipulangkan ke Myanmar sebenarnya tidak pernah meninggalkan negara tersebut. Sebab, selama ini mereka tinggal di perbatasan yang masih masuk kawasan Myanmar.

"Apa yang dilakukan pemerintah Myanmar tidak bisa disebut dengan repatriasi. Sebab, keluarga yang dipindahkan itu tidak pernah meninggalkan wilayah Myanmar," tambahnya.

Menteri Dalam Negeri Bangladesh, Asaduzzaman Khan, ikut membantah klaim pemerintah Myanmar. Dia mengatakan bahwa berita pemulangan satu keluarga Rohingya itu palsu. "Klaim dari Myanmar itu tidak lain hanyalah lelucon. Jika benar, saya berharap Myanmar membawa semua keluarga Rohingya kembali ke negaranya secepat mungkin," kata Asaduzzaman Khan seperti diwartakan Washington Post.

Seperti diketahui, ratusan ribu orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak Agustus 2017 lalu. Hal ini terjadi karena mereka ingin menyelamatkan diri akibat serangan yang dilakukan militer Myanmar. PBB mengklaim serangan ini sebagai bentuk genosida. Sebab, selama ini orang Rohingya tidak pernah diakui sebagai warga Myanmar. Mereka dianggap sebagai imigran gelap dari Bengali yang selama ini selalu dimusuhi.