Analisis Psikolog tentang Kasus Penyerangan Bonek di Solo

Capture video kisruh truk yang ditumpangi bonek dilempari (Istimewa - Facebook)
19 April 2018 21:35 WIB Muhammad Ismail Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Soleh Amini Yahman, memberikan analisisnya terkait kasus penganiayaan suporter klub Persebaya Surabaya (bonek) di Solo. Menurut dia, peristiwa itu merupakan gejala sosial yang tidak biasa.

Kasus penganiayaan  yang disertai upaya merekam kejadian menggunakan kamera video oleh pelaku kemudian diunggah ke media sosial (medsos) seperti Facebook dan Youtube menunjukkan pelaku menginginkan pengakuan dari publik atas eksistensi kelompok mereka.

“Kelompok yang mencari pengakuan eksistensi seperti itu adalah orang yang mengalami perpecahan kepribadian. Saya melihat kelompok seperti ini sangat puas kalau aksinya diakui orang lain tanpa melihat dampak negatif dari perbuatan mereka,” kata Amini ketika diwawancarai Solopos.com via telepon, Kamis (19/4/2018).

Amini menyebut fenomena bonek  merupakan gejala sosial yang salah. "Saya melihat bonek adalah sebuah camp di Surabaya kemudian menyebar di mana-mana,” ujar Amini.

Ia menilai prilaku penganiayaan bersama-sama tidak hanya terjadi pada bonek tetapi hampir semua kelompok. Orang yang hidup dalam kelompok akan memiliki jiwa kelompok. Kalau sudah seperti itu, rasionalitas individu akan hilang dan berubah menjadi rasionalitas kelompok.

“Kalau sudah menjadi rasionalitas kelompok, sudah pasti beraninya hanya keroyokan, tidak berani sendiri. Saya melihat kasus ini rasionalitas kelompoknya lebih dominan yang berakibat fatal dengan hilangnya nyawa seseorang,” kata dia.

Ditanya mengenai peran orang tua, ia menegaskan jiwa kelompok seperti ini tidak bisa 100 persen kesalahan orang tua. Orang tua sebenarnya juga memiliki peran penting terutama saat anaknya sampai pukul 21.00 WIB belum pulang ke rumah harus dicari tahu keberadaanya.

“Kami mengimbau orang tua harus benar-benar mengawasi anaknya terutama saat bergaul dengan orang lain di luar sekolah dan rumah. Anak di bawah umur yang terlibat masalah hukum disebabkan mereka dewasa sebelum waktunya akibat pengaruh lingkungan,” kata dia.

Kasus penganiayaan  terhadap bonek di Solo, Sabtu (14/4/2018) dini hari lalu, dilakukan mayoritas oleh remaja. Mereka berbagi tugas, ada yang melempar batu, memukul menggunakan alat pukul, ada yang merekam menggunakan kamera video, lalu mengunggahnya di media sosial.

Saat ini, Polresta Surakarta sudah menangkap empat orang  dan menetapkan mereka sebagai tersangka penganiayaan berujung satu orang tewas dan satu orang lainnya luka parah itu. Polisi masih memburu sekitar 50-100 orang lainnya yang diduga terlibat.