Kecelakaan Boyolali: Tabrak 3 Mobil, Keputusan Hidup Mati dalam Hitungan Detik

Mobil Toyota Rush H 9060 TB rusak para akibat tertabrak truk di simpang Mojolegi, Teras, Boyolali, Kamis (19/4 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
19 April 2018 19:35 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Truk Hino berwarna hijau yang sedang menuju ke arah timur atau ke arah Solo melaju zig-zag, Kamis (19/4/2018). Beberapa orang melihat truk yang melintas di jalan Solo-Semarang di wilayah Kecamatan Teras, Boyolali, ini berpindah-pindah posisi dari lajur kiri ke lajur kanan dan sebaliknya.

Mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan truk berpelat nomor H 1959 GP ini. Warga mengira sopir truk mengantuk sehingga tidak mengemudi dengan sadar.

Di dalam kabin truk situasinya tak seperti yang dibayangkan orang. Sang sopir, Jefri Aditya, 27, tidak sedang mengantuk. Mata Jefri justru sedang terbuka lebar dan terjaga penuh melihat situasi lalu lintas di depannya.

Warga Semarang ini sedang mencoba memperlambat truknya dengan berjalan berkelok-kelok. Jefri mengalami masalah dengan rem kendaraan yang mulai blong. Pedal yang terhubung dengan rem roda yang ia injak sejak melintas di simpang Randusari, Kecamatan Teras, Boyolali, tidak berfungsi dengan baik.

Akibatnya, kendaraan yang ia kemudikan itu terus melaju di jalan yang sedikit menurun tersebut. Sementara dalam beberapa ratus meter di depan, truk akan sampai ke simpang Mojolegi yang ada lampu bangjonya dengan kendaraan yang berhenti.

Tuas rem tangan kemudian ia tarik kuat-kuat. Namun kecepatan truk yang mengangkut 28 ton batubara ini tak melambat sedikit pun. Saat itu dia memastikan kedua rem tidak dapat digunakan lagi. Kini dia tinggal berpikir bagaimana cara menghentikan kendaraan itu secara paksa.

Sementara itu, simpang Mojolegi semakin dekat, hanya puluhan meter di depan mata. Dia berpikir kecelakaan  tidak mungkin dihindari dan Jefri harus menentukan risiko yang paling kecil. Ia harus berpikir cepat. Dalam hitungan detik, Jefri harus menentukan hidup dan mati dirinya serta orang lain di sekitarnya.

Dia melihat kendaraan di depannya mulai berhenti. Truk tangki BBM Pertamina berhenti di lajur kiri. Tiga mobil berhenti di lajur kanan, masing-masing Toyota Rush berpelat nomor H 9060 TB, Toyota Avanza AB 1070 HJ, dan Toyota Yaris H 8687 QP.

Ada beberapa pilihan untuk menghentikan truk dalam situasi lalu lintas seperti itu. Pertama, memepetkan truk ke median jalan. Tapi dengan beban seberat itu, truk akan lompat ke jalur berlawanan dan akan mengenai kendaraan dari timur dan menimbulkan banyak korban.

Kedua, banting setir ke kiri keluar badan jalan, namun truk akan menabrak warung-warung di sisi kiri jalan tersebut dan juga akan banyak korban. Pilihan lain adalah menabrakkan ke truk tangki BBM. Tapi ini risikonya juga sangat besar karena dia akan mati dan tangki akan meledak.

Pilihan terakhir adalah memepetkan truk ke mobil-mobil yang berbaris di depannya di lajur kanan. Risikonya dianggap lebih kecil karena mobil hanya akan melaju jika terdorong truk.

Pilihan terakhir inillah yang diputuskan Jefri. Akhirnya, dengan penuh kepasrahan, dia menabrakkan truk ke mobil Toyota Rush yang berada paling belakang. Beban berat truk kemudian mendorong Toyota Rush menabrak Toyota Avanza di depannya, kemudian mendesak Toyota Yaris yang berada paling depan.

Beruntung, seperti perhitungan Jefri kecelakaan itu tidak menimbulkan korban jiwa meski semua kendaraan yang tertabrak mengalami kerusakan. “Kalau saya tabrakkan ke truk tangki, saya akan mati dan truk bisa meledak kemudian terbakar dan akan banyak sekali korban jiwa,” ungkap Jefri saat ditemui wartawan di Mapolsek Teras, sekitar 50 meter ke arah timur dari lokasi kejadian.

Sementara pengemudi Toyota Rush Abdi Tompo R., warga Salatiga, mengaku sangat shock atas kejadian itu. “Saya kaget setengah mati karena mobil tiba-tiba terguncang ditabrak dari belakang,” kata kepala SD ini yang mobilnya rusak paling parah.