Komunitas Budaya Sepakat Tetap Jadikan Sriwedari Solo Ruang Publik

Para pegiat seni budaya Solo menggelar pertemuan membahas rencana penataan kawasan Sriwedari di Rumah Banjarsari, Setabelan, Solo, Rabu (18/4 - 2018) malam. (Istimewa)
20 April 2018 02:35 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah perwakilan dari komunitas penggerak cagar budaya, kesenian, kebudayaan, hingga kesejarahan di Solo bersepakat akan terus meramaikan Taman Sriwedari Solo  sebagai ruang publik yang berfungsi sebagai kawasan kebudayaan.

Mereka berkomitmen menggelar berbagai kegiatan seni budaya secara intens di kompleks Taman Sriwedari tanpa terpengaruh adanya pembangunan masjid raya maupun rencana penataan kawasan Sriwedari  oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.

Kesepakatan dan komitmen tersebut menjadi bagian dari hasil pertemuan yang digelar Komunitas Seni Budaya Surakarta dan Soeracarta Heritage Society (SHS) di Rumah Banjarsari, Jl. Sjamsurizal No. 10, Kelurahan Setabelan, Banjarsari, Rabu (18/4/2018) malam.

Program Advisor SHS, Agustina Dewi Sita Ratih, mengabarkan sedikitnya ada 17 orang perwakilan dari sejumlah komunitas seni budaya di Solo yang hadir dalam pertemuan tersebut guna membahas dua topik utama, yakni rencana terbuka menghidupkan kegiatan di Sriwedari dan rencana permohonan audiensi ke Pemkot terkait pembangunan Sriwedari.

Pertama, forum bersepakat mengirim surat ke Pemkot Solo agar diberi kesempatan beraudiensi dengan Pemkot Solo, perencana penataan kawasan Sriwerdari, dan panitia pembangunan masjid raya pada 25 April mendatang.

“Awalnya ada penyampaikan terkait hasil pertemuan inisiatif yang dilakukan lima orang, termasuk saya dengan Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo pada 13 April lalu. Setelah hal itu didiskusikan, forum bersepakat lebih baik diadakan audiensi lebih lanjut bersama pihak-pihak terkait lain. Surat permohonan audiensi sudah saya kirim hari ini [kemarin],” kata Sita saat diwawancarai Solopos.com, Kamis (19/4/2018).

Kedua, forum bersepakat akan terus secara intens membikin kegiatan di kawasan Sriwedari. Sita menyampaikan tujuan hal itu tidak lain agar Taman Sriwedari dapat bertahan sebagai ruang publik. Dia menyampaikan forum belum sampai menyepakati teknis pelaksanaan kegiatan rutin yang dimaksud.

Teknis kegiatan akan dibahas sambil jalan melalui media sosial. Lagi pula, para pegiat seni budaya dan sejarah tersebut butuh informasi yang jelas terkait rencana penataan Sriwedari sehingga mereka dapat menentukan tempat untuk pelaksanaan kegiatan.

“Kami ingin memperoleh penjelasan yang sejelas-jelasnya secara langsung dan lengkap dari Pemkot Solo. Bukan hanya soal pembangunan masjid, kami juga butuh informasi terkait rencana penataan kawasan Sriwedari karena hal itu berkaitan erat dengan bisa hidup atau tidak komunitas seni budaya masyarakat di ruang tersebut?” tutur Sita.

Budayawan Solo, Suprapto Suryodarmo, sebelumnya menilai Pemkot Solo tidak bisa menjaga nilai Kota Solo sebagai kota pusaka dunia atau kota yang berjuluk Spirit of Java jika tetap membangun masjid raya di kawasan Sriwedari. Dia mengatakan ingatan masa lalu pada Taman Sriwedari yang hingga kini terpatri sebagai sebuah citra Kota Solo akan sirna dengan keberadaan masjid raya.

“Saya sama sekali tidak menolak pembangunan masjid. Tapi kalau ditempatkan di Sriwedari, saya pikir tidak tepat. Sriwedari adalah image Kota Solo sejak lama,” kata Mbah Prapto, sapaannya.