Berburu Kaktus Langka Bernilai Jutaan Rupiah di Solo, Ini Tempatnya

Kaktus jenis Gymnocalycium mihanovichii variegata (kaktus). (Solopos/Mariyana Ricky P.D.)
22 April 2018 22:35 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Ratusan tanaman berduri berbagai bentuk mengisi meja berukuran 4 meter x 2 meter di rumah Joyo, warga Kampung Pucangsawit RT 001/RW 009, Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Solo, Rabu (18/4/2018).

Di dalam rumah kaca di lantai II itu, aneka kaktus langka menjadi penghuni mayoritas. Lainnya, varian sukulen yang betah hidup berdampingan dengan tanaman asli gurun tersebut.

Tokopedia

Hari masih pagi, namun suhu di dalam rumah kaca jauh lebih tinggi dibanding di luar. Rumah tanaman tersebut berfungsi melindungi kaktus dari panas dan dingin yang berlebihan. Selain itu juga bermanfaat menjaga dari air hujan yang terlalu banyak.

“Jika menilik varietas kaktus di sini mungkin lebih dari seribuan. Karena satu genus saja punya banyak spesies. Salah satu genus di sini dan variannya banyak antara lain Astrophytum alias kaktus bintang. Macamnya ada Astrophytum caput-medusae, Astrophytum asterias, dan Astrophytum myriostigma,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu.

Kaktus Astrophytum yang orisinalnya dari Amerika Utara dan sekitarnya bernilai tinggi sejak ukurannya masih mini. Kaktus selebar enam sentimeter dengan tinggi lima sentimeter saja, orang berani membelinya senilai Rp300.000.

Hal ini lantaran kaktus-kaktus tersebut sangat lambat pertumbuhannya. Untuk mencapai tinggi 30 sentimeter, paling cepat dibudidayakan selama tujuh tahunan. Dalam setahun paling cepat bertambah tinggi dua hingga empat sentimeter.

“Karena pertumbuhan kaktus langka ini lambat, harganya stabil sehingga tidak jadi tren yang sekejap lalu hilang. Kolektornya juga fanatik atau jarang sekali pindah ke tanaman lain,” ungkap Joyo.

Jenis lain yang tak kalah jadi buruan adalah genus Gymnocalycium dan Melocactus. Spesies dari genus itu di antaranya Gymnocalycium mihanovichii, Gymnocalycium friedrichii lb 2178 agua dulce, Melocactus amoenus, dan Melocactus curvispinus.

“Saya mengunggah dan menjual koleksi saya via daring, lewat website joysgarden.co, Facebook, dan Instagram. Di platform itu saya menjelaskan jenis kaktusnya, asal kultivar, ukuran, dan kelangkaan dari jenis kaktus tersebut. Setiap bulan seenggaknya laku seratusan batang,” jelasnya.

Pembeli kaktus-kaktus langka koleksi Joyo  didominasi dari Jabodetabek. Ia mengirim paket dari Solo  dalam bentuk cabutan akar (tanpa media tanam atau pot) yang bisa bertahan selama dua bulan tanpa air.

“Kemasan seperti ini lebih ringkas, tidak makan tempat dan aman sampai tujuan karena kaktusnya saya bungkus lagi dengan gabus, kertas koran, dan kardus sampai bentuknya bulat dan padat,” kata dia.

Makin Unik Makin Mahal

Koleksi kakti (sebutan jamak untuk kaktus) di Joys Garden seluruhnya merupakan genus dan spesies kaktus langka. Makin unik bentuk, warna, dan tingkat kelangkaannya makin mahal harganya. Biasanya kaktus yang bentuknya unik dan warnanya tak lazim tersebut sudah mengalami kelainan genetik.

“Saya ada beberapa kaktus unik dan langka genus Astrophytum yang tingginya sudah 30-an sentimeter. Ada juga Melocactus yang diameternya sampai 25 sentimeter. Tapi enggak saya jual karena dijadikan indukan,” kata Joyo.

Mutasi genetik kaktus yang dimaksud adalah bentuknya yang berubah. Pada Astrophytum misalnya, bentuk lazimnya menyerupai bintang atau membulat dan berwarna hijau. Namun ketika mengalami perubahan genetik, warna yang umumnya hijau berubah menjadi kekuningan atau merah.

“Istilah perubahan warna ini adalah variegata. Mutasi dapat terjadi secara spontan atau dengan buatan,” kata Joyo.

Mutasi yang terjadi spontan sangat jarang, kisaran terjadinya 1 : 1000000, sedangkan secara buatan dapat lebih sedikit perbandingannya. Mutasi yang menimbulkan variegata yaitu perubahan sebagian kecil gen (gen warna) di dalam sel pada titik tumbuh tanaman sehingga pada perkembangannya sel-sel itu dapat membelah dan semakin banyak.

Sedangkan mutasi genetik bentuk membuat kaktus yang semula tunggal bisa menjadi kembar atau melebar (istilah pada manusia kembar siam). “Saya sendiri punya Melocactus yang bentuknya seperti kipas. Padahal umumnya membulat biasa. Kaktus ini saya jadikan indukan dengan harapan ada anakan yang sama-sama mengalami mutasi genetik meskipun prosentasenya sedikit,” kata Joyo.

Untuk memperbanyak kaktus-kaktus tersebut, Joyo biasanya menggunakan biji atau sambung pucuk. Biji didapatkan dari bunga yang sudah menjadi buah lalu mengering. Satu buah kaktus dapat menghasilkan ribuan anakan baru.

“Sama seperti tanaman lain harus disemai ditunggu sampai muncul akar dan batang baru dipisah ke pot masing-masing. Tingkat kematian sampai muncul akar dan batang ini 50%. Dipindah ke pot tunggal baiknya menunggu saat ukurannya minimal 2,5 sentimeter. Bunga kaktus normalnya muncul saat berumur di atas tiga tahun, meski ada jenis yang muncul bunga baru pada umur 5-10 tahun. Ada juga yang berbunga tapi tidak bisa melakukan pembuahan [mandul] sehingga baiknya punya dua indukan,” kata Joyo.

Bunga kaktus sangat bervariasi. Ada yang berbentuk menyerupai bunga bangkai, ada yang mirip kenanga, hingga teratai. Namun aromanya mayoritas tak sedap, sehingga menarik kerumunan lalat. Lalat inilah yang kerap membantu penyerbukan.

Sambung pucuk dilakukan pada genus Gymnocalycum yang biasa disambungkan dengan batang buah naga. Ini lebih mempercepat pertumbuhan sehingga tak sampai satu tahun bisa dipisah dari indukan ke pot tunggal.

Joyo mengatakan biji-biji yang telah disemai harus dijaga kelembapannya dan tidak boleh terkena sinar matahari langsung (tempat teduh). Ia biasanya menyemai biji-biji itu di dalam pot berdiameter 10 sentimeter yang dilapisi sungkup plastik.

“Sungkup ini boleh dibuka setiap dua pekan sekali atau menyesuaikan kondisi kelembapannya. Jika masih lembab tidak perlu dibuka, tapi saat tampak kering segera dibuka dan disiram,” kata dia.