Petani Karanganyar Sulit Diajak Terapkan Pertanian Organik

Petani memupuk tanaman jahe dan cabaidengan menggunakan pupuk organik, di Batang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. (Bisnis - Juli Nugroho)
23 April 2018 09:00 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR--Setiap wilayah di Karanganyar dapat menerapkan sistem budi daya pertanian organik. Pernyataan itu disampaikan Ketua Perkumpulan Tani Organik Sehati (Atos), Dedy Fachruddin Irawan, saat menggelar jumpa pers di Villa Dzakiya Karangpandan, Minggu (8/4/2018).

Mereka menggelar jumpa pers berkaitan dengan deklarasi Atos setelah mendapatkan pengakuan resmi dari Kemenkumham. Dedy menyampaikan Atos sudah berkecimpung di bidang sistem budi daya pertanian organik sejak sepuluh tahun lalu. Tetapi, keberadaan Atos baru saja diakui oleh Kemenkumham. Dedy menyampaikan sejumlah petani dari berbagai wilayah di Indonesia sudah bergabung, seperti Klaten, Sragen, Karanganyar, Temanggung, Kediri, dan lain-lain.

Tokopedia

"Kalau Karanganyar itu ada di Mojogedang, Tawangmangu, Jumapolo, Jenawi, dan lain-lain. Setiap wilayah punya penanganan berbeda-beda tergantung kondisi lahan. Wilayah yang ada industri [Kebakkratam, Jaten] bisa. Penanganan berbeda," kata Dedy saat sesi tanya jawab setelah jumpa pers.

Dedy mengakui bahwa proses mengajak petani menerapkan budi daya pertanian organik tidak mudah. Salah satu stigma yang melekat saat menerapkan metode pertanian organik adalah hasil panen menurun, proses panjang dan lama, penghasilan berkurang, dan lain-lain. Oleh karena itu, Atos memiliki cara berbeda mendekati petani.

"Organik itu dari proses sampai hasil. Saat datang, penggunaan pestisida kimia tinggi. Kami berikan pelatihan mengurangi itu. Ada tahap supaya petani tidak syok. Kami tidak bilang mari gunakan organik. Kami bikin demplot di samping lahan petani. Kami ajarkan substitusi," jelas dia.

Substitusi dilakukan dengan mengurangi pemakaian produk kimia secara bertahap. Target akhir adalah mengurangi penggunaan produk kimia hingga 60%-70%.

"Misal pakai organik 20% dulu. Lalu bertahap ditambah lagi jadi 30%. Supaya hasil tidak turun. Goal-nya bisa mengurangi pupuk kimia 60%-70%. Dua tahun prosesnya sampai mereka mengantongi sertifikat organik. Pendekatan itu supaya mereka tidak kaget karena hasil tidak turun," papar dia.

Atos bergerak sepuluh tahun lalu karena merasa prihatin dengan jumlah lahan pertanian kritis semakin banyak, hasil panen menurun, pemerintah mengeluarkan kebijakan impor. Atos yang terdiri atas akademisi, praktisi, dan petani menggandeng sejumlah ahli di bidang masing-masing dari sejumlah universitas di Solo, DIY, Malang, dan lain-lain. Tujuan mereka adalah budi daya sistem pertanian 100% organik pada 2025.

Dewan Penasihat Atos, Pramono Hadi, menyampaikan Atos tidak hanya mengurusi proses budi daya pertanian organik tetapi juga membantu pemasaran produk. Mereka rutin melaksanakan pelatihan di sekretariat di Nusukan, Solo setiap pekan. Divisi Marketing Atos, Ari Kinasih, menyampaikan produk pertanian organik identik dengan harga lebih mahal apabila dibandingkan dengan produk sejenis tetapi nonorganik.

"Organik harga mahal karena pola tanam berbeda. Tahapan menjadikan nilai tinggi. Perlu product knowledge secara luas," ujar dia.

Salah satu petani asal Klaten, Suharna, menyampaikan menjadi anggota dan pengurus Atos. Sebelumnya, dia sudah menerapkan budi daya jahe merah secara organik tetapi belum sesuai standar organik. Dia merawat jahe merah menggunakan 14 bahan racikan aneka sayur, buah, daun, dan lain-lain yang difermentasi.

"Lalu muncul Atos. Kami didampingi dan diberi tahu soal pengelolaan produk habis panen. Kemas produk dengan standarisasi. Dijual. Semua proses mengarah ke organik sesuai standar. Produk diolah menjadi ekstrak. Pasar saya sampai Myanmar. Hasil naik menjadi 75%," katanya.