Pemkot Solo Himpun Dana CSR untuk Penataan Sriwedari

Arca Dwarapala Sriwedari Solo, 2018 (kiri) dan kondisi pada 1976. (Solopos/Istimewa)
26 April 2018 19:35 WIB Indah Septiyaning Wardhani Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo gencar mencari sumber dana dari perusahaan melalui corporate social responsibility (CSR) untuk penataan kawasan Sriwedari Solo. Dana dari CSR ini untuk pembangunan Gedung Wayang Orang (GWO) hingga penataan taman di kawasan tersebut.

Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Solo Ahyani mengatakan Pemkot akan membangun ulang GWO Sriwedari dengan kualitas internasional yang tidak kehilangan karakter tradisional dan budaya Jawa. Pembangunan GWO akan dikerjakan tahun ini.

“Butuh anggaran besar untuk membangun GWO. Gedungnya saja butuh Rp64 miliar, belum fasilitas pendukungnya. Kalau mengandalkan APBD tidak mungkin sehingga kami mencari dana CSR,” kata dia ketika dijumpai wartawan di Balai Kota Solo, Kamis (26/4/2018).

Sesuai konsep, GWO Sriwedari  akan dibangun lebih modern dengan ruang panggung yang dinamis, penataan akustik baik dan diperhitungkan dengan detail. Selain itu tatanan kursi yang nyaman, dan fasilitas penunjang yang baik untuk pemain.

Semua peningkatan ini guna meningkatkan kualitas pertunjukan Wayang Orang Sriwedari di masa depan serta meningkatkan antusiasme dan jumlah pengunjung. Menurutnya, Solo memiliki banyak potensi pariwisata yang menarik dan Wayang Orang Sriwedari salah satunya.

Wayang Orang Sriwedari merupakan contoh kesenian tradisional yang telah bertahan lebih dari 107 tahun dan kini memerlukan perhatian khusus dari masyarakat dan Pemkot Solo. Partisipasi publik serta kolaborasi multidisiplin dalam merancang bentuk desain ideal GWO Sriwedari inilah memberikan pendekatan baru masyarakat dalam mendukung program kerja Pemkot Solo.

“Kami menargetkan GWO Sriwedari mulai dibangun 2018 sehingga Kota Solo akan memiliki gedung dengan kualitas internasional yang tidak kehilangan karakter tradisional dan budaya,” kata Ahyani.

Selain gedung wayang orang, Pemkot Solo juga tengah menyiapkan pembangunan Museum Wayang di kawasan Sriwedari. Studi kelayakan dilakukan terkait rencana pemanfaatan Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari untuk Museum Wayang. Pembangunan museum ini mendesak direalisasikan lantaran mampu mendukung wisata Kota Solo sebagai Kota Budaya.

“Cerita sejarah tentang wayang sampai sekarang belum ada. Makanya Pemkot berinisiasi akan membangun museum wayang di kawasan Sriwedari itu,” katanya.

Ahyani menuturkan Sriwedari dinilai tepat sebagai lokasi pembangunan Museum Wayang. Selain kawasan cagar budaya, di Sriwedari juga telah terdapat dua museum lain, yakni Radya Pustaka dan Keris Nusantara.

Keberadaan Museum Wayang nanti bisa mendukung dua museum yang sudah ada di Sriwedari tersebut. “Jika museum wayang ini dibangun maka akan menjadi museum wayang pertama di Indonesia bahkan dunia,” katanya.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo mengatakan Pemkot Solo telah menyiapkan rencana penataan di kawasan Sriwedari. Penataan Sriwedari Solo akan menyentuh seluruh kawasan, dari pedagang kaki lima (PKL) Busri, PKL Gapura atau eks Pujasera, dan lain sebagainya.

Rudy sapaan akrabnya berkeinginan memanfaatkan Taman Sriwedari selanjutnya digunakan untuk lima kegiatan, yakni pendidikan, keagamaan, kesenian, kebudayaan, dan pariwisata. “Nanti kami akan bangun Masjid Taman Sriwedari, kemudian Gedung Wayang Orang (GWO). Kami juga akan menata Segaran dikembalikan seperti dulu,” katanya.