Pemindahan SMPN 5 Solo Terus Diprotes

SMPN 5 Solo (Solopos/Insetyonoto)
27 April 2018 09:00 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Pemindahan SMPN 5 Solo dari Kelurahan Timuran ke Mojosongo terus menuai protes sejumlah pihak. Kali terakhir, para alumni menyampaikan protes melalui karangan bunga yang dipajang di depan sekolah. Hal ini pun ditanggapi beragam oleh DPRD Solo.

Karangan bunga berjumlah empat buah itu diletakkan di depan gerbang sekolah. Ada pesan-pesan tertulis yang bernada protes ke Pemkot Solo. Namun demikian, isinya dinilai lucu dan menggelitik. Antara lain, SAVE SMPN 5 SKA, Ojo Gur Iso Gawe Loro, dan Ati-ati Ngko Yen Dicokot Mbi Butho. Di samping itu, ada pula tulisan Cinta Pertamaku Bersemi di SMP Butho, Save Our Memory. Karangan bunga ini salah satunya dari Alumni SMPN 5 Solo angkatan 1992.

Tokopedia

“Pemindahan SMPN 5 Solo ini bukan tanpa alasan. Ini sebagai salah satu bentuk pemerataan pendidikan di Kota Solo. Protes itu boleh-boleh saja, tetapi jangan seperti ini,” tutur Komisi IV DPRD Solo, Paulus Haryoto, kepada wartawan, Kamis (26/4/2018).

Menurutnya, alumni jangan hanya berbicara kepentingan sendiri melainkan juga terkait penyelenggaraan pendidikan ke depan. Antara lain, pemerataan pendidikan di wilayah utara. Selain itu, sarana dan prasarana untuk lokasi yang baru sudah siap. Bahkan, pihaknya siap menganggarkan jika ada hal-hal yang dibutuhkan untuk pelaksanaan KBM di tempat yang baru.

Di sisi lain, pemindahan ini bakal dilakukan secara bertahap, yakni mulai tahun ajaran mendatang dengan pembukaan kelas VII. Sementara kelas VIII dan kelas IX masih dilakukan di dekat Mangkunegaran.

Sementara itu, Ketua Komunitas Soeracarta Heritage Society, Yunanto Sutyastomo, mengatakan Pemkot Solo dalam penataan kawasan hanya berpatokan pada fisik.

“Pemkot Solo dalam hal penataan kawasan bersejarah masih sembarangan. Mereka hanya berkutat pada penataan kawasan secara fisik tanpa memperhatikan desain sosial budaya,” jelasnya.