Endang dan Elfira Tak Lelah Berlatih demi Kesuksesan Solo Menari

Peserta berlatih Tari Gambyong Pareanom saat geladi bersih Solo Menari di Jl. Slamet Riyadi Solo, Jumat (27/4 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
28 April 2018 15:15 WIB Ika Yuniati Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Ribuan penari antusias menjalani sesi latihan maupun geladi resik pentas tari gambyong massal, Jumat (27/4/2018), di Jl. Slamet Riyadi Solo ruas Gladak–Perempatan Novotel. Geladi bersih dilaksanakan menjelang event Solo Menari yang diagendakan Minggu (29/4/2018) pagi di ruas jalan tersebut.

Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo memberi aba-aba dimulainya gladi resik Solo Menari, Jumat pagi. Suaranya yang dipantulkan melalui sound system terdengar dari bundaran Gladag hingga menuju perempatan Novotel. “Mari kita latihan bersama. Tanggal 29 sukses untuk anak-anak dan seluruh penari,” kata Rudy disambut meriah tepuk tangan ribuan peserta.

Beberapa menit kemudian, rekaman musik pengiring Tari Gambyong Tri WMP diputar. Para peserta spontan bergerak menarikan karya salah satu pengajar Institut Seni Indonesia (ISI) Solo Nanuk Rahayu. Dilanjutkan Tari Gambyong Pareanom karya mendiang Ngaliman dan Tari Pergaulan ciptaan Dinas Kebudayaan Solo di sesi terakhir.

Salah satu peserta, Endang Lestari, 55, berusaha keras mengikuti gerakan Tari Gambyong. Anggota staf Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1 A Solo ini terlihat semangat meskipun sedikit terbata-bata. “Dulu sih pernah menari, tapi sudah lama enggak menari lagi, lalu ini diajak Solo Menari. Semangat banget kalau saya. Ikut menyemarakkan acara,” kata Endang.

Usahanya demi menyukseskan peringatan Hari Tari Dunia (HTD) yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Solo ini cukup epik. Begitu tahu dapat undangan menari, Endang mengunduh video Tari Gambyong Tri WMP, dan Gambyong Pareanom di situs web berbagi Youtube. Gerakannya dipelajari sembari istirahat di rumah ataupun di kantor bersama rekan-rekannya.

Perwakilan dari Kecamatan Banjarsari, Alfira Gabriana, 16, juga melakukan hal serupa. Tak puas dengan melihat video Youtube, murid Sekolah Menangah Atas (SMA) Negeri 5 Solo ini belajar khusus kepada adiknya yang merupakan seorang penari. “Latihan bareng di luar lima kali. Di rumah belajar lagi. Minta diajari adik yang lebih pintar menari,” kata dia saat diwawancarai solopos.com seusai gladi resik.

Ini merupakan kali pertama Alfira dilibatkan dalam acara Solo Menari. Intensitas latihan yang cukup padat tiga pekan terakhir tak membuatnya bosan. Dari latihan, Alfira justru merasa jatuh cinta dengan tari tradisional. Ia berencana ikut les menari di sanggar setelah acara usai.

Kepala Dinas Kebudayaan Solo Kinkin Sultanul Hakim mengatakan hingga gladi resik jumlah peserta mencapai 5.200 orang. Mereka terdiri dari murid Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SMA, perwakilan kecamatan, murid sanggar seni, dan perwakilan dari instansi pemerintahan.

Saat acara besok ada 3.500 peserta yang mengenakan riasan dan kostum Tari Gambyong. Lengkap dengan jarit lereng sogan, kemben kain jumputan, selendang, dan gelungan. Panitia membuat formasi sepuluh warna pada selendang dan kemben jumputan. Sisanya sekitar 1.500an peserta mengenakan kostum kebaya dan selendang.

Acara dimulai dengan umbul donga dan potong tumpeng Minggu, pukul 07.00 WIB – pukul 09.00 WIB. Tari Gambyong akan diiringi musik gamelan langsung dengan komposer Blacius Subono. Acara tersebut, kata Kinkin, juga menghadirkan tim penilai dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri).

“Kami mengundang Rekor Muri. Tahun ini kami akan memecahkan rekor sebelumnya di Solo yaitu 1.000 tari massal saat HTD,” tambah Kinkin.

Institut Seni Indonesia (ISI) Solo juga memperingati HTD dengan pentas 24 Jam Menari di Kompleks Kampus I. Acara dimulai Minggu pukul 05.20 WIB, dan ditutup dengan orasi budaya pada Senin (30/4/2018) pukul 06.00 WIB. Dimeriahkan 160 kelompok seniman dari dalam dan luar negeri. Seperti biasanya mereka menampilkan seniman yang akan menari selama 24 jam. Tahun ini penari 24 jam diisi tiga penari perempuan asal Solo, Bandung, dan Yogyakarta.