DPRD Jateng Minta Bangunan Asli PG Colomadu Ditandai

Sejumlah anggota Komisi B DPRD Jateng meninjau De Tjolomadoe di Desa Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar, Kamis (26/4 - 2018). (Solopos/Iskandar)
29 April 2018 11:00 WIB Iskandar Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR - Sejumlah anggota Komisi B DPRD Jateng yang pada Kamis (26/4/2018) siang melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke De Tjolomadoe di Colomadu, Karanganyar menyatakan kekagumannya dan memberikan masukan agar bangunan asli diberi tanda.

“Sudah sekian puluh tahun Pabrik Gula [PG] Colomadu ini mangkrak dan sekarang menjadi produktif dan bermanfaat setelah direvitalisasi. Sekarang kawasan ini bisa menjadi tempat wisata serta edukasi bagi pelajar atau mahasiswa untuk mengetahui sejarah,” ujar Ketua Komisi B DPRD Jateng, Hamim Irfani didampingi 14 anggota DPRD lainnya ketika ditemui wartawan di sela-sela sidak kemarin.

Menurut dia, sejarah yang bisa digali dari eks PG yang dibangun 1861 ini antara lain eks PG ini menjadi salah satu efek revolusi industri pertama ditemukannya mesin uap. Kemudian pabrik ini menjadi tempat industri gula yang menggunakan mesin uap dan pernah berjaya pada masanya.

Hamim menjelaskan saat ini aset BUMN berupa pabrik gula lainnya banyak yang merugi. Sebenarnya, kata dia, negara sudah banyak membantu anggaran tapi tetap belum bisa berjalan seperti yang diharapkan.

Namun eks PG Colomadu yang telah direvitalisasi ini menjadi salah satu tempat yang menarik untuk dilihat. Dengan demikian aset-aset BUMN yang mangkrak lainnya bisa disulap seperti eks PG Colomadu. Artinya anggaran dari pusat bisa digunakan untuk destinasi wisata.

Sedangkan untuk industri gula, dia berharap sejumlah PG yang masih beroperasi sebaiknya dipelihara dengan baik. Dengan demikian akan terbentuk industri gula yang baik dan tidak merugi.

“Sebaiknya ada yang dimenej fokus dan ada pula yang dijadikan destinasi wisata. Ini kan domein BUMN, bukan semua pabrik gula berproduksi tapi merugi. Saat ini PG Colomadu yang telah direvitalisasi eks PG Colomadu ini menjadi suatu yang menarik,” kata dia.

Sedangkan bagi PG yang masih eksis dan bisa menghasilkan laba, papar dia, dipersilakan dilanjutkan tapi sambil dibenahi agar efisien. PG yang memakai mesin-mesin tua seperti di Colomadu dibanding dengan teknologi sekarang dinilai tak efisien dan rugi. Kondisi ini memicu pemerintah mengimpor gula lagi.

Ditanya tanggapan setelah dia dan rombongan keliling De Tjolomadoe dia berpesan agar pengelola memberi tanda bagian bangunan yang asli dengan memberi tanda khusus. Dengan demikian pengunjung bisa tahu bagian bangunan tersebut merupakan bangunan asli.

“Di gedung itu tadi kan ada lantai asli ukuran satu meter persegi yang masih dipertahankan. Mungkin bagian itu bisa dikasih tali atau tanda khusus agar jelas sehingga menjadi perhatian pengunjung bahwa di tempat itu ada lantai yang masih asli,” kata dia.

Menyinggung status De Tjoloemado yang beberapa waktu lalu sempat dipermasalahkan Mangkunegaran, dia menyarankan agar persoalan ini dikomunikasikan secara intensif. Dia optimistis jika kedua belah pihak melakukan komunikasi intensif akan menyelesaikan persoalan, Sebab Solo dinilai telah berhasil memindahkan PKL dari Banjarsari ke Pasar Klithikan Notoharjo tanpa gejolak berarti.