Gempolan Karanganyar Siaga Desa Rawan Bencana

Anggota BPBD Karanganyar beserta sukarelawan se-Kabupaten Karanganyar dan warga mengikuti simulasi penanggulangan bencana alam tanah longsor di Desa Gempolan, Kerjo pada Kamis (26/4 - 2018). (Solopos/Sri Sumi Handayani)
01 Mei 2018 05:00 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR--Warga Dusun Kesongo, RT 002/RW 004, Desa Gempolan, Kerjo, Karanganyar, Suparni, 26, terbaring di teras samping rumah warga. Matanya terpejam. Kedua tangan terkulai di samping tubuh. Tubuhnya kaku. Bagian dadanya tidak naik turun. Tidak ada nafas. Dia dibaringkan di antara lima orang lain dalam kondisi serupa. Tidak ada nafas.

Kerudung warna cokelat tua itu basah di bagian kepala hingga leher. Baunya anyir. Kedua tangannya memerah darah. Dia meninggal karena tertimpa tanah longsor dan pohon. Bencana alam tanah longsor melanda salah satu desa di ujung timur Kabupaten Karanganyar pada Kamis (26/4/2018) pukul 09.30 WIB.

Tanah longsor susulan membawa material tanah, batu, dan pepohonan lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Tanah longsor intensitas kecil sudah terjadi sejak Selasa (24/4/2018) pukul 14.00 WIB. Saat itu hujan deras terjadi di Dusun Kesongo, Desa Gempolan, Kerjo. Hujan berjam-jam membuat tanah di bukit dekat permukiman warga retak selebar 1-5 sentimeter.

Hujan masih mengguyur Dusun Kesongo pada Rabu (25/4/2018). Anggota BPBD Karanganyar mengecek retakan pada tanah bertambah menjadi 10-50 cm. Retakan merembet ke dinding rumah dan muncul mata air bayangan di lereng bukit. BPBD meminta masyarakat waspada. Keesokan hari, retakan bertambah menjadi satu meter.

Tanah longsor terjadi di beberapa lokasi dan menyebabkan kerusakan jalan desa. Sejumlah warga bekerja bakti membersihkan bekas tanah longsor. Nahas, bukit setinggi 30 meter dan lebar 50 meter longsor dan menimpa warga yang bekerja bakti dan rumah warga di sekitar bukit.

"Korban meninggal delapan orang, luka berat sembilan orang, luka ringan 11 orang, mengungsi 21 orang," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Bambang Djatmiko, saat berbincang dengan wartawan di lokasi kejadian.

Pantauan Solopos.com, suasana di lokasi kejadian karut-marut. Ibu-ibu berteriak mencari anaknya, suami, dan kerabat. Ada juga yang merintih dan berteriak kesakitan. Ibu hamil dikumpulkan menjadi satu di salah satu rumah warga yang menjadi titik kumpul atau pengungsian sementara. Halaman rumah warga yang lain diubah menjadi dapur umum. Ibu-ibu dan perempuan lanjut usia membungkus nasi, sayur, dan lauk pauk. Ribuan bungkus.Suara handytalkie berseliweran dan berbaur dengan teriakan warga korban bencana alam.

Itu sekelumit gambaran simulasi penanggulangan bencana alam tanah longsor pada peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional pada Kamis. Suparni, perempuan yang meninggal karena tertimpa tanah dan pohon itu sesungguhnya bernama Sumini, 50. Dia istri Ketua RT 002, Tumin. Dia mengaku kali pertama bermain peran. Tetapi sepertinya Sumini menghayati perannya.

"Disuruh acting. Saya nurut saja. Disuruh geletak, diangkat orang, dibawa ke jalan besar lali dinaikkan sepeda. Terharu, meski cuma acting. Kadang ya enggak bisa nahan ketawa. Padahal saya disuruh diam dan tahan nafas," tutur Sumini di sela-sela istirahat.

Dia mengaku senang berkesempatan mengikuti simulasi penanganan bencana alam tanah longsor karena mendapatkan pengalaman berharga. "Kalau ada tanah longsor saya mau melarikan diri. Menyelamatkan nyawa. Apapun yang penting lari sama keluarga," tutur dia.

Kesibukan terlihat di dapur umum yang dibuat di salah satu rumah warga. Sejumlah perempuan duduk bersila di hadapan ribuan bungkus nasi. Warga Dusun Kesongo RT 003, Pariyem, menuturkan berada di dapur umum sejak Rabu siang hingga malam hari. Merek memasak untuk persiapan simulasi. Datang lagi ke dapur umum pada Kamis subuh. Mereka memasak empat kardus mie instan dan 15 kilogram telur.

"Kamis subuh sudah di sini memasak. Pekerjaan rumah ditinggal. Demi simulasi ini. Kami malu kalau sampai melewatkan gotong royong warga kampung. Ya capek tapi ya biarin. Lebih penting gotong royong," ungkap dia sembari terkekeh.

Kepala Desa Gempolan, Sukiman, mengapresiasi antusiasme warga desa mengikuti simulasi penanggulangan bencana alam tanah longsor hari itu. Dia takjub dengan usaha warga mengikuti simulasi sesuai instruksi. Dia berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Bambang Djatmiko, menyampaikan alasan simulasi dilaksanakan di Desa Gempolan. Salah satu pertimbangan adalah lokasi itu rawan bencana alam tanah longsor. Pada 2014, pemerintah merelokasi 14 keluarga karena tanah di sekitar permukiman warga retak. Hal itu kembali terjadi tahun lalu. Sebanyak tiga keluarga terdampak retakan tanah. Tetapi pemerintah tidak merelokasi.

"Di Gempolan sini pernah tanah ambles. Kami gandeng sukarelawan dan lembaga di desa. Mudah-mudahan bisa memberikan manfaat secara individu dan kelompok. Pembelajaran kepada masyarakat dan lembaga di Gempolan agar lebih sadar dan tangguh terhadap bencana. Saya sampaikan terima kasih kepada masyarakat, pihak desa, dan lembaga di Gempolan. Partisipasi masyarakat luar biasa. Bencana bukan hanya tanggungjawab pemerintah tapi juga warga masyarakat."

Tokopedia