Kisah Tragis: Nenek Sutinem Karanganyar Ingin Tinggal di Rumah Layak

Warga Wates, RT 001/RW 008, Desa Sedayu, Jumantono, Sutinem, 78, beraktivitas di rumahnya, Rabu (2/5 - 2018). (Solopos/Sri Sumi Handayani)
04 Mei 2018 11:15 WIB Sri Sumi Handayani Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Warga Wates, RT 001/RW 008, Desa Sedayu, Kecamatan Jumantono, Karanganyar, Sutinem, 78, berjalan perlahan dari barat. Tubuhnya setengah membungkuk.

Mungkin karena usia yang tidak lagi muda. Dia menatap sejumlah orang yang berdiri di tepi jalan di depan rumahnya. Sesekali mata kanannya mengatup rapat dan berkedut.

Tokopedia

Dia mengenakan blus warna dasar merah dengan motif bunga-bunga warna putih. Blus itu dikombinasikan jarit warna biru muda. Dia menutup kepalanya menggunakan kerudung warna abu-abu. Sandal warna merah usang dan tipis dijepit antara jempol kaki dan jari kedua.

Dia mengulurkan dan menjabat tangan Solopos.com dan rombongan satu demi satu. "Sugeng, Mas," tutur perempuan berkulit keriput itu.

"Saking masjid mriku [Lewat masjid itu]. Mangga," kata Sutinem mempersilakan rombongan mampir ke rumahnya, Rabu (2/5/2018).

Masjid yang dia maksud hanya terpisah satu rumah dari rumah Sutinem. Rumah itu sebenarnya milik kerabatnya. Saban hari, Sutinem membantu takmir masjid merawat dan membersihkan masjid.

Tetapi, perempuan sebatang kara itu enggan menerima upah. Dia masih rajin menunaikan salah satu Rukun Islam, yakni salat. "Ngibadah. Membersihkan masjid yang dipakai saban hari. Dikasih uang, tapi saya enggak mau," tutur dia sembari tersenyum.

Gigi seri dan taring bagian bawah masih tersusun rapi dan putih. Rumah Sutinem diapit dua rumah milik tetangga dan kerabatnya. Rumahnya terlihat kontras apabila dibandingkan dengan rumah tetangga. Rumah itu berukuran 4 meter x 6 meter dan terlihat rapuh.

Dindingnya dari anyaman bambu yang ditambal sana sini. Atap dari genting setengah melorot. Bambu pada atap dan kayu pada dinding keropos dimangsa rayap. Salah satu daun pintu tidak bisa dibuka karena engsel bagian bawahnya lepas. Cat pintu warna merah dan biru pudar dimakan usia.

Begitu pintu dibuka, bagian dalam rumah tampak seluruhnya, tanpa sekat. Tempat tidur di sisi barat, meja dan kursi di depan pintu, dan dapur di sisi timur. Lantainya dari tanah.

"Saya bingung mau menyilakan duduk di mana. Sak wontene nggih, ngapunten [seadanya ya, maaf]," tutur dia sembari mengusap mulut menggunakan ujung kerudung yang menjuntai ke dada.

Sutinem hidup sebatang kara. Tanpa suami dan anak. Menurut tetangga dekat rumahnya, Sutinem tidak menikah. Dia ditemani cucu keponakannya, Slamet Riyanto, 34. Slamet itulah yang merawat dan memberikan uang kepada Sutinem.

"Kalih putu, Slamet niku. Tapi tilem nggene sederek mriku. Pulang malam. Hla kerja ngewangi teng warung [Tinggal dengan cucu, ya Slamet itu. Tapi dia tidur di rumah saudara. Pulangnya malam. Kerja membantu di warung]," ujar dia.

Pendengaran Sutinem masih bagus. Penglihatannya pun demikian. Tetapi, tubuh renta membuatnya tidak bisa banyak beraktivitas.

"Mboten kerja. Mpun mboten kuat yen mlaku tebih. Pados kayu turut kebon. Olah-olah, tenguk-tenguk ngoten [Saya sudah tidak bekerja. Sudah tidak kuat jalan jauh. Kegiatannya cari kayu dari kebun ke kebun, memasak, dan melamun]," cerita dia saat ditanya apa yang dilakukan saban hari.

Sutinem hanya mengandalkan cucu keponakan dan uluran tangan dari tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Terkadang mereka memberinya sembako, bumbu dapur, dan lauk pauk. Di usia senja, kehidupan Sutinem jauh dari kata layak dan nyaman. Suara Sutinem bergetar saat ditanya tentang rumahnya.

Dia terpaksa tidur di emper rumah kerabatnya saat hujan. Dia takut rumahnya roboh tertiup angin  saat hujan.

"Trocoh yen jawah. Udan niku kula tilem wonten emper mriku. Ajrih mengke ndak ambruk. Kula niku namung pingin gadhah omah sik saged dipanggeni. Mboten sah sing sae, sing penting aman [Bocor kalau hujan. Biasanya kalau hujan saya tidur di emperan situ. Takut rumah ambruk. Saya itu cuma pengin punya rumah yang bisa ditempati. Tidak perlu yang bagus, yang penting aman]," tutur dia.

Kerabat Sutinem, Suti, menuturkan Sutinem menerima bantuan dari pemerintah  saat menjelang Idul Fitri. Bantuan untuk perempuan lansia itu hanya diberikan setahun sekali. Dia membenarkan kerabatnya itu tidak berpenghasilan dan sebatang kara. Tanah di mana rumah Sutinem berdiri itu miliknya.

"[Kerjaan Sutinem] Cuma cari kayu dan membersihkan masjid. Kondisi rumahnya bahaya karena hampir ambruk. Dulu pernah diperbaiki warga satu RT. Ini belum diperbaiki lagi. Kalau sakit, saya yang merawat. Dia tinggal sendiri. Ada kakaknya di Bekonang, Sukoharjo, tapis udah tua," cerita Suti.