Rumah Atsiri Indonesia Wisata Baru di Karanganyar

Rumah Atsiri Indonesia di Tawangmangu, Karanganyar (Solopos/Bayu Jatmiko Adi)
05 Mei 2018 19:30 WIB Bayu Jatmiko Adi Nasional Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Bukan hanya destinasi wisata yang sudah umum dikenal masyarakat yang menjadi tujuan familiarization trip (fam trip) Solo Raya Consortium (SRC) 17 di tahun ini. Ada destinasi-destinasi baru yang  dijelajahi. Termasuk Dalem Joyokusuman di Solo dan Rumah Atsiri Indonesia di Karanganyar yang belum dibuka untuk umum.

Kamis (26/4/2018) merupakan hari ketiga pelaksanaan fam trip SRC17. Kegiatan yang digelar salah satunya table top yang dilaksanakan di Dalem Joyokusuman, Gajahan, Solo. Acara tersebut mempertemukan para buyer yang merupakan para peserta fam trip dengan para seller yang rata-rata adalah dari hotel dan restoran di Solo dan sekitarnya.

Menurut informasi yang Solopos.com dapatkan, Dalem Joyokusuman, dulunya merupakan rumah milik putra Paku Buwono X, Joyokusumo. Saat ini tempat tersebut masih dalam tahap penataan oleh pemerintah. Di dalam Dalem Joyokusuman terdapat bangunan utama dengan pendapa yang cukup luas.

Kemudian di sisi belakang terdapat bangunan-bangunan rumah dari bata maupun kayu.  Setelah dari Joyokusuman, rombongan peserta fam trip mengunjungi Rumah Atsiri Indonesia yang berda di wilayah Tawangmangu, Karanganyar.

Lokasi tersebut bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam menggunakan mobil dengan kecepatan sedang. Lokasi tersebut saat ini pun masih dalam tahap penataan. Di dalam Rumah Atsiri Indonesia, terdapat taman tanaman penghasil minyak atsiri, resto, dan direncanakan dilengkapi dengan museum atsiri, laboratorium rekreasi dan sebagainya.

Di Rumah Atsiri Indonesia, para peserta fam trip dikenalkan dengan berbagai jenis tanaman penghasil minyak astiri. Di antaranya ada tanaman bunga marigold yang banyak ditanam di taman dekat resto. Tanaman serupa bunga kenikir tersebut termasuk tanaman penghasil minyak atsiri yang mengandung senyawa aromatik pada bunganya. Ada juga tanaman pegagan yang bisa untuk bahan campuran pembuatan parfum.

Di beberapa lokasi juga terdapat banyak tanaman rosmary yang menghasilkan aroma khas. Aroma tersebut cukup kuat, bahkan hanya dengan menyentuhnya, aroma rosmary akan menempel di tangan. Serta masih ada banyak tanaman lainnya.

Pengelola Rumah Atsiri berencana untuk membuka lokasi rekreasi edukasi tersebut secara bertahap. Direncanakan ditempat tersebut juga akan disiapkan proses pembuatan produk minyak esensial. Namun dalam waktu dekat atau sekitar sebulan lagi, untuk rumah makan sudah bisa dibuka untuk umum. Namun untuk museum diperkirakan pada Agustus nanti.

Sebelumnya, pada Rabu (25/4/2018), peserta fam trip juga mengunjungi pasar jamu dan Kampung Geneng, Begajah, di Sukoharjo. Di kampung tersebut para peserta diajak untuk mengenal potensi desa setempat. Mulai dari pemandangan persawahan, ketrampilan memanah tradisional atau jemparingan dan sebagainya. Menurut informasi, kawasan tersebut baru disiapkan sebagai destinasi wisata yang mengangkat budaya lokal dalam sebulan terakhir.

Meski masih baru, namun destinasi-destinasi tersebut mendapatkan tanggapan yang baik dari para peserta fam trip. Chris Prasetyo, salah satu peserta fam trip dari London, mengaku banyak mendapatkan hal baru selama mengikuti fam trip. Salah satunya saat mengunjungi Kampung Geneng dan menyaksikan jemparingan. Baginya hal itu menjadi pemandangan berbeda, sebab pemanah mengenakan busana tradisional. Bukan hanya itu, jika biasanya pemanah membidik sasaran dengan berdiri namun pada jemparingan dilakukan dengan cara duduk bersila.

"Bagus ini, mereka sudah terlihat sangat terlatih. Kemudian saya juga heran dengan pakaian mereka," kata dia saat ditemui Solopos.com di Kampung Geneng, Rabu. Menurutnya budaya lokal akan selalu menjadi hal yang menarik dan harus dipertahankan. Sebab budaya lokal biasanya yang menjadi pembeda antara daerah yang satu dengan yang lain.

Peserta fam trip lainnya, Tisnawati, mengaku sangat terkesan dengan destinasi-destinasi yang dikunjungi pada fam trip tersebut. "Saya pernah ke Solo beberapa kali. Tapi tidak tahu jika di Solo ada tempat-tempat itu. Ternyata ada, dan bagus," terang dia yang mewakili Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) tersebut.

Dia menuturkan dalam waktu dekat KCBI akan menggelar kegiatan. Setelah melihat potensi Solo, ingin acara KCBI digelar di Solo. "Saya sudah membayangkan jika pertemuannya digelar di Dalrm Joyokusuman, kemudian mengunjungi Desa Wisata Baki dan berkeliling dengan andong mendatangi industri batik dan sebagainya. Tidak lupa. Harus mencopa kereta api kuno [Sepur Klutuk Jaladara], itu sangat menarik," kata dia.