Hobi Merajut Antarkan Perempuan Wonogiri Ini Jadi Jutawan

Mamix Sunarmi menunjukkan tas rajut hasil kreasinya di rumahnya, Dusun Keblokan, RT 001 RW 008, Desa Sendang Ijo, Wonogiri, Minggu (6/5 - 2018). (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
06 Mei 2018 19:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Puluhan tas, dompet, dan sandal berjajar di rak besi. Tepat di bawah rak, puluhan benang rajut berdiri dengan rapi. Warna benang rajut ada yang merah, biru, dan kuning. Semua kerajinan tas, dompet, dan sandal itu dibuat dari benang rajut oleh Mamix Sunarmi.

Tangan Mamix bergerak perlahan merajut benang demi benang. Mata Mamix tidak melihat tangannya yang sedang merajut. Mata Mamix hanya memerhatikan sekeliling dan berbincang dengan suaminya, Edi Pratikno, sembari terus merajut benang.

Sudah tiga tahun Mamix menekuni usaha membuat tas rajut. Berawal dari hobi sejak SMP dahulu ia mulai menekuninya kembali. Secara iseng bersama suami ia menjual hasil karyanya  di Car Free Sunday Wonogiri setiap Minggu pagi.

“Awalnya dulu saya bersama suami menjual barang-barang rajutan di Car Free Sunday dengan memanfaatkan jemuran pakaian dan hanger-hanger barang bekas, terkadang laku terkadang tidak laku yang penting masyarakat tahu dulu karya kami,” ujar Mamix Sunarmi saat ditemui Solopos.com di kediamannya, Dusun Keblokan, RT 001 RW 008, Desa Sendang Ijo, Kecamatan Wonogiri, Minggu (6/5/2018).

Akhirnya, upaya Mamix membuahkan hasil. Pesanan tas, dompet dan sandal datang bertubi-tubi. Harga karya Mamix berkisar Rp30.000 hingga Rp650.000 tergantung jenis, ukuran, kualitas, motif, dan tingkat kesulitan dalam pembuatan.

Lama pengerjaannya pun berbeda-beda bisa satu hari hingga satu pekan tergantung ukuran dan tingkat kesulitan. Tas hasil karya Mamix berbeda-beda motif dan warnanya. Tiap daerah memiliki selera pasar yang berbeda-beda.

Kabupaten Wonogiri memiliki selera warna yang cenderung kalem sedangkan DKI Jakarta memiliki selera dengan warna yang mencolok. Mamix memasarkan hasil karyanya ke Solo, Semarang, Lombok, hingga Medan.

Ia tak melakukan pemasaran secara masif di media sosial dan melalui para pembeli yang menjual kembali (reseller). Mamix pun dapat memperoleh omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan lewat hasil rajutannya.

Suami Mamix, Edi Pratikno, berencana melakukan promosi di media sosial dan online secara masif namun terkendala kurangnya sumber daya manusia untuk fokus terhadap pemasaran maupun perajut. Ia di sela-sela tugasnya sebagai TNI juga menyempatkan mencari bahan baku sampai Kabupaten Klaten dan Provinsi DIY.

“Merajut memerlukan ketelitian, kesabaran, dan fokus yang tinggi. Hal ini yang membuat kami kesulitan menemukan perajut yang dapat berjalan bersama kami, sedangkan saya ingin membuat Desa Sendang Ijo menjadi sentra perajut,” ujar Edi yang bertugas di Depo Pendidikan Latihan Tempur (Dodiklatpur) Kodam IV Diponegoro Klaten.

Mamix dan Edi tidak menutup diri. Mereka sukarela  membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin belajar merajut.

Mamix mengaku berulang kali mendapat pesanan tas namun pesanan tidak diambil. Tapi Mamix menganggap hal ini sebagai hal biasa. Mamix tidak menerima uang muka karena dalam membuat tas bukan merupakan proses yang instan. Saat ini, Mamik dan Edi sedang mengembangkan produknya untuk ekspor.