Kirab Agung Solo Bukti Keraton Tak Mau Kalah dengan Kelurahan?

Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (S.I.S.K.S.) Paku Buwono XIII (tengah), berjalan menuju Kereta Garuda Kencana saat Kirab Agung di Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sabtu (5/5 - 2018). (solopos/M. Ferri Setiawan)
07 Mei 2018 07:00 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Sejarawan muda Solo, Heri Priyatmoko, menilai seiring kelurahan di Kota Solo yang gila-gilaan menggelar kirab, Keraton Solo sebagai bekas pusat kekuasaan Jawa dan kebudayaan di Solo tak mau kalah. Menurutnya, mereka berupaya menunjukkan bahwa kirab besar bersumber dari Keraton sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulunya ketika perpindahan Keraton.

“Tafsiran dari kirab agung ini bisa diartikan, pertama pihak Keraton ingin memamerkan keberadaan raja di muka publik. Selama ini karena raja jarang menampakkan batang hidungnya. Kedua, raja hendak mendekatkan diri dengan warga. Hubungan kawula-gusti coba diperkuat kembali demi meraih legimitasi kekuasaan,” papar akademisi Universitas Sanata Dharma ini.

Di samping itu, lewat kirab ini raja ingin menggalang kekuatan atau dukungan dari berbagai unsur seiring banyaknya terpaan masalah yang menerjang keraton. Selain itu, ini lantaran banyak kelompok bangsawan yang bersengketa. Di sisi lain, Keraton Solo sebagai lembaga budaya, hendak menegaskan kembali keberadaannya. Kirab ini memamerkan unsur tradisi istana, yakni membangun opini publik bahwa keraton masih hidup.

“Kirab sejatinya adalah strategi politik kebudayaan keluarga bangsawan untuk mereposisi keraton di zaman now. Saat ia menyebar uang, ini dia terang sekali meminjam model leluhurnya, PB X, ngasih udik-udik ke warga,” jelasnya.

Kirab Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat digelar Sabtu (5/5/2018) dalam rangka Tingalan Dalem Jumenengan ke-14 Sampeyandalem Ingkang Sunuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi, yakni peringatan ke-14 tahun naiknya Hangabehi ke takhta sebagai PB XIII.

PB XIII naik kereta Garuda Kencana bersama permaisuri untuk mengikuti kirab dari Sasana Sumewa. 

“Ada sekitar 14 kereta kencana yang dipakai kirab. Sinuhun menggunakan Garuda Kencana. Ada cerita di balik kereta ini. Semula kereta ini dipesan oleh PB VII, tapi belum selesai ia meninggal. Setelah itu PB VIII lah yang melunasi pembayarannya, tapi ia belum sempat menaikinya lantaran wafat lebih dulu. Maka, PB IX lah yang kali pertama menggunakan kereta ini,” tutur Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat K.G.P.H. Dipokusumo.

Pada kirab agung ini sejumlah senjata pun turut dibawa serta, yakni berupa ampil-ampilan dalem. Selain keluarga kerajaan dan kerabat, mereka yang ikut memeriahkan kirab ini antara lain, sentono dalem, abdi dalem, serta sejumlah kelompok masyarakat. Sementara rute kirab sama seperti saat Kirab Sura, yakni dari Keraton menuju Jalan Pakoe Buwono melewati gapura Gladag, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi, kemudian kembali ke Keraton. Total ada sekitar 4.000-an orang yang ikut serta.

Selama melewati jalan-jalan utama di Kota Solo ini, sang Raja menyebar koin-koin ke warga dari dalam kereta. Sebar koin atau udik-udik ini sebagai simbol kepedulian raja terhadap rakyatnya.