15 Tahun Jadi Markas Arseto, Ini yang Tersisa di Bekas RS Kadipolo Solo

Kondisi bekas RS Kadipolo yang pernah dipakai sebagai markas klub sepak bola Arseto di Laweyan, Solo, Minggu (6/5 - 2018). (Solopos/Nicolaus Irawan)
07 Mei 2018 10:15 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Rumah Sakit (RS) Kadipolo di Kelurahan Panularan, Laweyan, Solo, memang sudah tutup sejak puluhan tahun silam. Bahkan sebagian masyarakat mungkin sudah lupa dengan keberadaan rumah sakit tersebut.

Beberapa waktu lalu, nama rumah sakit ini kembali mencuat lewat sebuah gugatan  di Pengadilan Negeri (PN) Solo yang diajukan PT Sekar Wijaya, pemilik lahan bekas rumah sakit tersebut saat ini. PT Sekar Wijaya menggugat tiga anggota keluarga mantan Presiden Soeharto (keluarga Cendana) karena memperjualbelikan bangunan yang diketahui merupakan cagar budaya.

Solopos.com menelusuri keberadaan bekas rumah sakit tersebut atau apa yang tersisa darinya, Minggu (6/5/2018), ditemani Chaidir Ramli. Lelaki yang kini aktif di Asosiasi Kota (Askot) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Solo ini masih ingat betul sejarah tempat itu karena pernah dipakai sebagai markas tim sepak bola Arseta Solo selama 15 tahun mulai 1983 hingga 1998.

Chaidir yang juga pernah menjadi pengurus tim juara Piala Liga I 1985 dan juara Galatama 1992 ini memperlihatkan mulai dari letak kamar para pemain, dapur, kantor, hingga lapangan tepatnya di kompleks lapangan Kadipolo atau bekas RS Kadipolo. Sayang, riuhnya markas tim sepak bola milik putra Presiden kedua RI Soeharto, Sigid Harjoduyanto, ini harus berakhir berbarengan dengan kerusuhan Mei 1998.

“Di depan yang dekat jalan dan pintu  masuk itu dulu jadi kantor serta penyimpanan arsip. Sebelahnya ada kamar untuk asisten pelatih,” tutur Chaidir sembari menunjukkan dua bangunan yang dipenuhi tumbuhan rambat serta semak-semak di bagian paling depan atau utara bekas RS Kadipolo ini.

Di selatan dua bangunan ini ada beberapa ruang besar yang dahulu dipakai untuk kamar para pemain Arseto. Ruangan besar berjendela dan pintu berwarna cokelat tua itu kemudian disekat-sekat menjadi setidaknya 12 kamar dengan 1 kamar ditempati 2 orang pemain.

Sementara di sebelah timur kamar digunakan untuk dapur dan kamar untuk para staf. Terpisah dari bangunan utama, di sebelah selatan dan dekat lapangan bola difungsikan untuk ruang kesehatan serta dua kamar untuk pemain pula.

Sederet pemain Timnas Indonesia pernah membela tim Biru Langit ini antara lain Novrizal Chay, Ricky Yacob, Eddy Harto, Nasrul Koto, Eduard Tjong, Rochy Putiray, Miro Baldo Bento, I Komang Putra, Agung Setyabudi, Tonggo Tambunan, Edu Hombert, Yunus Mochtar, Benny Van Breukelen, dan Nova Arianto.

Setelah Arseto bubar, Chaidir dan sejumlah rekan mulai merajut asa menghidupkan lagi tim legendaris ini. Akan tetapi, ia memilih berkonsentrasi di sepak bola usia dini dengan membangun sekolah sepak bola (SSB) Arseto yang juga bermarkas di kompleks ini.

SSB Arseto kemudian berubah nama menjadi SSB Ksatria menyusul adanya larangan menggunakan nama Arseto pada 2005. Kali terakhir tim Arseto memang hidup, tapi nasibnya jauh berbeda dengan tim berjuluk Biru Langit saat ditukangi Dananjaya. Arseto kini menjadi bagian dari klub amatir internal Persis Solo yang berlaga di Divisi II.

“Kalau hal-hal di luar lapangan, saya enggak tahu. Saya sempat dengar kabar mau jadi perumahan di sini, tapi batal. SSB Ksatria tetap rutin latihan di sini. Pertandingan Askot PSSI Solo juga masih di sini. Paling setiap bulan kami bayar listrik Rp150.000 untuk penerangan di kantor,” ujarnya.

Urusan di luar lapangan dia memilih acuh tak acuh asal SSB jalan terus. Kini hanya satu ruangan yang masih difungsikan sebagai kantor SSB yang banyak digunakan untuk menyimpan sejumlah piala dan peralatan sepak bola.

Perumahan Elite

Salah satu mantan pemain Arseto, Sugiharto, mengaku pernah menempati bekas RS Kadipolo ini selepas Arseto bubar. Saat itu pemain asal Medan ini tak punya tempat tinggal di Solo. Ia pun memboyong keluarganya tinggal di bekas mes itu.

“Saya pindah ke sini saat sudah jadi asisten pelatih. Saya sempat tinggal dengan keluarga di sini. Baru pada 2011 saya pindah keluar ke Mangkubumen. Selama di sini karena sudah terbiasa jadi tidak masalah. Paling saat itu saya hanya bayar listrik. Kalau air sudah ada karena ada sumur,” paparnya.

Lurah Panularan, Triboto Waluyojati, bercerita sejak memimpin wilayah itu pada 2005 silam, bekas markas Arseto itu sudah dalam kondisi mangkrak. Pernah ada tiga keluarga yang tinggal di lahan itu, namun mereka pinda sekitar 2013.

“Kabarnya mereka dikasih pesangon lalu disuruh pindah. Setelah itu ke mana, kami tidak tahu karena pemerintah kelurahan tidak pernah diberi tahu apalagi diajak rembukan hal menyangkut bekas RS Kadipolo tersebut,” katanya saat ditemui Solopos.com, Jumat (4/5/2018).

Dia mengakui setahun terakhir santer beredar kabar bekas markas Arseto ini akan dibangun perumahan elite. Medio 2017 lalu ada rombongan dari Jakarta datang ke tempat itu untuk mengadakan selamatan ditandai dengan menanam kepala kerbau.

Ia diundang, namun mendadak. Bahkan, sejumlah warga RT 003 yang memiliki rumah menumpang di lahan bekas rumah sakit di sebelah selatan ini telah didatangi orang yang mengaku perwakilan pemilik tanah lalu diminta pindah. Warga ini pun dijanjikan bakal diberi santunan Rp5 juta/bangunan.

“Saat selamatan itu saya tanyakan untuk apa, katanya mau dibangun perumahan. Kabar terakhir cluster-nya mau dibangun Desember 2017, tapi sampai sekarang tidak ada beritanya lagi. Setelah itu saya baca di koran ada yang menggugat  tanah ini. Penggugat [PT Sekar Wijaya] saat mengurus izin mendirikan bangunan [IMB] ditolak karena lahan ini masuk benda cagar budaya. Saya heran, kapan mereka ngurus IMB, kelurahan kok enggak tahu, saya juga tak pernah didatangi, apalagi tanda tangan,” papar Triboto.

Merujuk surat dari Kemendikbud Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng Nomor 1999/E19/KB/2017, lokasi bekas RS Kadipolo itu merupakan cagar budaya. Surat ini juga dipertegas SK Wali Kota Solo Nomor 649/1-R/1/2013 Pengganti SK Wali Kota Surakarta Nomor 646/116/1/1997.

Pemerintah Kelurahan Panularan tak mempermasalahkan hendak diapakan lahan tersebut. Namun demikian, ia berharap siapa pun pemiliknya mempertimbangkan serta memikirkan masyarakat sekitar. Hal ini lantaran selama ini lapangan Kadipolo tersebut difungsikan warga untuk arena olahraga khususnya sepak bola.