Megahnya Stasiun Jebres Solo Jadi Buruan Pehobi Foto

Bangunan Stasiun Jebres Solo, Minggu (6/5 - 2017). (Solopos/Nicolaus Irawan)
07 Mei 2018 13:15 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Rehabilitasi Stasiun Jebres Solo bukan saja membuat para penumpang maupun calon penumpang kereta api yang naik atau turun di sana merasa lebih nyaman. Upaya memermak bangunan cagar budaya itu nyatanya membawa dampak lebih besar terhadap daya tarik wisata  kawasan tersebut.

Setelah dipugar, Stasiun Jebres yang didirikan perusahaan kereta api milik Pemerintahan Hindia Belanda Staats Spoorwegen (SS) pada 1884 tersebut semakin menarik perhatian khalayak. Tak jarang orang kedapatan datang ke Stasiun Jebres hanya untuk mengambil foto atau dokumentasi.

Tokopedia

Seorang penjual angkringan di depan Pasar Jebres, Budi, 48, menyaksikan hal tersebut. Dia kerap mendapati orang-orang datang ke sekitar stasiun sekadar untuk memotret bangunan stasiun yang terbilang megah dengan gaya arsitektur Indische Empire itu. Budi meyakini mereka adalah wisatawan  atau masyarakat dari luar daerah.

Orang-orang tersebut tak tampak masuk ke dalam Stasiun Jebres sesudah memotret bangunan dan kompleks stasiun. Beberapa di antara mereka mampir ke Pasar Jebres, termasuk ke angkringannya setelah mendapatkan foto yang diinginkan.

Namun, tidak jarang mereka langsung melanjutkan perjalanan meninggalkan stasiun. Dalam waktu dekat daya tarik Stasiun Jebres diyakini bakal semakin moncer mengingat Pasar Jebres akan dibangun ulang.

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo berencana menghubungkan pasar tradisional Jebres dengan Stasiun Jebres. Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengatakan untuk mengintegrasikan pasar dengan stasiun, Pemkot akan memindahkan area parkir pengunjung pasar. Dengan begitu, keunikan bangunan Stasiun Jebres yang termasuk juga sebagai bangunan cagar budaya (BCB) tersebut dapat dilihat lebih jelas dari luar.

Dia menyampaikan pasar di tanah PT KAI itu bakal direhab tahun ini. “Sesuai konsep yang sudah ada, pasar nanti dibuat terintegrasi dengan stasiun sana [Jebres],” kata Rudy saat diwawancarai Solopos.com di area CFD  Jl. Slamet Riyadi, Minggu (5/6/2018) pagi.

Selain untuk sarana transportasi penumpang dan mengangkut komoditas perkebunan, Stasiun Jebres tercatat pernah digunakan Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat hendak bertemu Paku Buwono (PB) X. Seiring berjalannya waktu, fungsi stasiun yang memiliki luas bangunan 1.631 meter persegi tersebut tak mengalami perubahan berarti.

Stasiun Jebres hingga kini masih difungsikan untuk menaikturunkan penumpang kereta api. Sebagai bangunan lawas, Stasiun Jebres telah ditetapkan menjadi cagar budaya melalui Keputusan Wali Kota Madya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta Nomor: 646/116/I/1997 dengan cagar budaya No. 13-25/C/Jb/2012.

Kekhasan bangunan Stasiun Jebres bisa dilihat dari keberadaan dua jendela melengkung di atas dua pintu utama menuju stasiun dengan fasad yang memiliki detail dan banyak dipengaruhi aliran Neo-Klasik. Interior bangunan Stasiun Jebres juga begitu indah dengan hadirnya pilar-pilar bergaya Corynthian Yunani maupun jeruji besi pada jendelanya yang bergaya Art Nouveau.