Peternak Lele Boyolali Ini Jadi Terkenal Gara-Gara Kotoran Gajah

Sugiyatno, 60, warga Tegalrejo, Sawit, Boyolali, menunjukkan kolam pembenihan lele di pekarangan rumahnya, Sabtu (5/5 - 2018). (Solopos/Akhmad Ludiyanto)
07 Mei 2018 12:15 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Sugiyatno merapikan tumpukan sejumlah jilid skripsi dan koran di dipan teras rumahnya. Di rumah tuanya itu, Sugiyatno menjelaskan skripsi-skripsi itu adalah pemberian mahasiswa yang sudah lulus kuliah.

Para mahasiswa itu sebelumnya melakukan penelitian di pembenihan lele yang dikembangkan Sugiyatno. Bapak empat anak ini juga memperlihatkan media massa yang sudah pernah meliputnya.

Tokopedia

Sugiyatno menunjukkan piagam dan sertifikat penghargaan yang ia peroleh saat menjadi pembicara di kampus-kampus. Sementara itu, sejumlah vandel juga terpajang di meja terasnya.

Pria berusia 60 tahun ini mulai dikenal di kalangan kampus karena temuannya dalam pembenihan lele  pada 2015 lalu. Warga Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Boyolali, ini dinilai berhasil dalam meningkatkan kekuatan atau kualitas benih lele.

Atas temuannya yang dimulai dari coba-coba ini, Sugiyatno sering diundang sebagai pembicara dalam berbagai acara. Sementara pembenihan lele yang berada di pekarangan rumahnya juga sering menjadi objek kunjungan mahasiswa dan kelompok peternak lele dari berbagai daerah.

Sugiyatno menceritakan rahasia temuannya ini ada pada media air yang digunakan sebagai media indukan lele yang akan bertelur. Menurutnya, air tersebut berasal dari rendaman kotoran gajah yang dia peroleh dari kebun binatang.

Dia menjelaskan kotoran gajah yang dia maksud adalah yang sudah terbiar sekitar dua tahun hingga sudah mengering seperti tanah. “Kotoran yang sudah menjadi seperti tanah itu direndam pada air biasa di dalam gentong tanah selama empat bulan. Jika air berkurang sebelum empat bulan, tambah lagi, aduk lagi dan biarkan,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Sabtu (5/5/2018).

Sugiyatno menambahkan dalam air rendaman ini amoniak sudah terurai 99%, PH 7, dan suhu netral 27 derajat dan bisa menjadi pendingin dan penghangat air serta timbul oksigen alami. Amoniak adalah sumber berbagai penyakit benih dan bibit lele.

“Rendaman kotoran gajah ini kemudian dicampur air jernih dan menjadi media yang menghasilkan benih-benih yang kuat dan tingkat kehidupan saat diternak menjadi sangat tinggi dibandingkan benih-benih yang dikembangkan dengan cara lain,” ujar Sugiyatno.

Bahkan benih-benih itu bisa bertahan pada kolam tanpa peneduh dan tanpa sirkulasi air. Sementara itu, meski penemuannya ini dia rasa berhasil, Sugiyatno belum mengembangkan bisnis pembenihannya menjadi lebih banyak.

Saat ini kapasitas produksi  benih dari peternakannya sekitar 100.000-140.000 benih per pekan. “Belum. Saya ada rencana mengembangkan pembenihan ini. Tapi modalnya cukup besar, sekitar Rp4 miliar untuk pengadaaan lahan, kolam, dan induk,” kata dia.

Pemilik usaha pembenihan lele Giat Maju Karep ini juga memilh mengembangkan usaha secara mandiri tanpa campur tangan pemerintah. Rencana pengembangan usaha ini didasarkan atas kebutuhan benih di kampungnya yang merupakan sentra ternak lele sebanyak 3 juta-5 juta benih per pekan.

Sugiyatno hanya menyuplai sedikit kebutuhan benih peternak lele di kampung lele itu dan sisanya dijual kepada peternak luar daerah yang sudah lebih dulu bekerja sama dengannya. Sedangkan pemenuhan kebutuhan benih kampung lele didatangkan dari Jawa Timur.