Pasutri Boyolali Tertabrak KA di Sragen Tinggalkan 2 Anak Kecil

Jenazah korban kecelakaan di perlintasan KA Gemolong, Sragen, tiba di rumah duka, Desa Trosobo, Sambi, Boyolali, sekitar pukul 17.00 WIB. (Solopos/Aries Susanto)
07 Mei 2018 19:15 WIB Aries Susanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Rumah bercat hijau tua itu dalam suasana berkabung. Kursi-kursi plastik warna merah muda berjajar di pelataran. Tikar digelar di lantai rumah. Orang-orang berdatangan sambil mengucap belasungkawa kepada pemilik rumah.

Rumah di RT 011/RW 002 Dukuh Grenjeng, Desa Trosobo, Sambi, Boyolali, itu milik pasangan suami istri (pasutri) korban kecelakaan  maut di perlintasan rel kereta api (KA) Ngembat Padas, Gemolong Sragen, Senin (7/5/2018).

"Kami dari keluarga meminta maaf jika selama hidupnya, adik saya banyak berbuat salah," ujar seorang pria paruh baya di hadapan warga yang terus berdatangan ke rumah hijau itu, Senin.

Kecelakaan maut itu mengejutkan banyak pihak. Siang menjelang waktu Duhur itu, bayan dukuh setempat, Suyanto, menerima kabar duka melalui media sosial (medos). Ia sempat tak percaya saat membaca informasi pasutri korban kecelakaan di perlintasan rel  KA di Gemolog, Sragen adalah warganya.

 

"Saya tahunya ya dari medsos. Ternyata benar warga kami yang kecelakaan di Gemolong," ujar Suyanto saat berbicang dengan Solopos.com di sela-sela menanti kedatangan jenazah di rumah duka.

Pasutri itu adalah Dhevin Kurnia, 31, dan Lina Indriani, 30. Mereka meninggal dunia setelah dihantam KA barang 2704 Nomor Lokomotif CC 2061317 sekitar pukul 11.00 WIB. Mobil pikap yang mereka tumpangi terseret KA sejauh 200 meter.

"Pasutri ini kan berprofesi sebagai sales peralatan pramuka dan alat-alat sekolah di luar kota. Setiap hari ya membawa mobil," jelas Suyanto.

Kepergian Dhevin dan Lina memukul keluarga korban, khususnya anak-anak mereka yang masih kecil-kecil. Dhevin dan Lina membangun rumah tangga sekitar satu dasawarsa lalu. Pernikahan mereka dikarunia dua anak perempuan.

Mereka adalah Bunga, 10, kelas V SD, dan Keyna, 4. "Setahu saya, sejak mereka menikah dan dikarunia anak sudah bekerja sebagai sales peralatan pramuka dan alat-alat sekolah," jelasnya.

Hari itu juga kedua jenazah dikebumikan. Jenazah pasutri itu tiba di rumah duka sekitar pukul 17.00 WIB. Kedatangan mereka disambut isak tangis keluarga korban. Kematian memang sebuah misteri. Bunga dan Keyna, anak-anak pasutri itu kini menjadi yatim piatu akibat musibah kecelakaan  itu.

Keluarga dan kerabat korban sudah bertekad membesarkan dan melanjutkan masa depan anak-anak itu. "Kami sekeluarga, sekali lagi meminta maaf jika selama hidupnya, adik-adik kami berbuat salah. Semoga amal kebaikannya diterima Allah SWT," ucap Joko Sumarno, salah satu kerabat korban.