Ini Keinginan Terakhir Keluarga Sukoharjo Korban Kecelakaan di Gunungkidul

Suasana rumah Agus Nugroho (kiri), 25, warga Dusun Jaban, Desa Krajan, Weru, Sukoharjo, Selasa (8/5 - 2018). (Solopos/Trianto Hery Suryono)
08 Mei 2018 17:15 WIB Trianto Heri Suryono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Jalan rabat atau cor beton di pintu masuk Dusun Jaban, Desa Krajan, Kecamatan Weru, Sukoharjo, itu menjadi saksi perjalanan terakhir Agus Nugroho, 25, menuju peristirahatan terakhir.

Kajang seng masih terpasang di halaman rumah. Famili dan tetangga masih berdatangan menyampaikan ucapan duka kepada Eko Wiyono, ayah Agus Nugroho, Selasa (8/5/2018). Mereka duduk lesehan di ruang tamu dan berbincang tentang kronologi peristiwa kecelakaan  yang dialami Agus, anak sulung Eko.

Agus meninggal dunia bersama istri Ayu Nurul Aisiyah, 21, dan anaknya, Shela, 3, setelah mengalami kecelakaan di Jl. Sendono, Pundungsari, Semin, Gunungkidul, DIY, Senin (7/5/2018). Sepeda motor yang mereka tumpangi masuk jurang  dan menghantam rumah warga. Muncul dugaan sepeda motor itu mengalami rem blong.

Jenazah Agus dikebumikan di permakaman umum Dusun Jagan berjarak 100 meter dari rumahnya, Senin sekitar pukul 16.00 WIB. Sedangkan Ayu Nurul Aisiyah dan Shela dimakamkan di permakaman umum Dusun Prigi, Desa Krajan, yang berjarak 500 meter dari permakaman Agus. Ayu dan Shela dimakamkan Senin pukul 22.00 WIB. Pemakaman jasad satu keluarga ini dipisahkan karena permintaan keluarga masing-masing.

“Ada teman menelepon ke saya dan mengabarkan kematian anak saya, Agus. Teleponnya Senin siang. Penelepon menanyakan apakah Agus pergi ke Eromoko, Wonogiri, dan saya jawab iya. Akhirnya teman di ujung telepon mengabarkan Agus mengalami kecelakaan dan meninggal,” ujar Eko.

Sesekali Eko mengusap matanya dengan kaus yang dia kenakan. Suaranya masih parau dan tersendat saat menceritakan kronologi kecelakaan  yang menimpa anak sulungnya tersebut.

“Tidak ada firasat atau tanda-tanda aneh dari si sulung. Kepergiannya ke Eromoko untuk menemui teman dan menawarkan dagangan traktor. Keluarganya [Agus] juga rukun-rukun. Lima hari sebelum peristiwa kecelakaan Agus menyampaikan keinginan mendirikan rumah sendiri.”

Mendengar keinginan Agus, Eko yang belum memiliki uang berjanji menjual tanah untuk biaya pembangunan rumah. “Rumah akan dibangun di sebelah rumah ini. Ada lahan seluas 100 meter persegi, cukup untuk rumah pribadi," kata dia.

Keinginan membangun rumah itu tinggal mimpi yang tak mungkin jadi nyata. Hal lain yang membuat Eko merasa sangat kehilangan adalah cucunya, Shela, yang ikut meninggal bersama kedua orangnya.

Hingga Selasa pagi, Eko mengaku masih terngiang kata-kata cucunya yang membangunkannya setiap pagi. "Shela selalu bangun pagi dan membangunkan saya walau perkataannya belum jelas tetapi lucu dan menghibur. Saya sedih tidak akan bisa mendengar suaranya lagi," kata dia sembari mengusap matanya yang memerah.

Lebih lanjut, Eko bercerita beberapa hari yang lalu ibunya atau neneknya Agus bermimpi rumahnya dipenuhi bunga. “Mimpi itu pernah diceritakan setahun lalu, kemudian keponakan saya meninggal akibat kecelakaan. Kami masih trauma sebenarnya mendengar cerita tentang kecelakaan.”

Salah satu pelayat, Wahyono, mengatakan Agus cukup aktif di masyarakat. “Pembinaan kerukunan di masyarakat, korban selalu ikut. Saat mendapat kabar kecelakaan Agus, kondisi dusun kosong karena semua warga sedang layat ke Boyolali sehingga tidak ada yang mengurus kedatangan jenazah Agus. Jika pertolongan datang lebih cepat bisa jadi nyawa Agus masih bisa diselamatkan. Jarak rumah sakit tidak terlalu jauh tetapi medannya sulit sehingga butuh waktu 30-an menit,” ceritanya.

Dia mengatakan rem sepeda motor Agus tidak blong. “Tetangga sudah mengecek pegas rem sepeda motor Agus ternyata masih berfungsi baik, jadi tidak blong. Kemungkinan kondisi rem saat kejadian panas sehingga tidak pakem saat direm,” ujar tetangga korban yang lain.

Keluarga Agus dan para tetangga masih kebingungan mengurus santunan jasa raharja.