Cindi Lestariningsih, Si Petarung Muda Sragen Pengin Jadi Guru

Cindi Lestariningsih (Instagram/cindi_cindutt)
08 Mei 2018 15:10 WIB Chelin Indra Sushmita Sragen Share :

Solopos.com, SOLO – Pengalaman adalah guru terbaik. Pepatah itu dipegang teguh oleh gadis asal Sragen, Jawa Tengah, Cindi Lestariningsih. Gadis berhijab ini mendapat banyak pengalaman setelah debut di kompetisi bela diri campuran One Pride Mixed Martial Arts (MMA) Indonesia, Sabtu (5/5/2018).

Pada laga pertamanya di One Pride MMA Indonesia, Cindi Lestariningsih, 19, dikalahkan oleh petarung asal Lion Fighting Camp, Balikpapan, Kalimantan Timur, Junisia Yuvita, yang lebih senior. Dia juga mengalami patah tulang lengan akibat terbentur ring. Kendati demikian, semangatnya untuk bertarung malah semakin membara.

"Lengan kanan atas patah sedikit terbentur ring. Ini masih di rumah sakit untuk pemulihan. Risiko seorang fighter, patah tulang hal yang biasa. Yang penting enggak patah semangat. Saya akan terus berusaha sampai jadi pemenang," ungkap Cindi saat dihubungi Solopos.com, Selasa (8/5/2018).

Nama Cindi Lestariningsih menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen berkat keiikutsertaannya di kompetisi bela diri itu. Namun, sejumlah netizen memberikan komentar negatif kepadanya. Mereka menilai seorang wanita tidak semestinya menjadi petarung.

Berbagai komentar negatif itu tidak terlalu dipedulikan oleh Cindi Letsriningsih. Gadis berhijab asal Dusun Nglaran, Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, Sragen, ini ingin segera pulih dan kembali menguji kemampuan dengan mengikuti kompetisi One Pride MMA Indonesia. Menurutnya, seorang wanita juga harus memiliki kemampuan bela diri sebagai pertahanan. Itulah sebabnya dia sangat mencintai dunia silat.

"Saya orangnya cuek sih sama komentar orang. Buat saya, silat itu budaya asli Indonesia yang harus dilestarikan. Bolehlah belajar bela diri dari negara lain, tapi jangan sampai lupa dengan budaya sendiri. Bukannya sok-sokan sih, tapi kita sebagai wanita harus tangguh. Bela diri untuk wanita itu sangat penting. Sekarang kan banyak kejahatan terhadap wanita," terang dia.

Diberitakan sebelumnya, Cindi Lestariningsih belajar silat sejak duduk di bangku kelas VII SMP. Dia telah menorehkan sejumlah prestasi gemilang di bidang seni bela diri. Dia sangat giat berlatih untuk mewujudkan cita-citanya sebagai petarung sejati. Selain itu, dia juga ingin berbagi ilmunya kepada orang lain dengan menjadi guru olahraga.

"Sebagai seorang petarung sejati, saya tentu ingin jadi juara. Tapi, saya juga ingin jadi guru karena sayang kan punya ilmu enggak dibagi. Fokusnya sih lebih ke guru olahraga, soalnya saya memang senang berolahraga," tutp dia.