Perdes Wanglu Klaten Dilantik Di Embung Desa

Perangkat desa hasil seleksi di Desa Wanglu, Kecamatan Trucuk dilantik di embung yang berada di Dukuh Karangjati, Sabtu (5/5 - 2018). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
08 Mei 2018 08:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com-KLATEN--Proses pelantikan perangkat desa hasil seleksi perangkat desa di Desa Wanglu, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten pada Sabtu (5/5/2018) berlangsung unik. Dua orang perangkat desa dilantik oleh kades di embung yang ada di desa tersebut.

Sorot mata ratusan orang tertuju pada embung di depan mereka. Sembari duduk di kursi plastik, mereka menyaksikan proses pelantikan dua perangkat desa hasil seleksi oleh Kepala Desa (Kades) Wanglu, Kecamatan Trucuk, Guwono.

Tokopedia

Perangkat desa yang dilantik pagi itu yakni Lina Kusumaningsih, 26, sebagai Kadus I dan Hanung Wahyu Ismunandar, 22, sebagai Kaur Keuangan. Prosesi pelantikan tak dilakukan di panggung melainkan dengan berendam di embung yang seluruh permukaan airnya dipenuhi kapu-kapu, sejenis tumbuhan air.

Kades serta dua perangkat desa berbaju surjan itu sempat kepayahan ketika memasuki embung. Dasar embung yang tak rata serta dipenuhi lumpur membuat mereka berjalan pelan agar tak terpeleset. Pelantikan akhirnya dimulai setelah posisi paha mereka sejajar permukaan air.

Ayo gek mentas selak kademen [ayo segera keluar dari embung keburu kedinginan],” sorak salah satu warga ketika proses pelantikan berakhir dengan penyerahan SK pengangkatan perangkat desa.

Pemilihan tempat pelantikan yang tak biasa itu untuk memberikan pengetahuan kepada warga terkait proses pelantikan perangkat desa. Selain itu, pelantikan dimaksudkan untuk memaparkan rencana pemerintah desa setempat membangun embung menjadi objek wisata. Embung yang berada di Dukuh Karangjati tersebut berukuran panjang 28 meter dan lebar 8 meter.

“Embung akan diangkat menjadi objek wisata desa yang disebut Taman Desa Wanglu Embung Kendil Emas,” kata Kades Wanglu, Guwono, saat ditemui Solopos.com seusai pelantikan.

Kaur Keuangan Desa Wanglu, Hanung Wahyu Ismunandar, bertekad akan memajukan desa yang menjadi tempat tinggalnya dengan memaksimalkan potensi yang ada. Terkait pilihannya menjadi perangkat desa di usia relatif muda, Hanung yang lahir pada 19 Juni 1996 itu mengatakan ingin mengabdikan diri di desanya.

“Batas minimal usia mengikuti seleksi ini kan 20 tahun. Karena ada kesempatan, saya ikut mendaftar,” kata mahasiswa semester akhir program studi Administrasi Bisnis STIA Madani, Klaten tersebut.

Pelantikan perangkat desa di Wanglu merupakan salah satu pelantikan di tempat tak biasa di wilayah Kecamatan Trucuk. Di desa lainnya, pelantikan dilakukan dengan penebaran ikan serta ada yang disertai dengan kegiatan membajak sawah.

“Agar mereka yang dilantik diingatkan bahwa tugas mereka sebagai pelayan masyarakat dan bersahabat dengan petani,” kata Camat Trucuk, Bambang Haryoko.

Di Desa Tegalrejo, Kecamatan Bayat, pelantikan enam perangkat desa hasil seleksi digelar di kawasan perbukitan yang merupakan kompleks makam Ki Ageng Wireng Kilat, Dukuh Gunung Lanang, Sabtu siang. Pelantikan dilakukan di bawah tenda yang berdiri di samping pendapa makam serta disaksikan ratusan warga. Perangkat desa yang dilantik kompak mengenakan seragam Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri).

Kepala Desa Tegalrejo, Tri Wiyono, mengatakan pelantikan di kompleks makam itu dimaksudkan untuk mengenalkan salah satu potensi wisata yang bakal dikembangkan di desa setempat. Kawasan perbukitan dan kompleks makam bakal dikembangkan menjadi wisata religi serta pemandangan alam.

“Ada program membuat jalan lingkar didanai dari APB desa senilai Rp15 juta. Kami juga berencana membuat master plan pengembangan potensi ini bekerja sama dengan Bappeda Klaten dengan anggaran Rp50 juta. Perbukitan akan dilengkapi dengan gazebo serta kolam renang,” kata dia.

Pelantikan perangkat Desa Tegalrejo tetap bergulir di saat banjir protes dari peserta seleksi lantaran menilai ada sejumlah kejanggalan dan meminta ujian ulang. Terkait protes tersebut, Tri Wiyono mengatakan proses pengisian sudah dilakukan sesuai perbup.

“Dengan kritisnya masyarakat saya justru senang supaya ada yang mengontrol. Yang jelas kami sudah sesuai perbup. Saya sebagai kades tidak ikut campur dalam pembentukan TP3D [tim pencalonan pengangkatan perangkat desa],” kata dia.