Sadranan Beri Berkah Sebagian Warga Sragen

Sariyem, 80, (kanan) nenek-nenek asal Sidomulyo RT 051, Sragen Wetan, Sragen, bersama rekannya membersihkan salah satu makam di kompleks Permakaman SI Sragen, Senin (7/5 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
09 Mei 2018 07:00 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN-Tradisi sadranan menjelang Bulan Ramadan dimaknai berbeda oleh sebagian warga Sragen. Mereka bisa mendapatkan rezeki dari momentum tahunan yang dilakukan masyarakat tersebut.

Dari kejauhan, sosok perempuan tua berjalan tertatih-tatih. Sesekali nenek-nenek itu berhenti, kemudian melanjutkan langkahnya. Tangan kanannya yang keriput memegang kuat sapu lidi. Semakin dekat semakin terlihat raut mukanya. Tak ada sehelai rambut hitam pun di kepalanya. Guratan seperti garis tak beraturan pada mukanya menunjukan usianya yang uzur.

“Saya tak ingat umur. Saya itu tidak sekolah. Orang bilang umurku sudah 100 tahun,” kata Sariyem, 80, warga Sidomulyo RT 051, Sragen Wetan, Sragen, saat ditanya Solopos.com di kompleks Permakaman Umum Sarikat Islam (SI) Sragen, Senin (7/5/2018).

Sariyem salah satu dari 20 warga sekitar Permakaman SI yang mencari berkah dengan bersih-bersih makam di Bulan Ruwah tahun ini. Selain Sariyem, ada sekelompok perempuan dari berbagai umur yang ramai-ramai membersihkan makam. Mereka tak melihat nama makamnya. Makam keluarga atau makam orang lain yang tak dikenal dibersihkan mereka.

Sariyem selalu mendekat kepada anggota keluarga yang ziarah atau nyadran di Permakaman SI. Dedaunan yang menutupi makam pun dibersihkan. Sariyem agak menjauh saat keluarga itu mendoakan penghuni kubur. Seusai ziarah, Sariyem biasanya mendapat rezeki berupa uang dari salah satu keluarga yang berziarah.

“Saya tidak pernah meminta. Kalau dikasih yang diterima dengan senang hati. Nilainya tidak mesti, kadang Rp10.000, Rp20.000 dan ada yang Rp2.000,” katanya.

Aktivitas Sariyem itu juga dilakukan oleh anggota kelompoknya yang lain. Dalam satu kelompok biasanya beranggotakan 10-15 orang. Hasil yang mereka peroleh kemudian dikumpulkan jadi satu lalu dibagi rata kepada semua anggota kelompok dengan bagian yang sama.

“Dalam sehari itu kadang hanya dapat Rp100.000. Ya baru pada Minggu (6/5/2018), kami dapat mengumpulkan Rp500.000 sehingga bagian kami dapat banyak, yakni Rp50.000 per orang karena anggota yang hadir hanya 10 orang,” ujar Paryanti, 42, anak Pariyem.

Paryanti sebenarnya mewanti-wanti Sariyem agar tinggal di rumah karena sudah tua. Paryanti hanya bisa pasrah karena Sariyem tak mau berpangku tangan mengingat kondisi keluarganya juga serba kekurangan. Sariyem tak mau menjadi beban keluarga anaknya. Ruwah sampai Lebaran menjadi bulan yang dinanti-nanti mereka karena bisa mendapat keberkahan rezeki. Rezeki itu bukan dari para peziarah tetapi juga dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen. Permakaman SI menjadi sasaran terakhir pada tradisi nyadran para pejabat Pemkab Sragen sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi ke-272 Sragen.

Paryanti menunjukkan satu makam tertua di kompleks itu. Makam itu dipercaya sebagai tokoh pendiri Makam SI.

“Namanya R. Mangunardjo. Saya pernah tiga kali tidur di samping makam itu pada malam hari. Saya hanya berdoa kepada Tuhan,” katanya.
R. Mangunardjo meninggal pada 1844. Angka tahun itu tertulis pada nisannya. Makam itu pernah dibangun pada 1990. Di Permakaman SI itu ada banyak tokoh dan mantan Bupati Sragen. Juru Kunci Makam SI, Suprapto, menyebut beberapa nama mantan Bupati Sragen yang dikubur di makam itu, yakni Mustajab dan M. Ng. Wirjosoeprapto. Sejumlah pegawai dari Kelurahan Sragen Wetan dan Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Sragen sudah menyiapkan acara nyadran para pejabat pemkab, Senin siang.