Girimarto Jadi Sentra Peternakan Kelinci Wonogiri

Tukiyar sedang memberi makan kelincinya dengan menggunakan pelet kelinci buatan Pakerto pada Senin (7/5 - 2018). (Solopos/Ichsan Kholif Rahman)
09 Mei 2018 00:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI--Sentra peternakan kelinci berkembang pesat di Kecamatan Girimarto, Wonogiri. Para peternak kelinci yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Kelinci Girimarto (Pakerto) bahkan sudah mampu memproduksi pelet (pakan olahan) kelinci yang dijual untuk umum.

Tukiyar atau akrab dipanggil Kombor berjalan perlahan sambil membawa sebuah keranjang dari anyaman bambu berisi pelet kelinci. Ia membuka perlahan kandang kelinci, kelinci yang hafal bahwa Kombor membawa pakan sontak bergerak kegirangan.

Tokopedia

Hidung kelinci mengendus semakin cepat tiap detiknya ketika Kombor memasukan tangan kanannya yang menggenggam pelet kelinci yang ia tuangkan dalam wadah bulat dari tanah liat. Tiga kali Kombor memasukan tangannya ke dalam kandang. Kelincipun memakan pelet dengan cepat, tak sampai satu menit makanan pada wadah dari tanah liat ludes dimakan kelinci.

Kelinci yang lain tampak tak sabar melihat Kombor mulai memberi pakan. Satu per satu Kombor menyelesaikan memberi pakan kelincinya yang mencapai 50 ekor dalam kandang bambu yang ia rangkap dengan kawat yang sedikit jebol pada tiap sudutnya itu.

“Saya memilih menggunakan pelet kelinci karena pertumbuhan kelincinya lebih cepat dan lebih terjaga kebersihannya sehingga jauh dari penyakit,” ujar Kombor saat ditemui Solopos.com di kediamannya Desa Tambak Wetan, Kecamatan Girimarto, Wonogiri, Selasa, (7/5/2018) sore.

Karung putih berisikan pelet kelinci menumpuk di sebelah kantor sekretariat Paguyuban Peternak Kelinci Girimarto (Pakerto). Ratusan kilogram pelet kelinci kering yang sudah siap dipasarkan tampak menunggu para peternak kelinci datang mengambil.

Kombor merupakan seorang pencukur rambut yang juga menjadi pengelola pakan kelinci milik Pakerto. Satu kuintal pelet kelinci mampu ia selesaikan dalam empat hari. Tak sempat membungkus pelet kelinci, Kombor sudah kepayahan menerima pembeli yang berasal dari Kabupaten Wonogiri hingga Kabupaten Karanganyar. Kombor menjual pelet kelinci dengan harga Rp6.000/kg.

Tiga tahun terakhir, Pakerto menekuni pembuatan pelet kelinci. Berawal dari iuran anggota Pakerto yang berjumlah 29 orang, sebuah alat pencetak pelet berhasil terbeli. Tak hanya pencetak pelet, mesin diesel dan alat pengaduk bahan pembuat pelet tersedia di sekretariat Pakerto dari hasil bantuan pemerintah desa. Kombor mengaku, hasil penjualan pelet kelinci terbuka untuk siapa saja. Omzet hingga Rp5juta per bulan dapat Pakerto dapatkan.

Ketua Pakerto, Winarno saat ditemui Solopos.com di kediamannya mengatakan bahwa pelet kelinci akan lebih aman untuk kelinci karena sudah diatur berbagai kandungannya. Protein yang terkandung dalam pelet sangat diutamakan karena sangat penting bagi kelinci. Terbuat dari berbagai macam bahan seperti jagung, tetes tebu, kulit kacang dan campuran lain diproduksi tiap harinya.

Winarno mengaku bahwa saat ini pihaknya kesulitan untuk memproduksi lebih banyak pelet. Sebenarnya, Pakerto ingin memproduksi hingga 2 ton tiap bulannya namun ketiadaan alat pengering pakan membuat Pakerto hanya mengandalkan sinar matahari sehingga memerlukan waktu cukup lama. Kekeringan pelet hasil penjemuran juga terkadang tidak merata.

Winarno menambahkan Pakerto tidak hanya menjual pelet atau kelinci hidup. Mereka sudah menjual berbagai olahan dari daging kelinci seperti satai instan. Tak ketinggalan, urine kelinci mereka olah menjadi pupuk organik. Kiprah mereka Kecamatan Girimarto menjadi sentra peternak kelinci.