Siswa SMK Negeri Sragen Gantung Diri Pakai Tali Pramuka

Tim identifikasi Polres Sragen, Polsek Karangmalang, dan Puskesmas Karangmalang memeriksa jenazah NAS yang diduga bunuh diri, Rabu (9/5 - 2018). (Istimewa/Subhumas Polres Sragen)
10 Mei 2018 17:25 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Seorang pelajar SMK negeri di Sragen asal Jurangjero, Karangmalang, NAS, 17, ditemukan tak bernyawa diduga akibat gantung diri dengan tali pramuka di kamar mandi rumah kakeknya, Rabu (9/5/2018) petang. Anak sulung empat bersaudara itu diduga bunuh diri lantaran depresi.

Polisi belum mengetahui penyebab bunuh diri remaja laki-laki tersebut. Kapolsek Karangmalang, Sragen, AKP Mujiyono, mendapatkan laporan dugaan bunuh diri itu pada pukul 18.00 WIB.

Tokopedia

Ia bersama tim identifikasi Polres Sragen dan petugas Puskesmas Karangmalang langsung mendatangi lokasi kejadian. Empat hari sebelumnya, Sabtu (5/5/2018), Mujiyono juga menangani kasus bunuh diri di desa tersebut, hanya berbeda dukuh.

NAS sebenarnya tinggal di rumah orang tuanya yang berada satu RW namun berbeda RT dengan rumah kakeknya. NAS datang ke rumah kakeknya pukul 17.00 WIB. Saat itu, Sh, 60, kakek NAS, sedang menonton televisi di ruang depan.

NAS langsung masuk rumah dan menuju kamar mandi. Karena NAS terlalu lama di kamar mandi, Sh mengetuk pintu kamar mandi kemudian mendobraknya. Sh kaget dan langsung berteriak saat mendapati cucunya tergantung di kamar mandi dengan tali pramuka.

Beberapa tetangga yang datang sempat berusaha mengevakuasi NAS ke ruang depan tetapi nyawa NAS tidak terselamatkan. “Kami belum tahu penyebab pelajar itu gantung diri. Informasi dari warga anak itu pintar tetapi pendiam dan agak tertutup. Tetapi menurut teman-teman di sekolah, anak itu ceria. Jenazah disemayamkan di rumah orang tuanya. Kami yang mengantar jenazah dengan mobil Ford Strada,” ujar Kapolsek AKP Mujiyono mewakili Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman saat dihubungi Solopos.com, Rabu malam.

Aktivis Perlindungan Anak Dinas Pengendailan Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Sragen, Dyah Nursari, menilai persoalan anak sampai bunuh diri disebabkan faktor keluarga yang paling utama. “Ketika anak mendapat masalah di luar maka si anak ini curhatnya ke siapa? Kalau keluarga bisa menerima curhatan si anak maka saya kira si anak tidak akan lari ke mana-mana,” ujarnya.

Dyah menekankan kadang-kadang orang tua lupa ketika anak bercerita tentang masalah mereka malah orang tua menasihati dan memarahinya, bukan menjadi pendengar yang baik. Akhirnya anak menjadi tidak nyaman di lingkungan keluarga.

“Jadi orang tua harus cerdas dan berwawasan, sabar dan menjadi pendengar serta teman bagi anak. Perkembangan anak sekarang berbeda dengan anak zaman dulu. Banyak pergeseran nilai di masyarakat, baik nilai fungsi keluarga atau nilai-nilai sosial. Kalau cara mendidiknya disamakan dengan yang dulu ya bubar,” tuturnya