Narkoba Sragen: 2 Pengedar Tertangkap Bawa 1.000 Butir Pil Koplo

Pil koplo dikemas dalam plastik klip transparan yang disita dari dua pengedar di Sragen, Selasa (8/5 - 2018). (Istimewa/Polres Sragen)
10 Mei 2018 18:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Tim Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Sragen membekuk dua pengedar pil koplo di depan SLB Gondang, Sragen, Selasa (8/5/2018) pukul 16.15 WIB. Polisi mengamankan barang bukti berupa pil berkode huruf Y sebanyak 1.000 butir dan uang tunai Rp200.000.

Kasatresnarkoba Polres Sragen AKP Joko Satriyo Utomo mewakili Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman mengungkapkan dua tersangka pengedar pil koplo yang dibekuk itu yakni Agap Priyanto, 22, dan Deny Tri Wibowo, 36. Keduanya warga Grasak Kulon, Gondang, Sragen.

Tokopedia

Awalnya Joko mendapat kabar dari masyarakat tentang orang dengan gerak gerik mencurigakan di wilayah Grasak. Joko memerintahkan anak buahnya menyelidiki. Joko dilapori ada indikasi pengedar pil koplo.

“Kami langsung menangkap mereka saat hendak mengedarkan pil koplo. Kami mendapati barang bukti berupa 1.000 butir pil koplo saat penggeledahan,” ujar Joko saat dihubungi Solopos.com, Rabu (9/5/2018) malam.

Joko memastikan mereka adalah kawanan pengedar obat-obatan terlarang. Dari hasil pemeriksaan, Joko menyampaikan barang bukti itu dijual dalam paketan. Satu paket berisi 100 butir pil dan dijual eceran sebanyak 10 butir per paket seharga Rp35.000-Rp50.000/paket kecil.

Artinya, satu paket besar itu dijual dengan harga Rp350.000-Rp500.000. Kalau 1.000 butir pil itu terjual semua, mereka bisa mendapatkan uang Rp3,5 juta-Rp5 juta.

“Sasaran penjualannya macam-macam. Rata-rata pelanggannya kalangan pelajar dan mahasiswa. Kasus yang diungkap ini terhitung kecil. Sebelumnya, kami sudah menangkap pengedar narkoba jenis sabu-sabu dengan barang bukti seberat 60 gram,” ujar Joko.

Joko enggan merilis pengungkapan kasus peredaran 60 gram sabu-sabu itu. Joko berencana merilis kasus itu ke publik saat ada pemusnahan miras di Mapolres Sragen dalam waktu dekat.

Beberapa waktu lalu, Joko sempat mengungkapkan adanya perkembangan karakteristik pemakai atau pecandu narkoba di Sragen. Joko mengatakan para pecandu narkoba cenderung beralih ke obat-obatan seperti psikotropika dan obat keras lainnya dengan efek samping yang hampir sama dengan sabu-sabu.

Dia menerangkan cara mendapatkan obat-obatan itu lebih mudah dan harganya terjangkau. Obat-obatan ini menjadi pilihan kelompok-kelompok pemakai itu. "Beberapa waktu lalu, kami mengungkap empat orang pemakai psikotropika dan dua orang di antaranya pelajar. Inilah kondisi Sragen, dengan kemiskinan yang masih tinggi sehingga pembelian sabu-sabu tidak terjangkau sehingga lari ke obat-obatan,” ujarnya.