Kisah Tragis: Kena Penyakit Aneh, Tubuh Pria Boyolali Ini Melintir

Suprihatin, 40, (di amben) dan kakeknya, Kisman, 85, di gubuk mereka di Wonosegoro, Boyolali, Rabu (9/5 - 2018). (Solopos/Aries Susanto)
11 Mei 2018 11:15 WIB Aries Susanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Nama lelaki ini Suprihatin. Dia tinggal jauh dari keramaian dan kemajuan kota, tepatnya di pelosok Boyolali utara, Kampung Kedungliwong RT 001/RW 003, Desa Gosono, Wonosegoro.

Seperti namanya, Suprihatin benar-benar hidup dalam keprihatinan. Tubuhnya melintir. Sepasang kakinya seakan terbalik. Persendiannya kaku dan sulit digerakkan. Mulutnya pun hanya mengeluarkan suara terbata-bata tanpa bisa didengar jelas kata-katanya.

Tokopedia

"Tubuhnya begini [melintir] sejak kecil. Kami tak tahu apa nama penyakitnya," jelas Wijaya Kusuma, salah satu sukarelawan yang menengok Suprihatin, Rabu (9/5/2018).

Sehari-hari, Suprihatin hidup dalam kesunyian. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana dari kayu. Di gubuk itulah, pria 40 tahun ini mengisi hari-harinya di amben ditemani seorang kakek. Kisman, namanya.

"Kakek Kisman inilah yang setiap hari dengan sabar dan sayang merawat Mas Suprihatin. Mulai kebutuhan makan, minum, hingga buang hajat," ujar Kusuma.

Tak ada yang tahu kenapa tubuh Suprihatin melintir seperti itu. Menurut penuturan warga sekitar, Suprihatin menderita penyakit aneh itu sejak lahir. Karena hidup berkawan kemiskinan, kondisi Suprihatin terus terbiarkan seperti itu tanpa penanganan medis memadai hingga usianya kini 40 tahun.

"Jadi, sejak lahir sampai saat ini, Suprihatin belum pernah diobati atau diperiksa. Saat ini, ia mendapatkan pendampingan tim TKSK [Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan]," kisah Wijaya.

Karena kondisi itulah, jelas Wijaya, Suprihatin menggantungkan hidupnya kepada kakeknya. Sementara ayah Suprihatin telah meninggal dunia. Ibunya pergi tak kunjung kembali setelah menikah lagi dan tinggal di Semarang bersama suaminya.

"Dulu pernah ibunya menjenguk Suprihatin ke rumah. Namun, kata warga dia sudah tak mengakui lagi [Suprihatin] sebagai anaknya. Hanya, setiap tiga bulan sekali mengirim uang sejutaan," jelas Wijaya.

Kondisi inilah yang mengetuk nurani para dermawan. Mereka lantas bahu membahu meringankan beban hidup  Suprihatin dan kakeknya. Meski kebutuhan dasar makan dan kesehatan kini telah ditanggung pemerintah, hal itu tak mampu mengembalikan kondisi tubuh Suprihatin.

"Harapan satu-satunya ya kakeknya ini. Karena saking sayangnya, Kakek Kisman ini sangat sabar merawat cucunya," jelasnya.

Di usianya yang kian senja, 85 tahun, Kisman tak banyak bercakap selain merapal doa dan harapan. Ketika ditanya harapan sang kakek atas kondisi cucunya itu, ia berharap semoga dianugerahi umur panjang dan sehat selalu.

"Saya ingin bisa merawat cucu saya ini sampai akhir hayatnya. Saya tak ingin mendahului mati. Kalau saya mati duluan, siapa nanti yang bakal merawat dia," demikian kata-kata Kakek Kisman dalam bahasa Jawa dengan terbata-bata.