804 Mesin Jahit Disita, PT Ladewindo Karanganyar Melawan

Petugas PN Karanganyar mengeksekusi mesin jahit milik PT Ladewindo Garment Manufacturer di Dagen, Jaten pada Rabu (9/5 - 2018). (Solopos/Sri Sumi Handayani)
11 Mei 2018 20:15 WIB Ponco Suseno Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pemilik PT Ladewindo Garment Manufacture, Roestina Cahyo Dewi, memberikan perlawanan terhadap eksekusi  Pengadilan Negeri (PN) Karanganyar atas 807 unit mesin jahit di perusahaan yang berlokasi di Songgorunggi, Dagen, Jaten, Rabu (9/5/2018).

Roestina Cahyo Dewi mengajukan gugatan perlawanan ke PN Karanganyar, Jumat (11/5/2018). Berdasarkan data yang dihimpun Solopos.com, PN Karanganyar telah mengeksekusi paksa 807 unit mesin jahit merek Juki dari pabrik PT Ladewindo, Rabu.

Tokopedia

Saat mengeksekusi ratusan mesin jahit itu, PN Karanganyar berbekal surat penetapan No. 4/Pen.Pdt.Del/2018/PN.Krg.,jo.No.46/PEN.PDT/EKS/2017/PN.Skt. Isinya Ketua PN Karanganyar telah membaca surat permohonan bantuan pelaksanaan sita eksekusi ketua PN Solo  tertanggal 10 April 2018 No. W.12-U2/177/Pdt.04.01/4/2018.

PN Solo meminta bantuan ke PN Karanganyar untuk menyita eksekusi di PT Ladewindo, Jl. Mojo Km. 1,5 Nomor 818 Dusun Songgorunggi, Desa Dagen, Jaten. Barang yang disita mesin jahit Juki step 1 sebanyak 171 unit, mesin jahit Juki step 2 sebanyak 155 unit, mesin jahit Juki step 3 sebanyak 326 unit, dan mesin jahit Juki step 4 sebanyak 155 unit.

Total 807 unit mesin jahit. Acuannya sertifikat jaminan fidusia Nomor W9.01707.HT.04.06.TH.2007 tanggal 1 Maret 2007 yang dikeluarkan Departemen Hukum dan HAM RI Kantor Wilayah Jawa Tengah. “Saat eksekusi itu, saya tidak berada di pabrik. Hari ini [kemarin], saya mengajukan gugatan perlawanan ke PN Karanganyar [surat gugatan perlawanan No: 40/PDT.6/2018/PN.Krg tanggal 11 Mei 2018 yang diterima petugas panitera PN Karanganyar, Ratih Dewanti],” kata Roestina Cahyo Dewi, Jumat.

Roestina Cahyo Dewi mengaku tak pernah berutang uang hingga miliaran rupiah ke Koperasi Cakrawartya Artha dan Ekawatya Basta Artha. Roestina Cahyo Dewi juga mempertanyakan legalitas Dwi Esti Nastiti selaku ketua Koperasi Cakrawartya Artha dan Anastasia Sri Wijayanti selaku ketua koperasi Ekawatya Basta Artha.

“Perjanjian kredit itu tidak ada sama sekali [penerima jaminan fidusia tak melampirkan perjanjian kredit]. Melalui gugatan perlawanan ini, saya berharap PN Karanganyar menyatakan sita eksekusi atas sertifikat jaminan fidusia nomor W9.01707.HT.04.06.TH 2007 tanggal 1 Maret 2007 tak dapat dilaksanakan. Di samping itu memerintahkan mengembalikan seluruh barang yang telah disita ke tempat asal [PT Ladewindo di Songgorunggi, Dagen, Jaten]. Meski ada eksekusi itu, pabrik masih beroperasi. Selama ini, kami juga tak memiliki tunggakan lembur ke karyawan,” katanya.

Sebelumnya, Panitera Pengganti PN Karanganyar, Agus Muladi, mengatakan eksekusi mesin jahit di PT Ladewindo melibatkan enam orang dari PN setempat. “Kami melaksanakan atas delegasi PN Solo,” katanya.

Ketua Koperasi Cakrawartya Artha, Dwi Esti Nastiti, mengatakan eksekusi ratusan mesin jahit itu bermula saat Roestina Cahyo Dewi tak mengembalikan utang koperasi senilai Rp3 miliar. “Utang ke koperasi pada 2007. Ini sudah 10 tahun enggak ada iktikad baik,” katanya.