Cerita Warga Klaten Sempat Mengira Erupsi Merapi Sebagai Suara Pesawat

Warga berkumpul di aula kantor Kecamatan Kemalang, Klaten, saat erupsi Merapi, Jumat (11/5 - 2018) pagi. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
12 Mei 2018 09:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Erupsi freatik di puncak Gunung Merapi  yang menimbulkan kepulan asap membubung tinggi disertai gemuruh, Jumat (11/5/2018) pagi, juga dirasakan oleh warga Dukuh Karang, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, yang berada di lereng gunung tersebut.

Salah satu warga setempat, Yatmi, 36, tiba-tiba mendengar suara gemuruh saat menyiram tanaman cabai di kebun sekitar 500 meter dari rumahnya sekitar pukul 07.30 WIB. Dia mengira suara gemuruh itu karena ada pesawat yang terbang rendah.

Yatmi mulai curiga ketika pesawat terbang yang dinantikan tak kunjung melintas sementara suara gemuruh masih terdengar. Ia lantas menghentikan aktivitas menyiram tanaman untuk melihat ke atas.

Saat itulah ia melihat asap tebal berwarna putih sangat jelas membubung tinggi membentuk cendawan raksasa di puncak Merapi. Kondisi tak biasa di puncak gunung itu membuat Yatmi panik dan berlari ke rumahnya menemui saudaranya bernama Suyati, 29.

Suyati tengah memandikan anaknya bernama Mila berusia enam bulan. Di rumah itu, juga terdapat dua bocah, Gilang dan Wahyu, masing-masing berusia tiga tahun dan enam tahun yang merupakan anak Yatmi serta Suyati.

Kedua ibu yang panik itu bergegas meninggalkan rumah, Yatmi menggendong Mila. Sementara Suyati berada dibalik kemudi sepeda motor. Dua anak mereka diajak membonceng sepeda motor. Satu sepeda motor matik ditumpangi lima orang.

Sepeda motor mereka melaju melintasi jalan perkampungan beradu kecepatan dengan sepeda motor warga lainnya yang panik. Di sepanjang perjalanan, mereka melihat warga berkerumun di persimpangan jalan menatap puncak Merapi.

Laju kendaraan mereka terhenti di Kantor Kecamatan Kemalang. Dalam pikiran Yatmi dan Suyati, keselamatan bayi serta dua anak itu menjadi prioritas utama jika Merapi benar-benar meletus.

“Pikirannya itu biar bayi aman. Apalagi kondisinya sedang demam. Takutnya itu ada hujan abu mengganggu pernapasan anak-anak. Sudah tidak memikirkan apa-apa lagi selain anak. Saya juga tidak tahu kondisi kerabat lainnya,” kata Yatmi saat berbincang dengan Solopos.com di aula kecamatan tersebut.

Kepanikan juga dirasakan Dika Nugraha Putra, pelajar kelas VI SDN 2 Sidorejo. Pagi itu, ia bersama teman-temannya bersiap mengikuti ujian sekolah  mata pelajaran Agama dan Bahasa Inggris. Melihat kondisi puncak Merapi, siswa dan guru di sekolahnya berhamburan keluar.

“Saya dijemput di sekolah sama kakek. Terus diajak ke sini [kantor kecamatan]. Teman-teman lainnya juga berlari,” kata Dika.

Kepala Desa Sidorejo, Jemakir, mengatakan warga di desanya berduyun-duyun menjauhi kampung saat asap tebal membubung tinggi di puncak Merapi. Hal itu membuat arus lalu lintas di Jl. Deles Indah yang menjadi jalur utama padat.

“Sebelumnya warga sudah diimbau untuk pergi di titik kumpul dan tetap tenang. Ada juga yang mulai turun. Namun, saking banyaknya kendaraan, lalu lintas menjadi padat termasuk truk. Akhirnya saya imbau warga mengambil lajur di sisi kiri,” kata Jemakir.

Jemakir mengakui ada warga yang menyelamatkan diri hingga ke wilayah Desa Menden, Kecamatan Kebonarum. Mereka terdiri dari dua keluarga dengan tujuh orang.

“Mereka itu mengevakuasi diri secara mandiri. Kebetulan kami punya desa paseduluran. Ketika ada warga yang berusaha menyelamatkan diri kami konfirmasi ke kepala desa di desa tersebut,” kata Jemakir.

Kaur Perencanaan Desa Balerante, Jainu, mengatakan saat erupsi freatik  terjadi ada gempa dengan durasi cukup lama sekitar lima menit. Guncangan gempa terasa kencang terlebih rumahnya di Dukuh Gondang berjarak sekitar 5 km dari puncak Merapi.

“Ternyata warga sudah turun meninggalkan kampung dan berkumpul di balai desa serta halaman rumah yang luas. Hingga pukul 09.00 WIB, kami mendapat kabar dari BPPTK [Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi] kalau terjadi erupsi freatik dan dinyatakan sudah berakhir. Sementara status Merapi tetap normal. Akhirnya warga kembali ke rumah masing-masing,” ungkapnya.

Jainu berharap peristiwa itu setidaknya menggugah kepekaan warga untuk menyelamatkan diri secara mandiri. Apalagi, sudah tujuh tahun berlalu sejak terakhir Gunung Merapi meletus. “Ini menjadi penyadaran kembali tentang pentingnya mitigasi bencana. Bagaimana warga bisa menyelamatkan diri secara mandiri,” urai dia.

Kepala Pelaksana BPBD Klaten, Bambang Giyanto, mengatakan sudah ada evaluasi dari peristiwa erupsi freaktif di Gunung Merapi. Tidak ada warga yang mengungsi akibat kejadian itu. aktivitas warga kembali normal.

“Alhamdulillah di tiga desa di wilayah KRB 3 terdiri dari Tegalmulyo, Balerante, dan Sidorejo, Kecamatan Kemalang, sudah paham betul apa yang harus dilakukan ketika Merapi bergejolak. Mereka tetapi tenang dan berkumpul di titik kumpul,” katanya.

Terkait dampak dari letusan itu berupa abu, Bambang menuturkan dari laporan yang diterima tak ada hujan abu di Klaten. Hanya abu tipis yang jatuh di wilayah Kecamatan Bayat. Terkait sejumlah sekolah yang siswanya berhamburan ketika ada ujian sekolah berstandar nasional (USBN), Bambang mengatakan BPBD melakukan pendataan dan menjadi laporan guna ditindaklanjuti instansi terkait.