240 Siswa 16 SD Klaten Harus Ujian Susulan Gara-Gara Merapi Batuk

Warga berkumpul di aula kantor Kecamatan Kemalang, Klaten, saat erupsi Merapi, Jumat (11/5 - 2018) pagi. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
12 Mei 2018 19:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Ratusan siswa di 16 sekolah dasar (SD) wilayah Kecamatan Kemalang, Klaten, harus mengikuti ujian sekolah susulan untuk dua mata pelajaran. Ujian tersebut tertunda karena erupsi freatik Gunung Merapi, Jumat (11/5/2018).

Koordinator Wilayah Kecamatan Kemalang Bidang Pendidikan, Wuri Handayani, mengatakan jumlah siswa kelas VI yang mengikuti ujian susulan mencapai 240-an orang. Mereka berasal dari berbagai sekolah di wilayah lereng Merapi.

Tokopedia

“Sekolah-sekolah itu seperti di wilayah Sidorejo, Tegalmulyo, Bumiharjo, dan Balerante. Sebanyak 16 SD itu seluruhnya di Kemalang,” kata Wuri saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (12/5/2018).

Sedianya, siswa SD mengikuti ujian  untuk mata pelajaran Bahasa Inggris dan Agama pada Jumat. Namun, sesaat sebelum ujian digelar, Merapi mengalami erupsi freatik. Kondisi itu membuat warga di kawasan lereng Merapi berlarian menyelamatkan diri menuju titik kumpul serta ada yang berusaha meninggalkan kampung mereka termasuk siswa kelas VI SD yang berhamburan keluar dari sekolah.

Ujian susulan akan digelar Senin (14/5/2018). Ujian susulan untuk ratusan siswa itu digelar pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan Agama.

“Untuk ujian dua mata pelajaran itu ditunda dan diikutkan pada ujian susulan Senin. Itu sudah sesuai dengan POS [prosedur operasional standar]. Untuk jadwal ujian hari ini [Sabtu, 12/5/2018] merupakan ujian hari terakhir dengan mata pelajaran muatan lokal,” jelas dia.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Klaten, Sunardi, menjelaskan tak ada dampak psikologis kepada anak-anak di wilayah Kemalang yang mengikuti ujian sekolah pascaerupsi freatik, Jumat pagi. “Anak-anak peserta ujian tidak ada masalah. Untuk ujian hari ini semuanya mengikuti dan lancar,” kata Sunardi.

Bupati Klaten, Sri Mulyani, meminta warga tetap waspada lantaran ancaman bencana  tak bisa diprediksi. “Tetap berhati-hati dan selalu berjaga-jaga. Namanya bencana itu tidak bisa diprediksi. Walau ada alat secanggih apa pun, tapi kejadian bencana itu kehendak Allah. Makanya, saya mengimbau warga senantiasa tenang, waspada, dan selalu berdoa,” kata Mulyani kepada wartawan saat ditemui seusai menggelar kegiatan sambang warga di Desa Temuwangi, Kecamatan Pedan, Sabtu.