Keren! Desain Pengembangan Lokananta Solo

Gedung Lokananta Solo. (Solopos/Dok)
13 Mei 2018 08:00 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Perusahaan rekaman pertama di Indonesia, Lokananta, siap mengembangkan sayap untuk kian menunjukkan eksistensinya ke publik. Namun demikian, ekspansi ini dijamin tak akan meninggalkan identitas perusahaan rekaman di Kota Solo  itu sebagai penanda sejarah di bidang musik.

Hal ini diungkapkan Ketua Tim Pengembangan Lokananta, Miftah C. Zubir, menyusul beredarnya blue print pengembangan Lokananta melalui media sosial beberapa hari terakhir. Rendering pengembangan Lokananta ini berupa pembangunan 4 buah tower dengan tinggi 31 tingkat. Dikutip dari bluprin.com, desain ini dikembangkan oleh Adhi Persada Properti melalui forum Skyscrapercity.com.

“Kami memang tengah menggarap konsep pengembangan aset Lokananta. Akan tetapi, kami tetap akan mempertahankan Lokananta sebagai kawasan music heritage, tidak ada yang mengarah ke properti seperti apartemen atau pun hotel,” tuturnya kepada Solopos.com, Senin (7/5/2018).

Tak dapat dimungkiri, perusahaan rekaman plat merah ini dituntut untuk bisa bertahan di era milenial dengan membuat pengembangan bisnis. Miftah yang semula menjabat sebagai Kepala Lokananta sejak 2015 lalu ini menjelaskan pihaknya berkomitmen mempertahankan akar sebagai perusahaan rekaman yang ikut berjasa membesarkan nama maestro keroncong Gesang Martohartono dan Waldjinah.

Di satu sisi, gedung Lokananta khususnya bangunan tengah tak akan diotak-atik. Ini termasuk tak akan menyenggol nilai sejarah dari kantor berupa bangunan kuno bergaya indis ini. Yakni, Lokananta sebagai gudang musik yang menyimpan lebih dari 40.000 vinil atau piringan hitam dari berbagai genre. Begitu pula dengan sederet aset berharganya, yakni mulai dari mesin pembuat piringan hitam, mesin pengganda kaset, alat pemutar vinil hingga satu partisi yang memajang lagu Indonesia Raya tiga stanza beserta sampul piringan hitamnya yang tersimpan baik di ruang museum di gedung utama.

Di ruang vinil misalnya, selain tersimpan rapi rekaman Indonesia Raya tiga stanza, ada pula album paling laris milik maestro keroncong, Waldjinah, berjudul Entit yang dirilis 1971, hingga album Remadja Bahana yang mempopulerkan lagu Burung Kakatua.

Sayang, pengelola baru menyimpan koleksi ini pada rak-rak besi tanpa adanya katalog, meski sebenarnya rekaman ini sudah mengalami digitalisasi. Koleksi ini ditempatkan di ruang vinil berpendingin yang diatur dengan suhu sekitar 16-20 derajat celcius tanpa pernah dimatikan.

“Pengembangannya nanti ada amphitheater, museum musik, master library, arsip musik, revitalisasi studio, hingga penambahan convention hall baik indoor maupun outdoor dan music shop. Akan tetapi, konsep ini masih terus digodok di tingkat direksi hingga nanti butuh persetujuan dari kementerian terkait,” tutur Miftah.

Di sisi lain, pihaknya membantah sudah ada kerja sama dengan anak perusahaan BUMN PT Adhi Karya, Adhi Persada Property, terkait pembuatan desain awal pengembangan Lokananta dengan tower. Meskipun begitu, ia tak menampik ada pembicaraan intens dengan BUMN lain, Jasamarga Properti, dalam sebulan terakhir. Anak perusahaan PT Jasa Marga inilah yang juga terlibat dalam revitalisasi bekas pabrik gula Colomadu yang kini berubah nama De Tjolomadoe.

“Kalau dengan Adhi Persada hanya kunjungan biasa, tak ada pembicaraan yang mengarah kepada kerja sama. Kami malah cukup intens dengan Jasamarga, namun belum sampai tahap kontrak serta bentuk kerja samanya seperti apa,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Soeracarta Heritage Society, Yunanto Sutyastomo, mengatakan banyak hal yang perlu dipertimbangkan terkait pengembangan Lokananta ini. Salah satu yang perlu digarisbawahi adalah jangan sampai tempat bersejarah ini hilang.

“Banyak seniman legendaris Tanah Air memulai kariernya dari sini. Di satu sisi, Lokananta memang perlu berbisnis untuk tetap hidup, tetapi di sisi lain akar mereka di dunia musik tak boleh dihilangkan. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengadaptasi perubahan zaman dengan tetap menjaga sejarah,” jelasnya.