Disbud Solo Tak Miliki Data Kondisi Terkini 51 BCB

Warga melihat kondisi bangunan benda cagar budaya (BCB) Pagoda di kompleks kampus II Institut Seni Indonesia (ISI), Mojosongo, Solo, Jumat (4/5 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
13 Mei 2018 01:00 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Dinas Kebudayaan (Disbud) Solo tengah menginventarisasi bangunan cagar budaya (BCB) di Kota Bengawan. Dari 71 bangunan di Solo yang telah ditetapkan sebagai BCB, baru 20 bangunan di antaranya yang sudah dimonitor.

Dengan demikian, Disbud belum mengetahui kondisi 51 BCB karena belum dikunjungi. Kabid Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Disbud Solo, Sungkono, mengatakan kegiatan monitoring dilakukan untuk mengetahui secara pasti kondisi terkini BCB yang berada di Solo. Kegiatan tersebut baru dilaksanakan mulai Maret lalu atau sejak dirinya diberi amanah menjadi Kabid Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.

“Kebetulan sekarang ini kami sedang melakukan monitoring BCB. Kami sedang mencari tahu seperti apa sih kondisinya sekarang? Ini kan perlu kami ketahui. Saat saya datang ke sini [Disbud], data atau laporan itu belum ada,” kata Sungkono saat dimintai konfirmasi Solopos.com terkait kondisi BCB di ruang kerjanya, Selasa (8/5/2018).

Sungkono mengakui proses inventarisasi BCB tersebut tidak termasuk dalam program kerja prioritas. Petugas Disbud baru terjun ke lapangan untuk memonitor kondisi BCB saat tidak ada kegiatan lain khususnya pada Kamis. Namun, dia berkomitmen proses inventarsiasi BCB bakal dikerjakan secepatnya sehingga bisa selesai dalam waktu beberapa bulan ke depan. Saat melakukan monitoring, Disbud mencatat beberapa data terkait BCB, seperti kondisi terkini, tanggal penetapan, sejarah, termasuk pemiliknya sekarang jika itu bukan tergolong kelompok tugu, gapura, monument, dan perabot jalan.

“Hasil pendataan ini akan kami laporkan ke Pak Wali. Kami minta petunjuk ke beliau. Misalnya, ada BCB yang rusak, arahnya Pak Wali seperti apa? Apa harus disediakan dana perawatan dan lain sebagainya?” jelas Sungkono.

Disinggung soal kondisi BCB yang telah dimonotor Disbud, Sungkono menyebut, ternyata banyak yang sudah rusak dan butuh penanganan. Dia mencontohkan, tugu batas kota peninggalan PB X di Kelurahan Semanggi yang kini rusak. Selain itu, ada juga Omah Lowo yang butuh perbaikan di sejumlah bagian. Sungkono menyampaikan Pemkot tak bisa langsung melakukan penanganan terhadap BCB yang kedapatan rusak tersebut karena harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan Balai Pelestarian cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah (Jateng). Pemkot juga mesti mempertimbangkan ketersediaan anggaran daerah.

“Teruntuk BCB yang dimiliki privat, kami saat ini hanya bisa mengimbau kepada para pemilik agar bisa merawat dan melindungi BCB. Walaupun punya dewe-dewe, alangkah baiknya BCB itu dijaga dengan baik,” jelas Sungkono.

Terkait fenomena jual beli BCB, Sungkono menegaskan, para pemilik BCB tersebut semestinya memberikan laporan ke Wali Kota Solo atau minimal Disbud dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Solo. Dia menyesalkan yang terjadi di lapangan ternyata jarang ada pemilik BCB yang melapor ke Disbud terkait aktivitas alih kepemilikan aset BCB. Dengan demikian, Disbud kesulitan dalam melakukan monitoring kondisi BCB. Saat melakukan monitoring belakangan ini, Dishub juga sempat mengalami kesulitan menemukan pemilik BCB untuk dimintai informasi.