Bocah 10 Tahun Sragen Harus Banting Tulang Bantu Ibu

Indah (kanan) membantu ibunya, Sumiyem, 47, melayani pembeli saat berjualan di Pasar Gading, Tanon, Sragen, Jumat (11/5 - 2018). (Solopos/Tri Rahayu)
14 Mei 2018 21:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Jarum jam menunjuk pukul 06.20 WIB. Sumiyem, 47, baru tiba di Pasar Gading, Tanon, Sragen. Pasar yang terletak di pinggir Jalan Gabungan-Sumberlawang itu hanya buka pada dua hari pasaran, Legi dan Wage.

Kebetulan hari itu, Jumat Legi (11/5/2018). Sumi menurunkan dagangan dari beronjong ke lincak bambu setinggi 30 cm.

Dagangan warga Dukuh Karang RT 002, Desa Gading, Tanon, Sragen, itu bermacam-macam. Ada bubur, nasi, lontong, gablok, puli atau gendar, bakwan goreng, tempe goreng, dan aneka sayuran, seperti pecel, tumpang, sambel goreng, botok, dan lainnya.

Gablok pecel tumpang paling laris karena harganya hanya Rp1.000/bungkus. Gablok merupakan makanan seperti lontong yang dibungkus daun pisang berbentuk seperti kukusan bersegi empat di bawahnya. Di luar hari pasaran, Sumiyem menjajakan dagangan berkeliling kampung pakai motor. Ia biasa keliling di tiga dukuh di sekitar kediamannya.

Nur Indah Mulyaningsih, 10, ikut membantu ibunya di pasar. Kebetulan Indah libur sekolah karena ada ujian sekolah untuk kelas VI di SDN 1 Gading. Bocah  itu membuka gablok yang diiris menjadi 4-6 bagian. Gablok irisan itu kemudian diambil Sumiyem dan diberi sambal pecel dan tumpang dan gudangan.

Indah baru duduk di Kelas V SD. Setiap hari, Indah harus bangun pukul 04.00 WIB untuk membantu ibunya. Ia sudah biasa menggoreng adonan bakwan dan tempe. Kadang juga mengiris beberapa sayuran untuk pecel.

“Semua itu karena kepepet [terpaksa]. Saya bangun pukul 02.00 WIB. Menyiapkan segalanya sendirian. Indah sangat membantu. Biasanya saya berangkat jualan keliling dari rumah pukul 06.15 WIB . Setelah saya berjualan keliling, Indah siap-siap sendiri untuk berangkat sekolah. Kalau sekolah kadang jalan kaki dan kadang naik sepeda angin. Sekolahnya cukup dekat, paling jaraknya 1 km,” ujar Sumiyem saat berbincang dengan Solopos.com di Pasar Gading, Jumat pagi.

Sumiyem tinggal di rumah bersama si bungsu, Indah, di rumah berdinding gedek dekat sawah. Ia sudah bercerai dengan suaminya. Dua anak perempuannya sudah menikah dan tinggal di Karanganyar.

Anak laki-lakinya, Agung, 17, ikut tetangga merantau ke Jakarta sebagai buruh bangunan sejak empat bulan lalu. “Agung itu dulu sebenarnya sekolah di MTsN Tanon tetapi baru sampai Kelas VIII tidak mau melanjutkan karena tak punya biaya. Hal itu terjadi sudah beberapa tahun lalu. Mestinya sekarang kalau sekolah sudah Kelas I SMA,” ujar Sumi.

Penghidupan keluarga Sumiyem hanya mengandalkan hasil jualan nasi keliling atau di Pasar Gading. Pekerjaan  itu ia lakoni selama lima tahun terakhir, yakni sejak Indah masih Kelas I SD. Penghasilan hariannya tidak menentu. Saat jualan keliling, Sumiyem menyiapkan dagangan senilai Rp150.000-Rp160.000 per hari dan bisa membawa pulang uang Rp200.000-Rp225.000 per hari.

Selama berjualan mulai pukul 06.15 WIB sampai 09.00 WIB, ia bisa menjual gablok sebanyak 40 bungkus. Porsi dagangannya ditambah ketika jualan di Pasar Gading pas hari pasaran.

“Kalau jualan di pasar, modalnya Rp250.000. Biasanya hasilnya bisa mencapai Rp325.000 per hari. Hari ini [kemarin], saya membawa gablok 90 bungkus. Biasanya kalau di pasar, saya bisa menjual 80-an bungkus gablok. Tapi jualannya agak lama, yakni sampai pukul 09.30 WIB,” tuturnya.

Sumiyem berencana berjualan pada sore hari saat Ramadan tiba. Ia memanfaatkan waktu berbuka untuk mencari berkah rezeki.