Warga Gandekan Solo Minta Pindah Setelah Lebaran

Pekerja menggunakan eskavator menancapkan pancang baja untuk memperkuat talut pada proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 1 (Kali Pepe hilir) di Gandekan, Jebres, Solo, Kamis (26/4 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
15 Mei 2018 04:00 WIB Irawan Sapto Adhi Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Warga Kelurahan Gandekan, Jebres, Solo yang terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo Paket 1 (Kali Pepe hilir) berharap diperbolehkan baru pindah ke Dusun Padasan, Desa Mranggen, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo setelan Lebaran 2018 nanti.

Ketua Pokja Relokasi Warga Gandekan, Sumarsih, menceritakan proses pembangunan rumah baru bagi warga Gandekan di Mranggen kini hampir rampung. Persentase tahapan pembangunan rumah bahkan sudah menyentuh angka 95%. Warga diprediksi sudah bisa menempati rumah baru dalam waktu dua pekan lagi. Namun, warga berharap Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) memperbolehkan mereka meninggali rumah di bantaran Kali Pepe lebih lama lagi. Warga ingin pindah setelah Lebaran 2018.

“Sekarang pembangunan rumah sudah 95% selesai. Harapan pengurus Pokja tentu warga bisa pindah secepatnya setelah rumah jadi. Tapi jika diperbolehkan memang warga ingin pindah setelah Lebaran,” kata Sumarsih saat diwawancarai Solopos.com, Jumat (11/5/2018).

Sumarsih menyampaikan warga Gandekan tetap mendirikan rumah di Mranggen sesuai kemampuan, yakni menempati lahan dengan luas kaveling 40 meter persegi. Warga tak bisa memenuhi permintaan atau syarat yang diberikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo untuk membangun rumah baru di tanah dengan luas kaveling minimal 60 meter persegi. Warga Gandekan kesulitan memenuhi permintaan Pemkab Sukoharjo itu karena dana bansos dari Pemkot Solo sudah terlanjur dipakai untuk membeli tanah di Mranggen seluas 40 meter persegi/rumah.

“Pemkab Sukoharjo baru mensyaratkan batas minimal luas kaveling 60 meter persegi setelah warga mengajukan dokumen site plan untuk kedua kalinya. Jika Pemkab Sukoharjo menyampaikan syarat itu dari awal, warga tentu bisa saja mengupayakan penyediaan lahan sesuai permintaan,” jelas Sumarsih.

Diwawancarai terpisah, warga Gandekan yang turut terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo Pekat 1, Agus, menyebut proses pembangunan rumah baru bagi warga Gandekan di Mranggen kini hampir selesai. Namun, ia berharap dan berencana mulai menempati rumah tersebut setelah Idul Fitri pada Juni mendatang.

Wakil Ketua Pokja Relokasi Warga Manahan, Samiran, menyebut sedikitnya ada 30 rumah yang tengah dibangun warga Gandekan terdampak proyek Penanganan Banjir Kota Solo di Mranggen. Rumah tersebut dibangun warga dengan bahan material yang dibeli dengan memanfaatkan dana bansos dari Pemkot Solo. Karena dananya terbatas, warga harus pintar-pintar membeli dan memilih bahan material. Sebagai contoh, warga lebih memilih menggunakan batako atau bukan batu bata merah untuk membangun tembok rumah. Hal itu bertujuan untuk meminimalisir pengeluaran.